Industri Lebih Pilih Kayu, Dibanding Rotan Yang Sudah Langka – FAJAR sulsel
News

Industri Lebih Pilih Kayu, Dibanding Rotan Yang Sudah Langka

PALOPO — Kurang lebih 41 Industri yang bergerak di bidang pertukangan di Kota Palopo ini, tak satupun yang melirik rotan sebagai bahan bakunya. Itu lantaran ketersediaan bahan baku menjadi kendala sehingga pilihan terbaik bagi para pengusaha adalah kayu. Padahal dahulu hutan di Luwu Raya merupakan salah satu penghasil rotan terbesar dan perlahan-lahan mulai ditinggalkan karena regulasi.

Muh Idris, salah seorang pengusaha meubel di bilangan jalan Andi Kambo Palopo menilai produksi bahan rumah tangga seperti kursi maupun meja yang berbahan rotan mahal. Itu lantaran ketersediaan bahan baku yang sulit didapatkan. Sementara itu persaingan pasar khususnya meubel maupun kebutuhan rumah tangga lainnya itu sangat tinggi. “Andai pasar bagus, dan rotan di Luwu Raya ini mudah ditemui, pasti kami juga akan mempertimbangkannya,” ujarnya.

Ia mengakui, tahun 2006 lalu sempat menggeluti bisnis tersebut. Namun, karena pasokan bahan baku yang putus-putus, maka usaha tersebut ditinggalkan, meski rotan dinilai ramah lingkungan untuk kebutuhan rumah tangga. “Usaha kursi yang berbahan rotan itu kami tinggalkan. Pasarnya kurang bagus dan bahan yang sulit ditemui,” ujarnya.

Kabid Perindustrian Diskoperindag Palopo, Silvia, mengungkapkan tidak hanya soal bahan baku saja, namun persoalan SDM tidak memungkinkan. “Jika soal bahan, itu bisa didrop dari daerah tetangga. Namun soal SDM yang harus terlatih sehingga mencipatakan olahan yang bernilai seni tinggi,” ungkapnya. Karena pihaknya lebih memilih bahan lain seperti bambu yang juga ramah lingkungan dimana lebih mudah mendapatkan pasokannya.

Saat ini, 41 industri pertukangan di Kota Palopo ini masih memilih kayu sebagai bahan baku utama mereka. Itu lantaran bahan tersebut lebih mudah didapatkan dan bentuk pemasaran yang bisa diterima oleh semua kalangan, apalagi saat ini produk yang berbahan baku seperti rotan jarang lagi ditemui di pasaran. Sejauh ini, bahan rotan hanya digunakan sebagai bahan untuk parcel, dan tali pengikat untuk anyaman maupun kerajinan tangan lainnya. Diakui bahwa sangat mudah membentuk industri di masyarakat tersebut, namun pertimbangan kembali pada bahan olahan, apakah itu bisa berlangsung secara berkesinambungan.

Dikatakan Kabid Kehutanan Dinas Kehutanan Kota Palopo, Yusuf M Toputiri, memang rotan tidak lagi produksi di Kota Palopo. “Warga tak lagi tertarik melakukan pencarian hasil hutan non kayu tersebut,” ujarnya. Itu karena adanya larangan untuk merusak hutan lindung, karena untuk mencari rotan tentunya akan menebang kayu, dimana rotan sejenis kelompok palma yang hidup memanjat atau merambat di pohon.

Berdasarkan temuan mereka di hutan, banyak potensi rotan di sana. Sejauh ini, juga dikatakannya tidak pernah lagi menemukan produksi rotan dari luar yang masuk ke palopo. “Kalau dulu, waktu masih Kabupaten Luwu sangat memungkinkan. Lantaran banyak pengumpul rotan,” tandas Yusuf.(ald/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top