Lapangan Pancasila Jadi Wisata Kuliner Siomay – FAJAR sulsel
News

Lapangan Pancasila Jadi Wisata Kuliner Siomay

LAPANGAN Pancasila yang dikenal sebagai tempat olahraga, ternyata memiliki fungsi ganda. Selain tempat berolahraga, Lapangan Pancasila juga difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para pedagang keliling. Terlihat di sekililing lapangan, terdapat jejeran pedagang siomay. Tidak salah jika Lapangan Pancasila diumpamakan sebagai wisata kuliner siomay.

LAPORAN: Muh Haidir

LAPANGAN Pancasila yang berada di tempat strategis, merupakan alasan utama para pedagang siomay berkumnpul. Tidak heran para pedagang siomay meraih omzet banyak. Setiap harinya, para pedagang selalu ramai didatangi pembeli.

Lokasi strategis, dikelilingi kantor pemerintahan, kantor swasta, dan sekolah dari tingkat SD sampai perguruan tinggi.

Dari pagi pukul 10:00 Wita sampai tengah malam jam 12, para pedagang siomay menghiasi di sekililing lapangan Pancasila. Bermodalkan kendaraan motor dan becak, para pedagang siomay siap memanjakan pembelinya dengan siomay. Biar tambah memanjakan lidah, dilengkapi dengan kecap, lombok, dan bumbu kacang.

Dari anak-anak sampai orang tua, dari anak sekolah sampai pegawai menjadi penikmat setia siomay. Semua kalangan menjadi penikmat siomay. Harganya yang murah seakan menjadi alasan untuk mengisi perut yang keroncongan.

Jenis siomay bulat kecil dijual Rp1000 per 3 butir, siomay bulat besar dijual Rp1000 per butir, tahu potongan kecil dijual Rp1000 per 3 potong dan tahu potongan besar dijual Rp1000 per potong. Bagaimana harga yang sangat murah bukan. Jadi rasanya yang enak, murah dan mudah ditemukan menjadikan siomay menjadi jajanan setiap hari di Lapangan Pancasila.

Salah satu pedangang siomay yang mangkal di Lapangan Pancasila adalah Jufri (50). Setiap hari mangkal menjajakan dagangan siomay di atas gerobak becaknya. Letaknya di bagian barat Lapangan Pancasila. Ia mengatakan, menjual dari jam 10:00 pagi sampai jam 18:00 Wita sore mendapatkan omzet Rp500-Rp700 ribu. “Tidak pernah ka menjual malam saya menjual sampai malam karena sore habis mi siomayku,” jelasnya, Kamis 17 November 2016.

Ia mengaku perantau dari Kota Makassar sejak tahun 2010. Sudah 6 tahun di Kota Palopo. Pertama kali tinggal di Palopo bekerja sebagai buruh bangunan selama 2 tahun. Awalnya, menjadi pedagang siomay.

Pada saat itu, ada teman dari Makassar juga berdagang siomay pake motor parkir di tempat kerja tepatnya di Jalan Kelapa. ”Hampir setiap sore makan siomay, kalau ada uang dan kalau tidak ada uang hutang dulu,” katanya.

Menjelang tuntasnya pekerjaan ruko, ia bertanya sama teman yang menjual namanya Uddi. Dengan Bahasa Makassar, ”enak juga jualan somay, berapa kudapat pembeli setiap hari,” katanya seperti itu kepada temannya.

Panjang cerita pada saat itu, masuk akal dalam pikiran Jufrianto. Dan akhirnya ia berhenti menjadi buruh bangunan dan mencoba memberanikan diri menjadi pedagang siomay. Hanya saja, pada saat itu ia memulai dengan gerobak becak.

Bermodal dari hasil kerjanya sebagai buruh bangunan Rp500 ribu, memulai usahanya. Dengan membeli dan memodifikasi becak dengan modal Rp300 ribu dan modal bahan baku siomay Rp200 ribu. Terhitung dari tahun 2014 sampai sekarang masih berjualan siomay. ”Lumayan untungnya, tidak terlalu capek daripada jadi buruh bangunan,” ujar suami dari Wana ini.

Selama 1 tahun, Jufrianto menjual siomay keliling Kota Palopo. Keliling, terkadang rugi karena tidak laku habis. Melihat teman-teman pedagang siomay banyak mangkal di Lapangan Pancasila, mencoba untuk ikut-ikutan mangkal juga. “Lebih banyak pembeli, mangkal di Lapangan Pancasila daripada kelilingki, habis terus tidak pernah mi tinggal. Jual siomay keliling hanya dapat Rp200 ribu tapi mangkal di Pancasila Rp500-700 ribu,” ujarnya.

Tambahnya, sekarang ini hasil jualannya, untuk membiayai pendidikan ke tiga anaknya yang masih duduk di SMP dan SMA,” tutupnya.(mg3/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top