Cerita Budi dari Tengah Hutan Gunung Baliase Turis Sempat Panik dan Stres – FAJAR sulsel
News

Cerita Budi dari Tengah Hutan Gunung Baliase Turis Sempat Panik dan Stres

DI TENGAH kondisi cuaca ekstrim, Geral D Jebinger dan Budi terus mengayunkan langkah kakinya. Menembusnya lebatnya hutan di gunung Baliase. Lima hari lamanya berada di gunung yang dikenal angker tersebut. Pada hitungan hari ke-6, mereka baru dikatakan aman karena berhasil tembus jalur yang menghubungkan Desa Tamboke. Mereka sebenarnya tidak tersesat…

LIPUTAN: Junaidi Rasyid

KAMIS 27 Oktober 2016, turis asal Austria bersama dengan pemandunya, Budi, mulai melakukan petualangan ke gunung Baliase. Mobil yang mereka tumpangi dari Tana Toraja diparkir di Desa Tamboke. Di Pos 5, keduanya bertemu dengan rombongan Agil, pecinta alam dari Kota Masamba. Mereka saling menyapa.

Bekal yang dibawa Geral dan Budi malah sebagian dibagikan kepada tujuh pemuda pecinta alam tersebut. Sudah itu, Agil dan temannya jalan pulang ke arah Desa Tamboke. Sedangkan Geral dan Budi melanjutkan pendakiannya ke puncak gunung. Dari Pos 5 ke puncak gunung, ditempuh 1 hari jalan kaki.

Budi sepertinya guide yang sudah berpengalaman membawa turis berpetualangan di hutan. Gunung Baliase seperti tidak asing baginya. Sebelum jadi guide dan menetap di Tana Toraja, ia memang pernah gabung di organisasi pecinta alam. Sejak mahasiswa.

Ditemui di sela-sela peristirahatannya di Hotel Bukit Indah, Masamba, Budi banyak bercerita pengalaman pahitnya di tengah lebatnya hutan gunung Baliase. Ia terdiam sesaat. Diarahkannya pandangannya terhadap Geral. Tidak lama kemudian, Budi membuka suara. Cerita singkatpun dimulai. Walau singkat, namun penuturan Budi ini dianggap penting dan menarik.

”Sebenarnya kami tidak tersesat,” kata Budi mengawali ceritanya.
Ia melanjutkan, setelah menikmati panorama alam di atas puncak gunung Baliase, ia bersama bule dan bule turun kembali. Kelihatan kalau keduanya memang komitmen dengan kesepakatannya. Mereka tidak kembali ke jalur semula.

Desa Tamboke. Melainkan, mencoba memotong kompas dengan membuka jalur baru. Jalur baru yang dimaksud menuju Desa Baliase, Kecamatan Masamba.
Sayangnya, tidak ada tanda-tanda sebagai petunjuk jalan mencapai perkampungan di Desa Baliase.

Saat itu, keduanya sudah berada di jalur baru tadi. Kalau jalan terus, takutnya makin jauh tersesat. Dalam kondisi demikian, Budi memutuskan untuk memotong kompas lagi. Berupaya kembali ke jalur semula. Desa Tamboke.

Di jalur ini, Budi yakin berada di titik yang sudah tepat. Bisa pulang selamat. Karena, memang dia menguasai areal tersebut. Masalah kemudian muncul dalam perjalanan tersebut, Geral mengalami ganguan kesehatan.

Ia muntah-muntah. Kadang tidak bisa jalan. Ia jatuh sakit. Berkat ramuan obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan, kesehatan sang bule pulih kembali. Mereka kembali jalan menyusuri jalan setapak menuju Tamboke.

Budi mengatakan bahwa sebenarnya mereka tidak tersesat, apalgi dibilang sampai hilang. Hanya saja, Geral saat peralatan masih lengkap, baterai ponsel masih terisi dan terjangkau oleh signal, ia minta supaya menghubungi keluarganya. Melalui SMS. Ia juga minta supaya menghubungi pihak kedutaan besar Austria. Ia saat itu memang sudah jatuh sakit, panik, dan stres. ”Begitulah cerita singkatnya,” ucap Budi.

Kemarin, turis asal Austria dan Budi sudah check out dari hotelnya dan Masamba. Menurut pihak hotel, mereka sudah keluar dan kembali ke Tana Toraja.(*/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top