Hasil Audit Inspektorat Sudah Diserahkan ke Penyidik – FAJAR sulsel
News

Hasil Audit Inspektorat Sudah Diserahkan ke Penyidik

download-2

download

Kasus Perusda Bone

PENULIS : HERMAN KURNIAWAN

WATAMPONE, RB—Penyidik Polres Bone telah menerima hasil audit dari insfektorat daerah (Irda) terkait kerugian negara yang timbul dari dugaan penyalahgunaan dana penyertaan modal (DPM) yang diterima perusda dari Pemerintah Kabupaten Bone.
Diketahui, dalam APBD 2015 lalu, perusda menerima suntikan dana dari pemkab sebesar Rp500 juta. Namun dalam perjalanannya usaha yang dikelola perusda berupa distribusi BBM jenis solar non subsidi tak jelas perkemba-ngannya. Parahnya, di internal perusda malah meributkan pemasukan dari usaha distribusi BBM tersebut.

Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Hardjoko yang dikonfirmasi RADAR BONE, Selasa 8 November kemarin menyatakan belum melihat langsung hasil audit tersebut. “Saya belum bisa pastikan karena sementara di Makassar. Namun ketika sudah ada info dari pihak insfektorat daerah berarti sudah ada,” katanya.

Sementara itu, informasi yang diperoleh dari Inspektorat Daerah (Irda), bahwa hasil audit perusda sudah diserahkan ke pihak kepolisian. “Hasil auditnya sudah diserahkan ke poliis. Tapi mengenai apa hasilnya, saya tidak tahu. Silahkan konfirmasi ke bapak Inspektur atau bupati,” tutur seorang pejabat di lingkungan Inspektorat Daerah, Senin 7 November lalu.

Sebelumnya, sejumlah pihak sudah dimintai keterangan sebagai saksi terkait dugaan penyalahgunaan DPM perusda itu. Selain, penyidik telah mengambil kete-rangan dua pejabat Perusda Bone, yakni Direktur Administrasi dan Keuangan Perusda Andi Rahmawati Rahman dan Bendahara Umum Perusda, Hj Irma. Polisi juga telah mengambil kete-rangan Ketua Badan Pengawas Perusda, Drs A Abu Bakar MM yang juga Kepala Bappeda Bone pada Agustus lalu.

Pemeriksaan terhadap Dirut Perusda, Rivai Saguni ditunda karena menunggu hasil audit Inspektorat Daerah.
Berdasarkan laporan keua-ngan pemerintah daerah tahun 2013, tercatat sedikitnya lima unit usaha yang pernah dikelola perusda. Namun sejauh ini usaha-usaha tersebut berguguran. Jenis usaha yang pernah dijalankan perusda, mulai dari usaha perikanan pada tahun 2005.

Untuk mendukung usaha perikanan tersebut, perusda membeli sebuah kapal mesin nelayan seharga Rp175 juta. Usaha per-ikanan ini dikelola unit usaha bernama ‘Perusda Bina Bahari’.
Namun hingga kini kapal dimaksud tak jelas kontribusinya, termasuk keberadaannya. Tak berhasil dengan usaha perikanan, perusda pun terjun ke dunia usaha perdagangan umum. Pada usaha ini, perusda menjadi penyuplai material bangunan dan bahan kebutuhan pokok.

Namun lagi-lagi usaha ini gulung tikar dengan dalih sulit bersaing dengan pengusaha yang telah mapan. Setelah dua usaha tersebut gagal, perusda pun melirik usaha penjualan ATK, fotocopy dan percetakan.
Namun usaha ini pun bernasib sama. Usaha ini tak aktif lagi setelah kantor PT Latenritatta direhab dan kini dijadikan kantor perusda yang baru setelah kantor lama dipersewakan ke salah satu mini market bernama Alfa Midi. Melalui uang jasa gedung itulah, perusda membangun kantor baru yang kini ditempati PT Latenritatta yang bergerak di bidang usaha travel dan penjualan tiket.

Belakangan, tepatnya tahun 2015, Pemkab Bone kembali menggulirkan DPM Rp500. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan, yakni distribusi solar non subsidi bekerjasama PT Khatulistiwa Raya Energi, namun usaha ini terkesan mandek. Tak hanya itu, di internal perusda pun mulai ribut soal pemasukan dari proyek kerjasama itu.

*ASKAR SYAM

RADAR BONE

loading...
Click to comment
To Top