Anomali Tenaga Kerja Indonesia, PR Panjang 2017 – FAJAR sulsel
News

Anomali Tenaga Kerja Indonesia, PR Panjang 2017

Oleh : Mursalim Nohong Dosen Fak Ekonomi & Bisnis Unhas

Permasalahan ketengakerjaan di Indonesia sepertinya menjadi salah satu issu yang akan selalu hadir di sepanjang sejarah industri atau pembangunan.

Tenaga kerja Indonesia dipersepsikan tidak memiliki skill sehingga menjadi tenaga kerja murah dalam struktur tenaga kerja. Dampak lainnya, sebagian orang Indonesia (yang pada akhirnya menjadi tenaga kerja) akan bekerja apa saja sepanjang bisa mendatangkan penghasilan.

Fenomena bekerja di luar negeri menjadi daya tarik tersendiri yang dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat yang pada prinsipnya juga belum memiliki keterampilan yang memadai.

Sebagai gambaran mengenai profil Tenaga kerja Indonesia per 2016 sebanyak 127,8 juta. Bekerja sebanyak 120,8 juta sehingga angka penganggurannya masih tersisa sekira 7 juta orang.

Jika dibandingkan dengan data lain, Data resmi yang dirilis oleh pemerintah melalui situs BPS Pusat 2015 diperoleh data bahwa sebanyak 275.736 orang tenaga kerja asal Indonesia yang tersebar di beberapa negara seperti Asia Afrika dan Amerika, Afrika dan Timur Tengah, serta Eropa.

Meskipun data tahun 2016 turun menjadi 97.349 orang (62 persen perempuan), namun data tersebut hanyalah tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan ditempatkan secara resmi oleh pemerintah. Jumlah tersebut akan meningkat jika digabungkan dengan tenaga kerja yang berangkat tidak melalui jalur pemerintah alias jalur illegal.

Mengubah nasib menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat NTB dan Jawa Barat yang kemudian memutuskan menjadi TKI di negara luar. Lagi-lagi persoalan ekonomi menjadi latar belakangnya. Pengeluaran untuk konsumsi sehari-hari serat variasi kebutuhan lainnya di dalam negeri belum bisa dicukupi dengan bekerja di berbagai sektor termasuk sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa dan sebagian besar daerah di Indonesia (38,3 persen).

Adapun penyerapan tenaga kerja dalam negeri untuk sektor pedagang grosir, pedagang ritel, restoran dan hotel menyerap sekira 28,5 persen, Jasa masyarakat, Sosial dan Pribadi sekira 19,7 persen dan manufaktur sekira 16,0 persen. Bagaimana dengan angka 7 juta orang yang seharusnya ikut menikmati dampak pembangunan melalui penyerapan tenaga kerja tentu akan menjadi persoalan sendiri. Faktanya, pemerintah lalai dalam mengantisipasi dampak positif pembangunan sehingga direbut oleh bangsa lain.

Anomali ekspansi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah China ternyata berdampak ke Indonesia dalam bentuk ekspansi tenaga kerja. Fenomena ini pun menjadi ramai dan menjadi konsumsi media dan pemerintah. Saling menyalahkan datapun menjadi salah satu bentuk ketidaksiapan pemerintah Indonesia dan daerah.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah tenaga kerja asing yang ada di Indonesia per November 2016 adalah 74.183 orang. TK asal Cina, dengan 21.271 tenaga kerja, menjadi negara yang paling banyak mengirimkan tenaga kerjanya ke Indonesia, dan Jepang berada di posisi kedua dengan jumlah 12.490 tenaga kerja.Negara lainnya adalah Malaysia sebanyak 4.138 orang, Amerika Serikat sebanyak 2.812 orang, Thailand sebanyak 2.394 orang dan Australia sebanyak 2.483 orang.

Permasalahan yang seharusnya diselesaikan adalah bagaimana para TK asing itu bisa sampai di Indonesia? Bahkan sampai di pelosok-pelosok daerah seperti Takalar (Sulawesi Selatan), pedalaman Kalimantan dan lain sebagainya yang sesungguhnya di daerah itu juga sarat dengan angka pengangguran. Hery Sudarmanto (Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan) membenarkan bahwa terjadi berbagai pelanggaran di lapangan terkait penyalahgunaan izin kerja tenaga kerja asing asal Cina.

Modus yang ditemukan oleh Kemenakertrans termasuk mencantumkan posisi tenaga ahli, seperti mechanical engineering atau manajer quality control, namun ternyata pada kenyataannya posisi yang dikerjakan oleh para pekerja asing ilegal asal Cina tersebut tidak sesuai dengan yang dicantumkan.Selain itu, pihaknya juga menemukan pekerja-pekerja asing ilegal yang memang tidak memiliki izin kerja sama sekali.

Bagaimana dan kemana warga negara Indonesia yang saat ini menyandang gelar pengangguran yang angkanya mencapai 7 juta orang? Apakah akan dibiarkan mencari dan meratapi nasibnya sendiri? Bagaimana dengan salah satu point dari Nawacita Jokowi – JK yang akan menghadirkan negara pada setiap dimensi permasalahan masyarakatnya? Undangan investasi dari berbagai negara ke Indonesia termasuk dari Cina rupanya diikuti pula oleh TK yang cepat atau lambat jika aturan ketengakerjaan tidak diterapkan akan menjadi buah simalakama bagi Tenaga Kerja Indonesia?. (**)

UPEKS

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top