90% Istri di Bone Minta Cerai – FAJAR sulsel
News

90% Istri di Bone Minta Cerai

rev

Hingga Oktober, Pengadilan Agama TERIMA 1.041 Permohonan Cerai

PENULIS : BAHARUDDIN

WATAMPONE, RB—Kasus perceraian di daerah ini tergolong tinggi. Dalam tiga tahun terakhir angka perceraian menembus angka di atas 1.000 pasangan. Mereka adalah pasangan muda berusia 20-30 tahun. Berdasarkan data yang peroleh RADAR BONE dari Pengadilan Agama Klas IB Watampone, kasus perceraian tak pernah surut. Sepanjang Januari-Oktober 2016, permohonan cerai yang masuk ke PA mencapai 1.041 kasus.

Angka ini tak jauh berbeda data dua tahun sebelumnya. Tahun 2015, perkara cerai yang ditangani Pengadilan Agama sebanyak 1.371 kasus. Demikian pula pada 2014 yang juga menembus di atas angka 1.000 kasus.
Terkhusus untuk tahun ini, dari 1.041 kasus yang masuk, sebanyak 900 lebih diantaranya telah diputus. Sisanya, masih menjalani proses mediasi.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Klas IB Watampone, Jamaluddin mengatakan permohonan cerai ini dimotori kaum wanita atau istri. “Karena dari sekian jumlah kasus tersebut, 90 persen perempuan yang mengajukan permohonan cerai,” kata Jamaluddin saat ditemui RADAR BONE Jumat 28 Oktober lalu.

Kemudian dari segi usia, lanjut Jamaluddin pemohon cerai didominasi pasangan muda. Wanita yang mengajukan gugat cerai rata-rata berusia 20 sampai 30 tahun. Adapun mengenai, penyebab perceraian, sambung Jamaluddin umumnya disebabkan karena persoalan tanggungjawab. Suami yang sudah pergi merantau tak memberi nafkah kepada sang istri sehingga mengajukan permohonan gugat cerai.

Selain itu, ada juga karena faktor kehadiran orangketiga atau perselingkuhan. Disusul faktor perselisihan. Terkait faktor perselingkuhan tersebut, kehadiran media sosial (Medsos) ikut andil di dalamnya.
“Tapi angkanya tidak seberapa untuk faktor seperti itu (Perselingkuhan dan perselisihan). Karena dari sekian perempuan yang mengajukan gugatan cerai mayoritas penyebab-nya adalah persoalan tanggung jawab,” jelasnya.

Lebih jauh Jamaluddin me-ngatakan, sebelum diputus, setiap pasangan yang ingin bercerai diberi waktu untuk mediasi dengan harapan bisa bersatu kembali. Namun demikian, kata Jamaluddin hanya sebagian kecil saja yang berhasil.
Untuk menekan angka perceraian ini, Jamaluddin mengharapkan pemberian penyuluhan terhadap calon pengantin lebih ditingkatkan.

“Penyuluh dari Kementerian Agama perlu meningkatkan kegiatan penyuluhan kepada pasangan calon pengantin, supaya setelah berkeluarga bisa hidup bahagia dengan keluarganya,” kunci dia.

*ASKAR SYAM

RADAR BONE

loading...
Click to comment
To Top