Waspada Lonjakan Inflasi – FAJAR sulsel
News

Waspada Lonjakan Inflasi

foto-sembako

Harga Sembako Naik 10%

MAKASSAR,UPEKS.co.id — Kenaikan harga Sembilan Bahan Pokok (Sembako) terus berlanjut menjelang Natal dan Tahun Baru. Hampir seluruh harga kebutuhan pokok di Kota Makassar dan beberapa daerah lain di Sulsel sudah dua kali mengalami kenaikan. Kenaikan harga akan mendorong pergerakan inflasi di akhir tahun di kisaran 0,5-0,8% (mtm).

Maka inflasi Sulsel 2016 diproyeksi pada kisaran 3,2-3,5% (yoy). Berdasarkan pantauan, kenaikan harga terjadi di semua pasar tradisional yang ada di Kota Makassar. Seperti di Pasar Pa’baeng-baeng, Pasar Terong dan Pasar Toddopuli. Kenaikan harga rata-rata sama di semua pasar mencapai angka 5-10%.

Kenaikan harga tertinggi terjadi pada komoditi jenis cabe rawit hijau yang naik hingga Rp17.300, dari sebelumnya hanya Rp10 ribu per kilogram (kg) menjadi Rp27.300 per kg. Sedangkan untuk kenaikan harga terendah terjadi pada minyak goreng curah yang hanya naik Rp300, dari harga sebelumnya Rp12 ribu per kg, naik menjadi Rp12.300. Bawang merah yang sebelumnya naik cukup tinggi. Kali ini kembali naik Rp1.000 per kg.

Dimana harga sebelumnya hanya Rp45 ribu menjadi Rp46 ribu per kg. Khusus cabai merah besar dari Rp18 ribu naik menjadi Rp32.600 per kg, bawang putih naik dari harga Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kg, tomat dari Rp8 ribu naik menjadi Rp11.300 kg, dan gula pasir dari Rp14 ribu jadi Rp15.900 per kg. Amir, seorang pedagang di Pasar Pa’baeng-baeng menjelaskan, kenaikan harga bahan pokok rata-rata memang biasa terjadi karena masuk momen hari Natal dan Tahun Baru.

“Ini biasa terjadi, karena harga memang selalu naik kalau mau Natal dan Tahun Baru. Kenaikan juga biasa terjadi kalau orang mau Lebaran. Nanti akan turun lagi kalau awal tahun. Kalau stoknya, semua aman,” ungkap Amir. Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulsel, Hadi Basalamah mengatakan, kenaikan harga masih terbilang wajar. Sehingga dinilai belum perlu dilakukan operasi pasar.

Hadi mengakui, saat ini harga beberapa komoditas mulai merangkak naik, khususnya telur dan cabai. Tetapi kenaikannya dinilai masih dalam batas normal. Apalagi masyarakat, khususnya yang beragama Islam baru saja memperingati Maulid Rasulullah Muhammad SAW, dan beberapa hari mendatang masyarakat yang beragama Nasrani akan merayakan Natal. “Memang ada kenaikan, tapi masih dalam batas wajar. Jadi saya rasa belum perlu ada operasi pasar,” tegasnya.

Hadi menambahkan, saat ini stok beragam komoditas masih sangat mencukupi hingga beberapa bulan ke depan. Sebab, itu pihaknya yakin kenaikan harga bukan disebabkan oleh suplai yang sedikit, tetapi karena banyaknya demand atau permintaan pasar. Faktor lain yang diyakininya berpengaruh terhadap kenaikan harga komoditas khususnya pangan adalah cuaca yang sedikit ekstrem sejak beberapa waktu lalu. “Ini kan musim hujan, cuaca juga sedikit ekstrem, jadi harga cabe misalnya, dipastikan meningkat. Tapi semua masih dalam batas toleransi,” katanya.

