Siap Bertarung di Pilwalkot – FAJAR sulsel
News

Siap Bertarung di Pilwalkot

* Dahri: Jika Diamanahi Jabatan Politis, Saya Siap

PALOPO— Dukungan yang mengalir dari berbagai lapisan masyarakat untuk maju pada pemilihan wali kota Palopo, membuat Dahri Suli tersanjung.

Ia pun menyatakan siap bertarung pada pesta demokrasi lima tahunan yang akan digelar 2018 mendatang. ”Jika diminta untuk menerima amanah jabatan politik, saya siap saja. Kita tidak boleh menolak,” katanya.

Hanya saja, katanya, harus melalui tahap atau kajian lebih mendalam. Itu harus dilakukan karena tidak hanya bentuk dukungan yang dibutuhkan tapi juga perhitungan yang matang perlu dipertimbangkan.

Memang wajar kalau Dahri Suli dielus berbagai lapisan masyarakat untuk maju pada Pilwalkot mendatang. Karena, dari perjalanan kariernya, tidak dilewati secara instan. Ia ditempa sampai menjadi seperti saat ini. Berbagai proses dilewati tidak dengan gampang, tapi mengeluarkan peluh yang tidak sedikit.

Perjalanan kariernya mulai terlihat saat menjadi mahasiswa. Ia sudah mengecap manis pahitnya kehidupan.Berbagai jabatan strategis diembannya saat menjadi mahasiswa seperti menjadi Wakil Ketua IPMIl. Juga, ia pernah menjadi Ketua KNPI. Kini, ia menjabat Ketua DPC PKB.

Yang membuat dirinya terlecut bertarung di Pilwalkot, karena dukungan rumpun keluarga utamanya keluarga besar Bastem dan NU.

”Saya ini adalah seorang politisi. Jika diminta untuk menerima amanah jabatan politik, saya siap saja, kita tidak boleh menolak,” katanya lagi.

Saat ini, ia menakhodai PKB. Sebagai ‘pilot’ di partai ini, berbagai prestasi ditorehkan.
Yakni, keberhasilan PKB Palopo yang mampu meraih tiga kursi di gedung parlemen Kota Palopo. Ini, tentunya tidak lepas dengan sosok Dahri Suli.

Selama menjabat sebagai ketua DPC, PKB yang dulunya tidak mampu berbicara banyak meraih kursi, pelan tapi pasti menunjukkan taringnya.

Untuk lebih mengenal siapa Dahri Suli, wartawan Palopo Pos melakukan wawancara dengan Dahri di kediamannya, disela-sela mempersiapkan Muscab, Selasa malam, 8 November 2016.

Dikatakannya, sejak remaja, dirinya sudah tertarik dengan dunia politik. Hal tersebut terlihat ketika dirinya masih SMA. Dirinya sudah mengikuti pendidikan politik dari Golkar. Bisa dikata pendidikan pemula, mengenal negara.

”Di situ kita berdiskusi dengan senior mengenai yang namanya negara dan banyak hal. Sehingga, ketika lepas SMA, melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, bergabung dengan banyak organisasi kampus, ikut juga sebagai pengurus,” sebutnya.

Sebelum masuk di partai politik, tahun 1997, dirinya kembali ke kampung halaman, setelah menimba ilmu di Universitas Muslim Indonesia (UMI) sekitar empat tahun dan sekaligus menjadi aktivis kampus termasuk di IPMIL.

Setahun kembali di Kota Palopo, menikah dengan seorang gadis yang sekarang menjadi pendamping hidupnya, Ibu Idiawati, S.Ag, tahun 1998.

Di sin,i perjuangan hidup begitu berat. Bayangkan, dari seseorang yang tidak punya pekerjaan, tapi ingin menghalalkan diri. Karena, sudah punya tanggung jawab. Jadi, pikirannya waktu itu yang penting bisa kerja, hasilnya halal, tidak bergantung sama orang tua. Jadi, waktu itu, saya ikut-ikut sama keluarga sebagai kondektur mobil angkut ke Bastem.

”Saya kan orang Bastem. Bapak dan mama itu lahir di Bastem. Ada keluarga ajak ikut-ikut jadi kondektur. Yah, saya ikut saja, yang penting halal waktu itu, bisa hidupi anak orang,” ungkapnya.

Tapi jangan dibilang, 18 tahun yang lalu itu jalan Bastem luar biasa lumpurnya. Kalau mobil ‘tenggelam’ saya masuk di kolong ma’dongkrak mobil, bercampur dengan lumpur. Itu semua karena tanggung jawab. Kisah hidup ini, kalau tidak salah berlangsung hingga satu tahun.

Selepas jadi kernet, saya berganti-ganti pekerjaan. Berbagai usaha, karena jiwanya di politik. Di tahun 2003 mulai masuk dunia politik. Waktu itu, bersama kawan-kawan alumni IPMIL bergabung di PDK, yang didirikan Prof DR Ryas Rasyid. Dan ternyata, tidak lolos pencalegan tahun 2004 kala itu.

Di tahun 2008, ia bergabung dengan PKB. ”Di sini saya merasa inilah rumah saya. Iya itu dia. Karena, saya ini, berdarah NU. Pikiran-pikiran yang mengalir dalam diri saya berasal dari NU. Ini diwariskan oleh Ayah saya, yang memang merupakan orang NU, beliau mantan Bendahara NU LUWU,” katanya.

Karena PKB ini dilahirkan dan dibesarkn oleh NU, maka Ayah meminta ikut bergabung dan mebesarkan Partai ini.

Syukurnya, pada pencalegan tahun 2009, dirinya terpilih dan satu-satunya dari PKB Kota Palopo sebagai anggota DPRD.

Tahun 2011 lewat Musyawarah Luar Biasa, 9 PAC meminta dirinya untuk memimpin PKB Kota Palopo. ”Hingga hari ini dan saya bersyukur dalam kepemimpinan ini, yang dahulunya meloloskan 1 kursi saja, di tahun 2014, kami mampu merebut tiga kursi. Mudah-mudahan di tahun 2019 ini bisa meraih kursi yang lebih banyak lagi,” harapnya. (ich/uce/t)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top