Polisi Selidiki Nama Yanjen – FAJAR sulsel
News

Polisi Selidiki Nama Yanjen

PALOPO — Amplop coklat berisi sabu-sabu sudah diamankan polisi. Di nota pengiriman barang, identitas pengirim dan penerima jelas sekali. Nama pengirim Harun, P. Sedangkan penerima di nota namanya mirip dengan keturunan Tionghoa. Yanjen.

Amplop coklat besar naik di Maros. Kenek bus Manggala Trans mengambil dokumen tersebut dari salah satu perwakilannya di daerah itu. Ia tak menyangka isi amplop adalah sabu-sabu. Bus yang memuat barang tersebut bernomor polisi, DP7888. Tiba di Palopo, barang kiriman dicek ulang oleh pihak perwakilan.

Di luar amplop coklat terdapat nomor telepon orang yang mengirim. Saat dihubungi, suara perempuan yang menjawab. Ngakunya tinggal di Kendari. Sedang nama penerima barang tidak ditulis nomor teleponnya. ”Kami hanya hubungi nomor yang tertera yang dicantumkan si pengirim. Anehnya, perempuan dari balik teleponnya bilangnya salah sambung,” ucap Dewi, owner Manggala Trans, kepada Palopo Pos, Kamis 27 Oktober 2016, kemarin.

Dari nota pengiriman PO Manggala Trans tertulis barang yang dikirim 1 paket/amplop. Jenis barang yang dikirim tertulis dokumen. Biaya kirim sebesar Rp20 ribu. Tertera tandatangan pengurus dan pengirim. Staf PO Manggala Trans yang menerima paket pengiriman saat itu bernama Henrik.

Ia mengatakan, nama penerima yang tertera di nota pengiriman mirip nama orang China. Namanya Yanjen. ”Kalau dilihat dari namanya, mirip dengan keturunan Tionghoa,” katanya.
Lanjutnya, perwakilan Manggala Trans di Palopo tidak tahu amplop coklat ternyata isinya sabu. Mereka baru kaget saat anggota polisi menangkap Munirwan tidak jauh dari perwakilan.

Ia lalu menceritakan kedatangan Munirwan ke perwakilan saat itu. Kata Dewi, Munirwan datang boncengan bersama dengan temannya. Ia datang hendak mengambil amplop tersebut. Awalnya, pihak Manggala Trans tidak mau menyerahkan amplop tersebut. Karena namanya tidak sesuai nama penerima di nota pengiriman barang.

Sempat terjadi dialog yang panas di dalam perwakilan bus. ”Siapa nama pengirimnya, kalau barang ini punyanya Anda,” tanya staf Manggala Trans kala itu. Munirwan tidak bisa memberi jawaban yang pasti. Jawaban yang keluar dari mulutnya agar sedikit ngawur. ”Paman saya yang kirim dari Makassar untuk saya,” jawab Munirwan.

Jawabannya langsung disimpulkan ngawur oleh pihak perwakilan. Karena nama pengirim di nota barang adalah Harun. Pihak perwakilan lalu minta Munirwan menghubungi pamanya. Lagi-lagi Munirwan tidak bisa. ”Saya tidak punya nomor paman saya,” ujar Dewai menirukan ucapan Munirwan kala itu.

Pihak Manggala Trans tidak percaya begitu saja. Munirwan pun disarankan oleh Manggala Trans untuk membuka bersama-sama amplop tersebut, namun Munirwan menolak. Akhirnya pihak Mangga Trans melunak. Munirwan lalu diminta meninggalkan jaminan berupa KTP, STNK motor atau SIM. Munirwan gembira dan setuju. Ia menyerahkan SIM-nya sebagai jaminan.
Setelah mengambil amplop tersebut, Munirwan bergegas menuju motornya yang sudah ditunggu oleh temannya. Namun, langsung diringkus oleh polisi yang sudah mengintainya.
Kalimat Yanjen hanya bisa ditemukan dalam deteksi bahasa China. Yanjen dari bahasa China ke terjemahan Indonesia artinya ”kasus dan rahmat”.

Polisi Endus Jaringan Narkoba Munirwan

Pasca tertangkapnya Munirwan, Satuan Reserse Narkoba Polres Palopo langsung melakukan pengembangan. Hasilnya, serbuk bening yang diduga sabu diperoleh Munirwan dari seseorang di Makassar.

Kasat Narkoba Polres Palopo, AKP Maulud, menjelaskan bahwa Munirwan pemakai narkoba jenis sabu-sabu. Bukan pengedar. “Tapi, ia mengkonsumsi narkoba sudah lama. Sudah tahunan,” kata Maulud, kepada Palopo Pos, Kamis 27 Oktober 2016.

Menurut keterangan tersangka, narkoba dua saset diperoleh dari seseorang di Makassar. Sempat transit di jembatan timbang Maccompa, Maros. Selanjutnya dijemput untuk dibawa ke Palopo.

“Itu teknik tersangka untuk menghindari kecurigaan petugas maupun orang lain. Selain itu, alasan tersangka karena sabu-sabu di sana lebih murah jika dibandingkan dengan harga di Kota Palopo,” kata kasat.

Untuk hasil tes urine belum dikirim ke Labfor Polda Makassar, namun demikian tersangka sudah menyebut nama tempat mendapatkan narkoba. “Sudah menyebut nama, tapi kita belum percaya. Makanya kita terus selidiki kebenaran pengakuan tersangka,” katanya.

Soal melacak jaringan narkoba, Kasat mengaku sulit karena jaringan narkoba adalah jaringan terputus, apalagi yang bertransaksi melalui handhphone. Bahkan, selama ini yang ditangkap oleh polisi merupakan pengguna, pengedar, dan kurir.

Kendati sulit menangkap bandarnya, pihak kepolisian akan terus mengupayakan langkah dengan menggelar razia rutin di beberapa yang diduga sebagai sarang transaksi narkoba.

Kasat juga menegaskan bahwa penangkapan pelaku yang terjerumus narkoba perlu teknis tersendiri. Sebab, penemuan barang bukti saja tidak cukup, harus ada orang yang dengan sengaja memiliki, menyimpan, dan memakai barang haram tersebut. “Jadi temuan dua alat bukti itu yang bisa menjerat seseorang menjadi tersangka,” tegasnya.(mg3-him/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top