Sekprov Sulsel, Abdul Latif, menambahkan, stok komoditas Sulsel sangat mencukupi, dan sudah ada alat yang dapat digunakan untuk mengecek harga dan inflasi di daerah, sehingga jika ada kekurangan stok di satu daerah, bisa langsung diantisipasi. “Bisa dilakukan antisipasi antar kabupaten, kalau ada yang mengalami kekurangan nanti di drop. Kalau perlu operasi pasar kita lakukan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Wilayah Bank Indonesia ( BI) Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel), Wiwiek Sisto Widayat menyatakan, kenaikan tersebut sudah diantisipasi. “Memang kenaikan ini juga sudah kami sampaikan waktu pertemuan high level TPID yang dipimpin oleh pak Wagub pada minggu I lalu. Jadi, kenaikan ini sudah kita antisipasi dan ini memang akan terjadi pada beberapa komoditi terutama komoditi makanan dan minuman serta bahan- bahan makanan,” ungkapnya.

Untuk dampaknya sendiri, kepada ekonomi sangat terbatas karena hanya sesaat dan terjadi pada kurun waktu 1 – 2 minggu terakhir di akhir tahun. Sementara dampaknya terhadap inflasi, inflasi bulan Desember 2016 akan ada sedikit tekanan. Dan diperkirakan lebih tinggi dari inflasi bulan November. “Kami perkirakan inflasi Desember akan ada di kisaran 0,5- 0,8% (mtm). Maka, inflasi Sulsel 2016 akan berada pada kisaran 3,2-3,5% (yoy),” jelasnya.

Wiwiek menyebutkan, kenaikan harga tersebut tidak banyak berpengaruh ke inflasi, jika dibandingkan dengan inflasi Nopember 2016 yang sebesar 0,45%. BI memproyeksi inflasi Desember 2016 sedikit meningkat. Berdasarkan kondisi tersebut pihak BI memiliki beberapa rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat mewujudkan Sulsel sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan Kawasan.

Salah satunya, mendistribusikan realisasi belanja pemerintah daerah khususnya belanja modal, yang dialokasikan untuk pembiayaan proyek infrastruktur sehingga tidak terkonsentrasi di akhir tahun. Meningkatkan daya tarik investasi, khususnya di sektor ekonomi unggulan yang belum optimal, seperti industri pengolahan. “Terkait dengan hal tersebut, tahun depan kami berinisiasi akan membentuk Regional Investor Relations Unit (RIRU) di Sulsel, bekerjasama dengan stakeholders terkait yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing dan investasi,” ujarnya.

Sementara itu, pihaknya juga menghimbau memperkuat pengembangan sektor ekonomi unggulan di tiap-tiap daerah khususnya yang mampu menyerap tenaga kerja banyak, yaitu untuk Zona Makassar, Pangkep, Maros, Gowa, Takalar di sektor pertanian (khususnya kelautan dan perikanan), industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Pihaknya pun berharap kinerja ekonomi tahun ini dan prospek ke depan, serta tantangan didepan yang semakin berat. “Tapi kita harus optimis bahwa perekonomian kita ke depan akan semakin baik dan masyarakat akan semakin sejahtera,” tandasnya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Perlindungan Konsumen Disperindag Kota Makassar Sri Rezeki mengatakan kenaikan untuk harga sembako tidak terlalu signifikan. “Kami memantau di 10 pasar tradisional di Kota Makassar, belum ada lonjakan harga kebutuhan bahan pokok yang dominan tinggi. Namun kenaikan harga komoditi tertinggi diperkirakan akan mencapai kenaikan lima persen. Dan diperkirakan hingga pergantian tahun,” ujarnya.

Sri menuturkan, ke depan akan melakukan operasi pasar jika kenaikan melampaui batas kewajaran. Beberapa komoditi yang terpantau mengalami kenaikan seperti telur ayam, bawang merah, dan cabai merah serta beberapa komoditas pangan lainnya yang rentang terhadap perubahan musim diperkirakan masih akan tinggi hingga awal tahun 2017. (eky-nda)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top