Perempuan Dominan Gugat Cerai – FAJAR sulsel
News

Perempuan Dominan Gugat Cerai

* Kasus Perceraian di Palopo dan Luwu Tinggi

PALOPO — Keharmonisan rumah tangga suami istri di Luwu dan Palopo mulai memudar. Jumlah perkara cerai gugat yang diajukan istri terus meningkat. Sepertinya perempuan mulai berani mengambil sikap untuk menggugat cerai suami.

Banyak yang memberi asumsi dengan fenomena istri yang gugat cerai suaminya. Bisa jadi, keputusan ini diambil karena banyak pasangan rumah tangga yang dibiayai sang istri. Kemudian soal karir. Jangan sampai perempuan memiliki karir hingga kemapanan finansial di atas pria.

”Bukan hanya karena faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga ataupun perselingkuhan penyebab perceraian, motivasi ekonomi hingga kesetaraan gender menjadi pemicu utama,” ujar salah seorang pengamat sosial kemasyarakatan.

Bukti perempuan di Luwu dan Palopo yang dominasi cerai gugat suaminya, dapat melihat data di Pengadilan Agama (PA) Palopo yang masuk. Dari Januari-November 2016.

Total kasus cerai yang masuk ke PA Palopo menapai 630 kasus. ”Istri gugat cerai mendominasi jumlah perkara yang ditangani Pengadilan Agama (PA) Kota Palopo,” ujar Ketua PA Palopo, Drs H Burhanuddin, SH, MH, kepada Palopo Pos, Selasa 29 Novmber 2016.

Ketua PA tidak merinci total kasus cerai yang diajukan istri dari Luwu. Begitu juga dari Palopo. Kata ketua PA Palopo, kasus cerai dari Luwu kalau dipersentasekan 55 persen. ”Kota Palopo 45 persen,” ujarnya.

Dari data yang ada, ia menyebut perkara cerai gugat mencapai 75 atau 472 kasus, sementara kasus cerai talak dari pihak suami hanya mencapai 25 persen atau 158 kasus. ”Usia pernikahan pada kasus-kasus cerai banyak yang masih berusia muda dengan usia pasangan 20 sampai 35 tahun,” terangnya.

Dari 630 jumlah kasus cerai di PA Palopo, ada yang putus, ada juga yang sementara sidang.
Adapun faktor penyebab utama perceraian seperti yang terungkap dalam persidangan di PA Palopo, rata-rata karena hal akhlak dan ekonomi. Seperti halnya perselingkuhan.

Ada orang ketiga. Baik dari pihak suami ataupun istri. Ada juga alasan biasa istri gugat cerai karena ketidak-sanggupan suami menafkahi. Serta istri yang tidak tahan dengan penghasilan rendah dari suaminya. ”Perempuan memiliki karir hingga kemapanan finansial di atas pria. Dan faktor lainnya,” ujarnya.

“Itu beberapa contoh kecil hal-hal yang utama menyebabkan cerai dalam hubungan keluarga,” tambahnya.

PA Palopo sendiri tidak hanya menangani kasus cerai. Namun, juga menangani perkara permohonan pengesahan nikah, dispensasi kawin, dll. Kalau dijumlahkan perkara yang masuk ke PA, baik dari perkara dalam sengketa atau perkara kontensius dan perkara permohonan atau perkara voluntair. Totalnya mencapai 934 kasus.

Dirincikan, perkara dalam sengketa atau perkara kontensius jumlahnya 662, sedangkan perkara permohonan atau perkara voluntair 272 kasus.

Perkara dalam sengketa terdiri dari perkara cerai, kewarisan, harta bersama, sengketa anak dan lainnya Sedangkan perkara permohonan atau perkara voluntair terdiri dari pengesahan nikah, dispensasi kawin, wali adal, dan pengangkatan anak dan sebagainya.

“Itu dua jenis perkara yang ada di Pengadilan Agama. Sementara hingga saat ini, kasus cerai di sini sudah mencapai angka 630 kasus. Itu sudah dihitung baik yang sudah putus, sementara sidang dan juga masih permohonan,” tandasnya.

Ketika ditanya soal perbandingan cerai antara Pegawai Negeri dengan swasta, lagi-lagi ketua PA tidak bisa merincikan. Ia hanya mengatakan bahwa jika tidak ada data perbandingan soal itu. ”Data yang masuk disini itu dihitung secara keseluruhan berdasarkan urutan,” pungkasnya.

Ketua PA Palopo, menjelaskan, untuk menekan perselisihan antar pasangan dibutuhkan peran dari masing-masing pasangan guna memperoleh kebahagiaan dalam rumah tangga. Agar tidak terjadi perselisihan dalam keluarga, kami berharap untuk setiap pasangan bisa melakukan evaluasi serta lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah seorang kriminolog, Karno Rumondor, mengatakan, kasus perceraian ini merupakan suatu gejala yang baru, dimana pihak perempuan sudah punya kesadaran hukum dalam gejala fisik keluarga. Kata dia, dulu sikap perempuan masih pasif. Jika mau dicerai oleh suami, perempuan masih belum menerima terkait dengan hidupnya nanti.

Tetapi saat ini, mereka sudah mengerti, bahwa mereka tidak mau teraniaya terus, tidak mau dinomorduakan dalam keluarga. Mereka mau dihargai, sama seperti laki-laki. ”Itu juga terkait dengan masalah kesetaraan gender,” terang pengamat asal Manado ini.

Dijelaskannya pula, kasus perceraian ini memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, ini merupakan peringatan bagi kaum laki-laki, karena perempuan sekarang ini tidak sama lagi dengan dulu. “Mereka tidak mau terus disakiti. Jadi, harus ada kesadaran juga dari kaum laki-laki,” tambahnya. (rp1/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top