Rakyat Jangan Mudah Dipecah Belah – FAJAR sulsel
News

Rakyat Jangan Mudah Dipecah Belah

* Aksi Nusantara Bersatu di Luwu Raya, Ancaman Sudah di Depan Mata

PALOPO — Kepalanya diikat dengan kain merah putih. Mereka bergerak ke lapangan Gaspa Palopo. Wali Kota Judas Amir, dandim 1403 Sawerigading, ketua DPRD, unsur muspida lain tidak kalah serunya. Mereka mengingat satu hal. Ancaman sudah di depan mata. Jadi, jangan mau dipecah-pecah dan diadu domba.

Dari Luwu Raya, apel Nusantara Bersatu tidak kalah semarak. Di Palopo, lapangan Gaspa jadi pusat apel akbar ini, Rabu 30 November 2016. Kurang lebih 3.000 warga hadir. Di Masamba, apel ini dipusatkan di lapangan Taman Siswa. Sedangkan Luwu Timur, apel Nusantara Bersatu berlangsung semarak di Lapangan Merdeka Malili, dan Luwu berlangsung di Lapangan Opu Dg Risadju.

Unsur muspida, tokoh Agama, masyarakat, pelajar, menyerukan NKRI bersatu. Dan, memang masih satu. Kepala mereka diikat dengan kecil berwarna merah putih. Itu untuk menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa NKRI masih utuh dalam persatuan dan kesatuan.

Tepat pada pukul 08:00 Wita. Wali Kota Palopo, HM Judas Amir, Dandim 1403 Sawerigading, Letkol Kav Cecep Tendi Sutendi, Ketua DPRD Palopo, Harisal A Latief, Waka Polres Palopo, Kompol Woro Susilo. Kemudian Forum Kerukunan Umat Beragam Kota Palopo, Rektor IAIN, Dr Pirol, Sekkot Palopo, kepala SKPD, danramil/perwira Kodim 1403 Sawerigading, kapolsek/perwira Polres Palopo. Lalu, para camat, lurah, RT/RW, tokoh agama, pemuda, adat, ormas, mahasiswa, dan pelajar, menyemut di lapangan Gaspa. Juga tampak warga keturunan Tionghoa.

Kendati kondisi lapangan becek, namun antusias warga cukup tinggi. Mereka tetap kokoh berdiri mendengarkan orasi-orasi dari para tokoh.
Wali Kota Judas Amir dalam orasi singkatnya menyerukan persatuan. Kata orang nomor satu di Kota Palopo ini, manusia dilahirkan untuk berkomitmen. Demikian juga negara lahir dari sebuah komitmen.

“Kita sudah berkomitmen menjaga keutuhan NKRI dari segala bentuk propaganda dan pecah bela dari pihak asing maupun pihak yang ingin merusak kedaulatan NKRI,” tandasnya.

Untuk itu, ia mengajak kepada rakyat Palopo agar menjaga keutuhan negara ini dengan sebuah komitmen. ”Jangan mau dihasut ataupun dipecah bela,” ucap wali kota lantang sembari menyinggung kepahlawanan Andi Djemma dan Opu Daeng Risaju.

Sudah wali kota, disusul Ketua DPRD Palopo, Harisal A Latief. Ia juga tidak kalah lantangnya menyeruakan orasi. Menurut legislator Partai Golkar ini, Indonesia adalah harga mati. Dia kemudian membacakan testimoninya terkait keutuhan NKRI.

Katanya, mencermati dan menyikapi kasus Ahok, baik melalui televisi, majalah, surat kabar, dan media sosial lainnya, pemerintah RI telah menjadikan hukum sebagai panglima atas kasus tersebut. Ahok sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian RI.

Berdasarkan hukum yang berlaku di negara RI, kebebasan mengemukakan pendapat dijamin oleh UU terkait dengan adanya berbagai pendapat yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Jika tidak disikapi dengan arif dan bijaksana, maka akan mengancam keutuhan NKRI.

“Mari menolak dan melawan sampai titik darah penghabisan. Terhadap kelompok atau golongan yang ingin merongrong keutuhan NKRI,” imbuhnya, serius.
”Ingat Bangsa Indonesia berasaskan pada Pancasila dan UUD 1945,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor IAIN Palopo, Dr Pirol, juga ambil bagian. Dalam orasinya, petinggi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kota Palopo ini mengatakan, NKRI adalah rumah bersama. Rumah besar terdiri dari kamar-kamar yang sangat banyak. Maka di dalam kamar-kamar itulah ditemukan keberagaman. Baik keberagaman dari segi agama, suku maupun golongan.

“NKRI adalah perjuangan kita. Kita tidak ingin ada pihak pihak yang memecah bela kita, memisahkan kita, menguasai Indonesia,” tandasnya.

Apalagi, kalau menyebarkan isu SARA, terorisme, radikalisme, dan narkoba. ”Kita berkomitmen NKRI. Kita tidak ingin ada yang mengoyak-ngoyak persatuan kita. Nusantara ini tidak diragukan lagi. NKRI tetap lestari. Mari kita rawat NKRI rumah kita,” ucapnya tak kalah lantang.

Dandim 1403 Sawerigading, Letkol Kav Cecep Tendi Sutendi, mengaku tidak rela jika ada yang ingin memecah belah keutuhan NKRI. “Saya tidak rela… Tidak rela…Kalau ada yang ingin merongrong keutuhan NKRI,” kata dandim.

Sebelum memulai orasinya, petinggi TNI di wilayah Luwu Raya ini meminta para pelajar untuk lebih mendekat ke depan tribun untuk mendengarkan penyampaiannya soal kondisi terkini NKRI.

