Kaleidoskop 2016 – Olahraga – FAJAR sulsel
News

Kaleidoskop 2016 – Olahraga

1-sekretaris-plt-koni-kabupaten-bone-a-akbar-saat-melapor-ke-bupati-terkait-keberhasilan-atletnya-meraih-medali-emas-pon-jabar-beberapa-waktu-lalu

KONI Mati Suri, Cabor tetap Mandiri Mendulang Prestasi

Beberapa cabang olahraga masih mampu menunjukkan prestasi di tengah keterbatasan yang menyelimuti. Cabor berupaya mandiri di tengah carut-marutnya kepengurusan KONI.

Ardi Bin Waris, Watampone

Dinamika yang terjadi di dunia olahraga di Kabupaten Bone, memang sangat mengganggu konsentrasi para cabang olahraga (Cabor) untuk meningkatkan prestasi atletnya. Mulai dari kepengurusan baru Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bone, yang dipimpin A Sugirman beberapa waktu dinilai gagal dalam membangun olahraga di Kabupaten Bone hingga dia mengundurkan diri.

Bahkan sejumlah kalangan menilai KONI mati suri akibat roda organisasi tidak berjalan dengan baik.
Sorotan tajam terus mengarah ke pengurusan tertinggi olahraga di Kabupaten Bone, membuat Sugirman meletakkan jabatannya dari Ketua KONI. Carut marut terus bergulir dengan tiga petinggi KONI ramai-ramai mengundurkan diri. Mereka adalah Sekretaris Umum KONI Bone Muhammad Arif Wahab, Kepala Bidang Pengembangan Prestasi KONI Syamsu dan Bendahara II KONI Muhammad Tang pada Mei lalu.

Muhammad Arif Wahab mengatakan dirinya telah mengajukan pengunduran diri, sebelum Ketua KONI mundur. “Jadi saat ini, saya tidak memiliki kewena-ngan di KONI, karena sebelum pak ketua mundur, saya sudah mundur lebih duluan. Bahkan surat kepengunduran saya sudah saya serahkan ke KONI,” ungkapnya waktu itu.

Arif memilih mundur dari kepengurusan KONI, karena tidak mampu melaksanakan tugas secara efektif menyusul padatnya kegiatan yang dimiliki, sehingga sulit membagi waktu. “Saat ini, saya memiliki banyak kesibukan, sehingga tidak bisa merangkap jabatan. Maka dari itu, agar KONI tidak terbengkalai karena kesibukan saya, lebih baik saya mundur, apalagi lebih banyak yang berkompetensi daripada saya,” ungkapnya.

Ternyata permasalahan tak sampai di situ, kosongnya jabatan Ketua KONI berimbas pada cabor lantaran dana pengembangan olahraga belum dapat dicairkan. Akibatnya tak sedikit pengurus cabor mengeluh, salah satunya Ketua Cabor Bulutangkis, Firdaus mengatakan cabor bulutangkis tak bisa aktif latihan lantaran ter-kendala dana.”Kalau bulutangkis harus setiap hari mengganti shuttlecock untuk bermain sehingga persiapan pertandingan kejurda, pra porda terbengkalai,”ujarnya.
Hingga akhirnya, Andi Gunadil Ukra ditunjuk sebagai Plt KONI Kabupaten Bone, untuk menjalankan kepengurusan KONI yang terbengkalai.

Meskipun kepengurusan KONI telah terpilih, namun tak memberikan dampak signifikan pada dunia olahraga di Kabupaten Bone. Tak sedikit pengurus cabor mengeluh lantaran minimnya perhatian terhadap atlet. Salah satunya cabor yang mengeluh, yakni pelatih softball, Zilmi Darwis. Dia mengatakan sangat menyesalkan kurangnya perhatian KONI pada atlet softballnya yang memperkuat skuad Sulsel yang berlaga pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Bandung Jawa Barat (Jabar) beberapa waktu lalu.”Kami sangat me-nyayangkan KONI tak hadir saat pelepasan atletnya ke Bandung, padahal event ini skala nasional. Kami sangat cemburu dengan atlet dari daerah lain karena KONI daerahnya sangat peduli dengan mereka,”jelasnya.

Diketahui pada event PON Bandung 2016 lalu ada beberapa atlet Bone yang memperkuat Sulsel, mulai dari Cabor Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) mengirim dua atlet wanita. Cabor Persatuan Bisbol Dan Sofball Amatir Seluruh Indonesia (PERBASASI) ikutkan sembilan atletnya, sedangkan Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) kirim satu atlet. Dibalik carut marut kepengurusan KONI, ternyata masih ad sedikit harapan, setelah atlet judo Bone pun berhasil menjadi juara dan menyumbang medali emas untuk Sulsel di event PON Bandung lalu.

Ketua PJSI Bone A Akbar mengatakan dirinya bersyukur atas keberhasilan anak asuhnya tersebut. Mengingat emas yang diraih oleh Muh Aditya di PON Ke-XIX merupakan yang pertama kalinya diraih oleh Atlet Judo Bone di PON. “Selama ini, di ajang PON Atlet Judo kami hanya mampu meraih Perunggu, akan tetapi tahun ini, kami sukses meraih emas,” ungkapnya.

Keberhasilan Muh Aditya Wahyudi meraih emas di PON ke-XIX, kata A Akbar akan membawanya pada persiapan Sea Games di Malaysia tahun depan. “Jadi saat ini, kami sisa menunggu surat saja untuk meng-ikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas) persiapan Sea Games di Malaysia,” ungkapnya.

Keberhasilan atlet Bone tersebut ternyata memunculkan harapan baru. Hal ini yang membuat Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan KONI Kabupaten Bone, mulai bergerak dan membuat MoU dalam rangka pembinaan bibit atlet usia dini,
Kadispora Bone, Drs A Pirdaus mengatakan MoU itu akan ditindaklanjuti dengan rapat internal untuk membentuk tim penjaringan bibit atlet. “Karena mengingat program pertama kalinya dilaksanakan, maka sasarannya untuk sementara kita pantau tiga kecamatan kota yakni Kecamatan Tanete Riattang, Kecamatan Tanete Riattang Timur dan Kecamatan Tanete Riattang Barat,” ungkap
Disisi lain, Sekretaris KONI A Akbar mengaku penjaringan atlet usia dini akan dilakukan berdasarkan dengan tes bakat. Bahkan penempatan atlet berdasarkan dengan kompetensi yang dimiliki.

“Untuk memaksimalkan pembinaan bibit atlet usia dini ini, kita akan melibatkan seluruh Cabang Olahraga yang ada di Kabupaten Bone,” ungkapnya. Lewat dari program itu kata Akbar, pihaknya menarget empat tahun yang akan datang sudah ada atlet usia dini di Kabupaten Bone. “Agar target itu bisa tercapai saya berharap sinergitas antara KONI dan Dispora terus dibangun,” imbuhnya.

RADAR BONE

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top