Dahlan Iskan Sosok Profesional yang Sederhana – FAJAR sulsel
News

Dahlan Iskan Sosok Profesional yang Sederhana

PALOPO— Dukungan terus mengalir ke mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan (DI). Kasus yang melilitnya, mendapat simpati luar biasa. Kali ini, datang dari Ketua Umum IKA STAIN/IAIN Palopo, DR Abbas Langaji.

Menurut Abbas Langaji, sosok DI, merupakan sosok yang profesional yang sederhana. Berikut penuturan Abbas Langaji soal sosok DI.
Mendengar nama Dahlan Iskan, maka yang tergambar di benak saya adalah sosok profesional yang sederhana, pekerja keras, bersih, dan bekerja tanpa pamrih. Juga, kecintaan yang tinggi pada profesi.

Setidaknya, tujuh kali saya menghadiri forum dimana beliau menjadi salah seorang narasumber; 2 kali sebelum menjadi menteri BUMN, 5 kali ketika beliau sudah menjabat menteri BUMN, bahkan di tahun 2013, di Kampus Pascasarjana UIN Malang, saya sempat makan nasi kotak bersama dalam satu meja yang sama dengan beliau, yang saat itu masih menjabat menteri BUMN.

Yang “unik”, untuk tidak menyebutnya aneh, ketika akan minum. Beliau menarik botol kecil dari balik kemeja putihnya. Ketika akan meninggalkan ruangan tersebut, dia sempatkan mengisi kembali botol kecilnya dari gallon pada dispenser yang ada di ruang makan tersebut, dan memasukkanya kembali botol kecil tersebut di balik baju putihnya.

Beliau beranjak meninggalkan forum mengendarai mobil kijang innova, tanpa pengawalan polisi tanpa raungan kendaraan voorijder.

Belajar dari perjalanan hidup Dahlan Iskan, bagi kebanyakan orang, hidup dalam kekurangan (baca: kemiskinan) merupakan suatu kondisi yang sangat berat, karena setiap keinginan dapat segera diwujudkan. Bagi mereka yang bermental lemah kemiskinan merupakan sebuah ironi kehidupan.

Sebuah takdir yang menyiksa. Kemiskinan juga kerap dijadikan alasan untuk ketidaksuksesan, namun hal tersebut tidak berlaku seorang Dahlan Iskan. Dengan mental baja, kondisi kemiskinan tersebut dapat menjadikan cambuk untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Dahlan Iskan mempunyai keyakinan bahwa kemiskinan sejatinya adalah jalan menujudan kesuksesan.

Saya masih mencatat dalam diary saya, tentang kunci sukses Dahlan Iskan dalam membangun jaringan bisnis medianya, yaitu menggunakan filosofi air: mengalir. Prinsip seperti air inilah yang dipegang oleh Dahlan Iskan sejak dulu hingga sekarang. Dalam filosofi air, semakin deras air tersebut maka semakin bagus.

Dahlan Iskan mengaku tidak mempunyai cita-cita. Karena, menurutnya, dengan adanya cita-cita maka seseorang akan mempertaruhkan sesuatu untuk mencapainya. Ada sesuatu yang harus dikorbankan. Sementara bagi orang yang tidak mempunyai cita-cita maka hidupnya akan semakin fleksibel.

Saya sama sekali tidak bermaksud membandingkan diri saya dengan Dahlan Iskan, tapi saya ingin menyebut “sisa” cerita beliau di meja makan di Malang tahun 2013. Ternyata sejak kecil kami punya impian yang sama: ingin memiliki sepeda sendiri. Mungkin Dahlan Iskan dengan jaringan bisnis medianya yang menggurita sudah sempat mewujudkannya, sementara saya sendiri hingga saat ini belum sempat.

Manajemen dan gaya kepemimpinannya yang tidak mau terkendala oleh proses dan sistem yang “dibuat rumit” terkadang membuat beliau terbiasa melakukan “crossing” alias jalan pintas dalam pengambilan keputusan. Mungkin hal itu pula yang menjadikan tersandung oleh perkara hukum yang saat ini membelitnya.
Ntahlah.(ich/uce)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top