Bank Tak Percaya Dokumen ‘Sakti’ Swissindo – FAJAR sulsel
News

Bank Tak Percaya Dokumen ‘Sakti’ Swissindo

* Kalau Macet, Perbankan Tetap Lelang Aset Debitur

PALOPO — Di luar anggota Swissindo boleh pamer dokumen ‘sakti’ pelepasan pembebasan utang. Perbankan di Kota Palopo tak terpengaruh dengan akta setebal seratus halaman tersebut. Pihak bank tetap melelang aset debitur yang macet. Berarti dokumen sakti Swissindo hanya sebuah pepesan kosong.

Bank tengah mendata aset debiturnya yang macet. Banyak-banyak yang macet kreditnya adalah nasabah yang ikut jadi anggota Swissindo. Mereka akan dilelang lantaran telah masuk pada tenggat waktu kesepakatan perbankan. ”Ada yang akan kami lelang dalam waktu dekat. Namun, mereka tahan dan janji akan membayar,” ujar Kepala Cabang Bank Mega Palopo, Bastian, kepada Palopo Pos, Kamis 27 Oktober 2016, kemarin.

Debitur Bank Mega yang bermasalah kini gabung Swissindo. Dengan harapan kreditnya tersebut dilunasi oleh Swissindo. ”Debitur harus paham bahwa ada prosedur perbankan untuk melakukan pelunasan kredit. Mustahil hanya dengan akta yang tidak bernilai apa-apa,” jelasnya.

Bank Mega Palopo tidak terpengaruh dengan gerakan penghapusan kredit yang dilakukan oleh UN Swissindo. Kendati demikian, pihaknya turut prihatin terhadap debitur yang tergabung di dalamnya.

Pengurus Swissindo Palopo di bawah kepemimpinan Sri Hartati, oknum PNS Palopo sudah jauh bergerak. Copian dokumen surat pelepasan pembebasan utang sudah dimasukkan ke bank milik pemerintah dan swasta. Dengan harapan bank mau menghapus kredit macet anggotanya.

Dokumen pelepasan pembebasan utang banyak-banyak terima BRI Palopo. Tersebar di beberapa unitnya. Kebanyakan debitur KUR.

Kepala MBM BRI Cabang Palopo, H Saleh Marannu, membernarkan hal itu. Berkas anggota UN Swissindo ini terdapat di beberapa unit mereka. Ada di Unit Balandai sebanyak 4 orang, Unit Kartini sebanyak 4 orang, Unit Pasar Sentral sebanyak 4 orang dan unit Salobulo sebanyak 2 orang. Rinciannya lihat grafis.

Namun, dikatakannya, surat yang dianggap sakti oleh UN Swissindo ini tidak berarti apa apa bagi bank. Dokumen sakti tersebut, kata dia, hanyala sebuah pepesan kosong. ”Mustahil bagi mereka menghapus kredit secara otomatis hanya bermodalkan lembaran-lembaran yang tidak memiliki arti apa apa,” jelasnya.

Hal senada juga dikemukakan Kepala BRI Unit Salobulo, Amar. Ia menilai gerakan yang dilakukan UN Swissindo hanya memperdaya nasabah. “Ada nasabah kami saat ditanya tidak tahu menahu soal itu. Katanya mereka hanya dimintai KTP dengan iming-iming akan dilunasi utang kreditnya yang tersisa,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, nasabah tersebut biasanya meminta rekening koran terlebih dahulu. Setelah itu menyusul berkas UN Swissindo. Pengirimannya pun dilakukan melalui kantor pos. “Sudah tidak ada lagi yang menyerahkan secara langsung. Kami memang sama sekali tidak meladeni,” lanjutnya.

Diungkapkan, rata-rata debitur yang minta diputihkan kredit mereka itu nilainya bermacam macam. Mulai Rp20 jutaan. Bahkan, beberapa nasabah sudah ada yang hampir lunas kredit mereka ikut bergabung.
Di Bank Danamon juga begitu. Ketua Swissindo mengaku punya kredit macet di bank tersebut senilai Rp350 juta. ”Itulah sebabnya kami masuk Swissindo. Harapannya kredit kita bisa dilunasi,” ucap dia.(ald/ary)
DEBITUR YANG BERMASALAH KREDITNYA DI BANK
BRI Unit Kartini
1. Annas
2. Hajar
3. Hasdia
4. Maidah

BRI Unit Sentral
1. Intan Sagita
2. Hasanuddin
3. Vandy Wijaya, SH
4. Rusna

BRI Unit Balandai
1. Muhammad Soni Palulunan
2. Harni
3. Salmawati
4. ST. Nurdaya

BRI Unit Salobulo
1. Faisal
2. Ekawaty

BANK MEGA CABANG PALOPO

1. Sisilia, SE
2. Maleha
3. Muhammad Aksan Nur
4. Hj Fitriana
5. Syahrum.

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top