Peserta Kritik Sinetron Konflik Rumah Tangga – FAJAR sulsel
News

Peserta Kritik Sinetron Konflik Rumah Tangga

spn-judas-maksum

* Dari SPN ICMI yang Diikuti Wali Kota Palopo dan Kabag Humas

ICMI menggelar Sekolah Pimpinan Nasional (SPN) untuk angkatan I. Kegiatan ini diikuti Wali Kota HM Judas Amir, Bupati Luwu Timur, Thorig Husler, dan Kabag Humas Palopo, Maksum Runi. Banyak materi yang diperkenalkan. Materi tentang kepemimpinan politik Indonesia yang berpenghayatan Pancasila dan UUD 1945. Apa saja itu?

MATERI yang dibawakan Tina Tallisa, mantan presenter salah satu teve swasta nasional cukup menarik diulas. Banyak peserta SPN yang menumpahkan kritikan dan unek-uneknya. Materi yang dibawakan Tina Tallisa berjudul ”Strategi Serta Kiat Membingkai dan Mengemas Pesan dalam Wawancara dan Interview”.
Salah satunya datang dari Kabag Humas Pemkot Palopo, H Maksum Runi, S.Ag, MH.

Konten melalui televisi swasta nasional cenderung tidak mendidik generasi muda sekarang. Lebih khusus ke sinetron yang ditayangkannya.
Kata Maksum, sinetron yang ditayangkan ujung-ujungnya selingkuh, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, anak putus sekolah, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini saya kira tidak mendidik anak-anak muda kita sekarang ini,” kritik Maksum Runi.

Ada juga tayangan perkelahian, pembunuhan, selingkuh. ”Begitu kita buka chanel teve swasta nasional, tayangan ini muncul. Saya tidak ingin konten begini selalu dimunculkan,” papar Maksum Runi.

Karena, kata dia, semua ini bisa jadi nanti membentuk karakter anak muda. Akan dibawa dari bawa sampai tidur. Semua negatif.

Yang mengejutkan dari pernyataan mantan aktivis HMI ini. Di balik konten yang disajikan teve nasional, jangan sampai ada orderan khusus dari negara adidaya. ”Tujuannya apa. Agar generasi muda kita ini berprilaku seperti yang selalu ditonton. Ini kita sadari. Virus ini bisa berdampak 10 sampai 15 tahun mendatang,” papar dia.

Untuk itu, kabag humas Palopo di forum diskusi tersebut, menawarkan salah satu cara bagi generasi muda terhindar dari sinetron yang berbau ‘orderan’ tersebut.

”Saya ingin desain teve lokal. Teve lokal ini bisa kembangkan anak-anak muda ke arah yang lebih produktif,” paparnya.

SPN Angkatan I dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla dan ditutup oleh Ketua Umum ICMI Pusat, Jimmly Asshiddiqie.

Di akhir acara panitia pengukuhan formatur Ikatan Alumni SPN Angkatan I. ”Alhamdulillah, Palopo masuk satu formatur ikatan alumni SPN Angkatan I,” kata Maksum.

Terpilih Kabag Humas Pemkot Palopo H Maksum Runi, S.Ag, MH sebagai formatur. Nama tim formatur lain adalah Hadi Suprapto (Jakarta), Mariani Harahap (Jakarta), Syahedi Muhammad (Makassar), Asriyon Roza, Zikrina (mahasiswa), dan Imam Suroso (DPR RI).

Kegiatan ini diikuti oleh 125 peserta dari berbagai kalangan. Ada dari anggota DPR RI, wali kota/bupati, ketua DPRD, akademisi, dan praktisi.
Ada banyak pengajar dalam kegiatan SPN Angkatan I. Mereka adalah Menkopolhukam, ketua MPR RI, ketua Bawaslu, ketua KPU RI, ketua umum ICMI Pusat, pakar branding Indonsia, pakar komunikasi publik, pakar presenter, pakar lembaga survei Indo Barometer, dan lainnya.

Peserta SPN banyak juga dari tenaga ahli DPR RI dan DPD RI. Di antaranya Fraksi Demokrasi, Fraksi Hanura, Fraksi PAN, dan Fraksi Golkar. Kegiatan ini dimulai Kamis-Senin 8-12 Desember 2016, di Hotel Ancol, Jakarta.
Jimlly resmi meluncurkan sekolah pemimpin nasional (SPN) angkatan I dan membuka acara silahturahim kerja nasional.

”Mudah-mudahan ICMI terus hidup terpelihara dan di tangan kitalah berkibar tidak hanya bendera ICMI tapi kecendekiawan di seluruh Indonesia,” kata Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie dalam sambutannya di Ancol, Jakarta, Kamis 8 Desember 2016.

Acara itu dihadiri oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua MPR yang juga Ketua Dewan Pakar ICMI dan Menteri Agama. Kegiatan ICMI tersebut bertema Kepemimpinan dan Penguatan Kelembagaan ICMI untuk Kesejahteraan Bangsa. Acara silahturahim nasional itu juga dikaitkan dengan program sekolah kepemimpinan.

Ketua Umum ICMI Jimly mengatakan pihaknya ingin memperkenalkan kepemimpinan politik Indonesia yang berpenghayatan Pancasila dan UUD 1945. “Sekali dipercaya menjadi pemimpin di tingkat apapun, adilah pemimpin untuk semua,” tuturnya.

Menurutnya, pemimpin yang merakyat adalah pemimpin untuk semua golongan dan lapisan rakyat. Dia mengatakan, silahturahim nasional ini juga penting untuk persatuan dan sinergi keumatan dan kebangsaan secara lebih produktif untuk kemajuan.

“Tekad untuk bersatu dalam keragaman dan bersinergi untuk kemajuan semakin terasa sangat penting di tengah dinamika tarik- menarik politik identitas antara idealis spirit kebangsaan yang majemuk dengan realitas tribalisme multikultural,” ujarnya.(ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top