Mengurai Kemelut IKA UNM – FAJAR sulsel
News

Mengurai Kemelut IKA UNM

Jelas sudah, bahwa kendali IKA UNM selama ini tidak bisa lepas dari hiruk pikuk politik, baik dari seorang yang hanya melek politik tanpa Parpol, terlebih kader Parpol yang memang dicetak menjadi seorang Politisi. Itulah kehebatan para alumni UNM dan orang-orang tersebut lahir dari satu rahim universitas bernama IKIP UP/UNM.

Nampak memang bahwa IKA UNM seperti panggung politik bagi mereka yang berkepentingan. Kepentingan tersebut bisa dari internal dan eksternal universitas. Kepentingan di internal universitas dimainkan oleh baik bagi mereka yang ingin mempertahankan jabatan, yang ingin dapat jabatan, yang mau mengamankan diri, bahkan juga bisa jadi dimainkan oleh “Barisan Sakit Hati”-entah saat pemilihan rektor, dekan, bahkan pemilihan ketua jurusan sekalipun.

Sekali lagi, bisa jadi demikian. Sementara kepentingan ekternal di luar universitas juga bisa jadi dimainkan oleh mereka yang punya kepentingan pada ruang-ruang politik praktis, ekonomi, relasi bisnis, dan sebagainya dengan memanfaatkan IKA UNM sebagai arena bermain untuk mendapatkan pengakuan pada komunitasnya. Keduanya bisa saja beririsan. Yang berkepentingan dari dalam universitas bisa memanfaatkan mereka punya kepentingan yang ada di luar universitas.

Demikian pula sebaliknya. Kalau kepentingan sudah bermain, maka tidak ada lagi saudara meski lahir dari satu rahim. Saling hujat, saling sikut, membenci, mencemooh, arogan, fitnah, bahkan ancam mengancam, adalah konsumsi sehari hari yang “Mengejangkan” warga Facebook, WA, Twitteer dan lainnya.

Para pendukungnya berselancar di dunia maya untuk saling mempengaruhi satu sama lain. Siapa aktornya? Sesungguhnya dapat ditebak dengan relasi yang terpetakan di antara para pendukung. Perebutan kekuasaan bisa terjadi jika di dalamnya terdapat sumber daya, baik manusia maupun financial atau bahkan sekadar menjadi panggung untuk cari nama, dikenal banyak orang. Patut dicatat bahwa hal ini bisa menjadi modal sosial yang cukup besar dari sebuah organisasi bernama IKA yang memiliki ribuan anggota.

Dengan anggota ribuan orang, seorang politisi dapat memanfaatkan organisasi untuk “Dijual” pada kandidat tertentu untuk kepentingan dirinya. Seseorang bisa berlindung di balik ketiak pengambil kebijakan untuk mengamankan dirinya dan orang-orangnya. Kemungkinan tersebut dapat terjadi. Sangat tergantung dari sejauh mana oleh mereka yang berkepentingan mendapat keuntungan dari kepentingan yang ingin mereka peroleh.

Dengan demikian, kekisruhan IKA UNM saat ini tidak lebih sama dengan apa yang terjadi pada sebagian besar Parpol. Awal mula perpecahannya bersumber dari keankuan masing-masing pihak terhadap kepemilikan organisasi. Perseteruan terjadi yang diawali dari forum tertinggi organisasi. Hal itu pun terjadi pada IKA UNM melalui Musyawarah Besar sejak beberapa bulan lalu hingga hari ini. Menariknya, kekisruhan yang hampir-hampir mirip sebagaimana yang terjadi pada Partai Politik juga terjadi pada IKA UNM.

Apakah kondisi ini karena ada peran alumni yang berlatarbelakang politisi? Apakah benar cara-cara kotor yang sering terjadi di Partai Politik ditransfer oleh mereka pada musyawarah yang terjadi pada IKA UNM? Wallahu alam…. Adalah kenyataan bahwa polarisasi IKA UNM saat ini telah terjadi. Dibutuhkan kebesaran hati semua pihak untuk tidak memperlebar jurang pemisah dengan mengesampingkan masing-masing kepentingan.

Mubeslub IKA sudah dilakukan, perubahan AD-ART dan pedoman-pedoman organisasi lainnya sudah dibahas, termasuk proses pemilihan ketua umum yang dipandang lebih aspiratif. Semoga ini bisa diwujudkan. Berharap ada mediasi antara mereka yang berbeda paham untuk menjalankan madat ini secara bersama sama. Sekali lagi, secara bersama-sama dan hilangkan keakuan masing-masing…. semoga…!!!

(Herman, Bhs.Ind ’93/Ketum SMPT IKIP UP 1997/98)

UPEKS

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top