“Jangan mau dihasut ataupun dipecah-belah. Karena ancaman sudah ada di depan mata,” terang dandim.

Ia mengajak kepada semua komponen masyarakat di Luwu Raya untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan. ”Karena, bukan Indonesia kalau tidak ada Islam, bukan Indonesia kalau tidak ada kristen, bukan Indonesia kalau tidak ada Budha dan bukan Indonesia kalau tidak ada Hindu,” ucapnya dandim.

Ancaman yang dimaksud oleh dandim, pertama datang dari Darwin Australia. Di sana sudah ada pasukan US ditempatkan. Lalu, ancaman dari pelanggaran wilayah di laut Cina Selatan. Ketiga, Indonesia dikepung oleh five Defence Arrangement (FPDA) yakni Selandia Baru, Australia, Singapura, Malaysia, dan Inggris. Mereka ini membuat perjanjian kerjasama pertahanan negara- negara persemakmuran Inggris.

Selanjutnya, pada tanggal 4 hingga 21 Oktober 2016, latihan bersama di Malaysia, Singapura, dan kawasan laut Tiongkok Selatan dalam rangka hari jadi ke-45 FPDA. Itu melibatkan 3.000 personil, 71 pesawat tempur, 11 kapal tempur dan kapal selam.
Dan, lanjutnya lagi, ancaman yang kerap terjadi adalah teroris dan narkoba.

Dia pun mencontohkan usaha-usaha bangsa lain untuk menguasai bangsa ini diantaranya dengan cara perang candu. Dewasa ini, 2 juta atau 5% penduduk Indonesia telah positif terkena Narkoba, dan BNN hingga hari ini belum berhasil menembus Malaysia sebagai lokasi transit Narkoba yang dijaga militer.

Makanya itu, dandim meminta agar persatuan dan kesatuan tetap dijaga, dipelihara dan dipertahankan. Banyaknya agama, suku, bahasa dan ras, itulah yang membuat Indonesia Indah di mata dunia. Jagalah kebersamaan yang sudah terpelihara, dengan saling menghargai dan menghormati antar satu dengan yang lain, suku yang satu dengan yang lain dan agama yang satu dengan yang lain. Tidak menebar kebencian yang membuat bangsa Indonesia berada di ujung tanduk.

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto meminta aparat kepolisian menindak tegas para peserta unjuk rasa Aksi Bela Islam III yang melanggar kesepakatan dengan Polri.

Menurut Wiranto, kesepakatan yang didapatkan antara Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Mejelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) dengan Polri bahwa unjuk rasa yang dikenal dengan sebutan Aksi 212 itu bakal dilakukan di lapangan Silang Monas dengan melakukan salat Jumat berjamaah dan hanya sampai pukul 13.00 WIB harus benar-benar dipatuhi.

“Kalau ada unjuk rasa di luar Monas itu unjuk rasa yang tidak ada izin. Unjuk rasa yang tidak dikoordinasikan oleh pimpinan pengunjuk rasa yang ingin superdamai itu,” ujar Wiranto di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu 30 November 2016.

Mantan menteri pertahanan itu juga meminta masyarakat turut membantu aparat kepolisian. Caranya bisa dengan melapor ke polisi bila melihat peserta Aksi 212 melanggar kesepakatan antara GNPF-MUI dengan Polri.

Karenanya Wiranto juga meminta polisi membubarkan aksi di luar kesepakatan. Pasalnya, jika kalau ada aksi di luar kesepakatan maka hanya akan mengeruhkan suasana.
Mantan Panglima ABRI itu merasa khawatir aksi demo di luar ksepakatan akan memunculkan hal-hal yang tidak diinginkan. “Ini bukan meredam kebebasan tapi justru untuk membangun keamanan ketenteraman di masyarakat,” katanya.

Pasukan Asmaul Husna Kembali Diterjunkan Kawal Demo 212

Pasukan Asmaul Husna kembali siap beraksi. Tim khusus Polri itu bakal diterjunkan mengawal Aksi Bela Islam III, di Monas, Jumat 2 November 2016, besok.

Sebanyak 499 personel Brimob disiapkan ikut mengamankan jalannya aksi dengan agenda istigasah dan Doa Untuk Negeri tersebut. “Jumlahnya sama seperti aksi 4 November, yaitu 499 orang. Mereka adalah gabungan pasukan Brimob Polda Jawa Barat, Polda Banten dan Polres Jakarta Timur,” ujar Komandan Pasukan Asmaul Husna, AKBP H Arif Rachman di Polda Metro Jaya, Rabu 30 November 2016.

Namun urusan formasi, untuk kali ini berbeda. “Di garis depan iya, seperti saat 4 November. Namun tidak lagi berhadapan dengan peserta aksi. Kami justru berbaur dan menyatu bersama-sama untuk melakukan zikir dan doa,” kata Arif.

Mantan Wakapolres Jakarta Timur yang kini menjabat Pemeriksa Utama Propam Mabes Polri ini menambahkan, Pasukan Asmaul Husna akan mengenakan seragam polisi yang dilengkapi dengan peci dan sorban.

“Kami kan muslim. Ini juga sebagai simbol kebersamaan antara Polri dan masyarakat dalam menjaga NKRI dalam bentuk zikir dan doa,” sambung Arif.

Dengan diterjunkannya Pasukan Asmaul Husna, dia berharap makin menyejukkan suasana. “Kami berharap bahwa dengan berzikir asma-asma Allah maka Allah SWT akan ikut menjaga (memelihara-Al Hafizh), menyelamatkan (menyejahterakan-As Salaam) dan melindungi (mengatur-Al Muhaimin) seluruh peserta istigasah dan Doa Untuk Negeri,” pungkas Arif.(jpnn-ara/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top