Keberadaan Bule di Bontobahari, Resahka Pengusaha Pinisi Lokal – FAJAR sulsel
News

Keberadaan Bule di Bontobahari, Resahka Pengusaha Pinisi Lokal

FB_IMG_1478566846484

fb_img_1478566846484

*Hilangkan Kearifan Lokal Pembuatan Pinisi
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID — Banyaknya warga asing alias bule yang masuk di wilayah Bulukumba, mulai diresahkan sejumlah pengusaha lokal pembuat kapal pinisi. Keberadaan bule dianggap akan mematikan para pengusaha kapal.
H Erwin, warga Bontobahari yang juga pengusaha kapal mengatakan, pada dasarnya pihaknya mendukung jika banyak investor asing melakukan investasi di Bulukumba, termasuk investasi di bidang pembuatan kapal.
Hanya saja yang ia sayangkan, selama ini sejumlah bule tidak lagi membeli kapal saja melainkan telah membuat galangan sendiri dengan mempekerjakan warga lokal untuk membuat kapal.
“Harusnya kan dibatasi, mereka punya modal besar dan kadang banting harga, yah tentu kita pengusaha lokal resah dengan ini. Ini bule sendiri yang turun beli alat-alat kapal,” ujarnya
Yang jadi persoalan, lanjut H Erwin status kewarganegaraan sejumlah bule harus diperjelas Pemkab Bulukumba, apakah keberadaan warga asing tersebut menggunakan visa kunjungan, visa wisata ataukah tinggal tetap. Selain itu, persoalan lain adalah, pembuatan kapal oleh asing terbilang cukup tertutup dari warga sekitar, pasalnya untuk masuk dalam galangan pembuatan kapal hanya orang-orang tertentu saja.
“Apalagi kami menilai proses pembuatan perahu pinisi itu tidak melihat lagi aspek kearifan lokal, kan ada upacara adat sebelum dibuat itu kapal dan setelah di lepas ke laut. Saya kira pemerintah, harus peka terhadap ini. Kita tidak larang bule masuk dan berinvetasi, tapi kami mau ada aturan yang membatasi, kami khawatir ada eksploitasi nantinya,”pungkasnya.
Terpisah, Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto mengatakan, tidak ada larangan bagi bule untuk melakukan investasi pembuatan perahu pinisi. Hanya saja pihaknya mendorong ada inisiasi tersendiri dari para pengusaha kapal untuk membentuk asosiasi dan membuat aturan agar proses pembuatan perahu pinisi tetap mengikuti kearifan lokal.
“Kami sudah meminta dinas sosial dan tenaga kerja untuk memantau keberadaan orang asing yang ada di Bulukumba. Apakah visa mereka adalah visa kerja atau visa turis. Kalau visa turis artinya mereka tidak diperkenankan untuk melakukan aktifitas pekerjaan. Harusnya juga asosiasi bikin aturan dalam kontrak pembuatan perahunya,”katanya.

RADAR SELATAN

loading...
Click to comment
To Top