Massempe’, Duel Penentu Pemimpin Pasukan Kerajaan – FAJAR sulsel
News

Massempe’, Duel Penentu Pemimpin Pasukan Kerajaan

1-massempe-adalah-satu-permainan-tradisi-yang-masih-dipertahankan-warga-desa-cumpiga-kecamatan-awangpone-hingga-kini

Dibalik Perayaan Pesta Rakyat di Desa Cumpiga, Awangpone

Bentuk kesyukuran warga Desa Cumpiga Kecamatan Awangpone atas hasil panen padi. Mereka menggelar pesta rakyat yang di dalamnya berisi beberapa permai-nan tradisi. Salah satunya adalah Massempe’.

Usman Sommeng, Awangpone

Panasnya terik matahari tak menghalangi antusias warga untuk menyaksikan tradisi saling tendang atau adu ketangkasan yang dikenal dengan permainan ‘Massempe’. Tradisi ini dilaksanakan warga Desa Cumpiga setiap dua tahun sekali. Setidaknya setelah masa panen padi.

Massempe’ merupakan pertarungan bebas antara dua pria dengan mengandalkan kekuatan kaki untuk menjatuhkan lawan. Dalam permainan ini, peserta tidak diperbolehkan menggunakan tangan untuk menyerang, ke-cuali menangkis serangan lawan tidak masalah.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Jumadi mengungkapkan, tradisi tersebut sudah dilaksanakan sejak raja pertama Cumpiga, La Makkasau Petta Cumpiga hingga raja terak-hir La Sere We Patuncui Petta Besse Cumpiga.
“Tradisi ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali sebagai tanda syukur atas hasil panen yang diterima petani,” kata pria yang menjabat Kadus Cumpiga tersebut kepada RADAR BONE, Minggu, 30 Oktober lalu.

Sekretaris Desa Cumpiga, Andi Mustafa menambahkan awal pesta rakyat yang helat warga Cumpiga. Menurut dia, pada zaman dahulu, setelah petani memanen padi di sawah, warga mengangkut hasil panen dari sawah ke tempat penyimpanan padi tidak menggunakan kuda, apalagi kendaraan seperti sekarang ini. Melainkan warga hanya mengoper padi tersebut dari tangan ke tangan. Jadi, warga berdiri berjejer dari sawah hingga ke tempat penyimpanan padi. Aktivitas memindahkan padi dari tangan ke tangan itu disebut ‘Siponcing-poncing’

“Waktu itu, orang berbaris dari sawah di Lappo Ase (Sekarang Bandara Mappalo Ulaweng) hingga ke tempat penyimpanan hasil panen. Tempat tadi dimulainya ritual. Jadi, Ase Ma’besse (Padi sudah terikat) tadi tidak dipikul warga tapi Siponcingngi (Dioper). Setelah terkumpul, Ase Ma’besse tersebut ditumbuk dengan menggunakan Palungeng, alat yang sekarang dipakai masyarakat untuk Mappaddekko,” cerita Mustafa.

Nah, pada malam harinya, sambung Mustafa, masyarakat pun menggelar pesta hiburan berupa Maggendrang dan Mappaddendang (Mappaddekko) untuk menghibur masyarakat yang lelah akibat seharian bekerja di sawah.
“Dulu itu, Sere Bissu menari di atas Palungeng, namun sekarang tidak dilaksanakan karena sudah susah ditemukan warga yang mau,” kisahnya.

Setelah Mappaddendang, kata Mustafa warga pun beramai-ramai mengunjungi Bubung Parani (Sumur berani) untuk sekadar mengambil air atau membasuh muka seperti tradisi orang terdahulu. “Kisahnya, prajurit yang ingin berperang, mandi dulu di sumur tersebut,” beber pria ramah itu.

Konon, kata Mustafa, Massempe dijadikan Petta Cumpiga sebagai ajang seleksi prajurit yang akan memimpin pasukan kerajaan. “Siapa yang kuat, akan diangkat menjadi prajurit sekaligus menjadi pemimpin pasukan kerajaan oleh Petta Cumpiga,” tutupnya.

*

RADAR BONE

loading...
Click to comment
To Top