Tetap Ditopang Sektor Pertanian – FAJAR sulsel
News

Tetap Ditopang Sektor Pertanian

Wiwiek-Sisto-Widayat-3-3

Proyeksi Ekonomi Sulsel 2017

MAKASSAR, UPEKS.co.id — Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2017 tahun depan berada pada kisaran 7,2%-7,6%.

Pertumbuhan ekonomi masih akan ditopang sektor pertanian. Sedangkan, inflasi diperkirakan berada pada kisaran 4%. Tahun depan ekonomi Sulsel masih tetap didukung sektor pertanian.

Kepala perwakilan BI Sulawesi Selatan (Sulsel), Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, untuk inflasi sendiri Sulsel tahun 2017 diperkirakan akan berada pada kisaran target 4%.

“Tentunya hal ini ditopang oleh pasokan bahan pangan yang cukup dan stabilnya komoditas Administered Prices,” ucapnya pekan lalu.

Sektor pertanian masih menjadi tetap penopang pertumbuhan ekonomi. Menyusul kehutanan, perikanan, sektor perdagangan besar dan eceran, sektor konstruksi serta sektor pertambangan dan penggalian.

Menurut Wiwiek, berdasarkan kondisi tersebut pihak BI memiliki beberapa rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat mewujudkan Sulsel sebagai pilar utama pembangunan nasional dan simpul jejaring akselerasi kesejahteraan kawasan.

Salah satunya, mendistribusikan realisasi belanja pemerintah daerah khususnya belanja modal, yang dialokasikan untuk pembiayaan proyek infrastruktur sehingga tidak terkonsentrasi di akhir tahun.

Optimisme pertumbuhan mendapat dukungan dari pemanfaatan anggaran negara. Tahun 2017, DIPA Sulsel mencapai Rp17,6 triliun, Dana Transfer dan Dana Desa Rp29,669 Triliun, DAU Rp18,3 triliun, Belanja Barang Rp6,1 Triliun, dan DID Rp206,830 miliar.
Namun, sayangnya, lanjutnya, daya tarik investasi, khususnya sektor ekonomi unggulan yang belum optimal, seperti industri pengolahan.
“Terkait dengan hal tersebut, tahun depan kami berinisiasi akan membentuk Regional Investor Relations Unit (RIRU) di Sulsel, bekerjasama dengan stakeholders terkait bertujuan untuk meningkatkan daya saing dan investasi,” ujarnya.

Melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur
kemaritiman, baik infrastruktur fisik maupun infrastruktur pendukung, sehingga arus barang menjadi lebih lancar dan murah.
Selain itu, wiwiek menegaskan, perlunya pengembangan industri dasar hingga menengah yang berdaya saing dan memiliki nilai tambah tinggi terutama yang berbasis maritim dan pangan di Sulsel, sehingga tidak lagi terdapat imbalance trade dan imbalance cargo.

Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM yang terampil dan siap bekerja, melalui pendidikan vokasi yang berkualitas. Melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor dan peningkatan nilai tambah yang lebih tinggi dari komoditas ekspor.

“Seperti di pasar Eropa, Australia dan Afrika masih potensial untuk pengembangan pengiriman produk ekspor Sulsel seperti ikan, rumput laut, dan coklat olahan. Untuk komoditas ekspor Sulsel ke depan seyogyanya bukan lagi komoditas mentah, tapi komoditas yang sudah diolah dan bernilai tambah yang tinggi,” jelasnya.

Pihaknya menghimbau memperkuat pengembangan sektor ekonomi unggulan kepada setiap daerah agar mampu menyerap tenaga kerja banyak, yaitu umtuk Zona Makassar, Pangkep, Maros, Gowa, Takalar di sektor pertanian (khususnya kelautan dan perikanan), industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.

Pihaknya pun berharap kinerja ekonomi tahun ini dan prospek ke depan, serta tantangan didepan yang semakin berat.
“Tapi kita harus optimis bahwa perekonomian kita ke depan akan semakin baik dan masyarakat akan semakin sejahtera,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi 2017 akan bergairah. Pembangunan rel kereta api dengan anggaran sekitar Rp5 triliun bisa menjadi pemicu ekonomi Sulsel, termasuk dengan ekspor yang kembali bergairah dengan adanya perbaikan ekonomi secara global.

Meski demikian, dia mengatakan, tahun depan sektor pertanian masih tetap diharapkan menjadi andalan menggairahkan ekonomi. Menurutnya, sektor ini memiliki potensi untuk dikembangkan.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan Sulsel, Alfiker Siringoringo saat dihubungi Upeks kemarin mengungkapkan, berdasarkan data yang diperoleh bahwa DIPA kantor pusat dengan jumlah DIPA sebanyak 40 dan pagu sebesar Rp6,521 triliun, kantor daerah sebanyak DIPA senilai Rp10,060 triliun, dekonsentrasi sejumlah 46 dengan pagu Rp270,70 miliar, tugas pembantuan sebanyak 27 DIPA dengan pagu Rp816,58 miliar.

Pengamat Ekonomi Sulsel, Dr Hamid Paddu pun mengatakan, pihaknya tetap optimis pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih baik dibandingkan 2016. Hamid yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) ini mengungkapkan, sektor pertanian menjadi andalan Sulsel masih diproyeksi menjadi penopang utama pertumbuhan. (nda-mg1/rif)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top