Ini Penyebab Meninggalnya Sopir Kasus Laka di Passippo – FAJAR sulsel
News

Ini Penyebab Meninggalnya Sopir Kasus Laka di Passippo

kecelakaan

kecelakaan

PENULIS : HERMAN KURNIAWAN

WATAMPONE, RB—Pihak kepolisian akhirnya menyimpulkan penyebab kematian Ahmad, supir truk yang tewas dalam kecelakaan beruntun di jalur poros Bone-Makassar, tepatnya di Desa Passippo, Kecamatan Palakka, Minggu 25 Desember lalu sekira pukul 17.00 Wita. Kasat Lantas Polres Bone, AKP Andi Samsulifu yang dikonfirmasi RADAR BONE, Rabu 28 Desember kemarin mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap saksi-saksi disimpulkan, bahwa korban meninggal karena sakit yang diderita.

“Itu murni karena sakit. Korban memang sudah meninggal di atas mobil. Kemudian truk yang dia kemudikan berjalan mundur lalu menabrak dua mobil avanza yang ada di bekalang. Saya sudah periksa sejumlah saksi termasuk dua orang supir mobil avanza, serta penumpangnya dan tidak ada indikasi adanya penganiayaan,” jelas Syamsulifu. Sayangnya, Syamsulifu tidak membeberkan sakit yang diderita korban.

Mengenai adanya luka di bagian wajah korban, menurut Syamsulifu pada saat jatuh kepala korban terbentur pada besi dan aspal. “Yang pertama membuka pintu mobil korban adalah rekannya sendiri yang saat itu sama-sama mengangkut bahan bangunan. Waktu dibuka pintu korban terjatuh, rekannya ini berusaha menahan namun karena berat hingga akhirnya korban terjatuh dan mengalami luka-luka,” bebernya tanpa menyebut nama rekan korban yang disebut membuka pintu mobil korban.

Kesimpulan tersebut diambil polisi setelah melakukan pemeriksaan selama tiga hari terhadap saksi-saksi.
Syamsulifu menegaskan tak ada unsur penganiyaan dalam kematian korban. “Tidak ada penganiayaan. Itu info tidak benar, murni meninggal karena sakit,” tutupnya. Salah satu supir mobil avanza, Jurdil Hamzah cuma memperkirakan korban meninggal di atas mobil sebelum truknya berjalan mundur dan melindas mobilnya.

“Tiba-tiba truk itu berjalan mundur di tanjakan. Supirnya mungkin meninggal karena waktu saya lihat memang sudah tergeletak di pinggir jalan,” katanya. Sementara pihak keluarga korban menyatakan selama ini Ahmad tidak mengidap penyakit apapun. “Kalau disebut ada penyakitnya (Ahmad). Rasanya tidak mungkin, karena selama ini dia tidak ada keluhan,” kata Muliadi, sepupu korban didampingi istrinya Sarniati.

Muliadi mengaku kenal betul dengan kondisi korban, karena sejak kecil selalu bersama. Bahkan ibarat saudara. Diakui Muliadi, dirinya dan korban merupakansepupu sesusuan. Makanya, tak heran jika mereka cukup dekat. Kedekatan itu berlanjut hingga mereka dewasa. Persoalan yang dihadapi korban, termasuk hingga terkait kerusakan kendaraan, kata Muliadi, dirinya selalu membantu. Karenanya, dia sangat heran jika korban disebutkan tewas karena sakit, karena tak pernah ada keluhan dari korban. Bahkan sebelum kejadian, Muliadi sempat berkomunikasi dengan korban menanyakan kesiapannya menghadiri hajatan pernikahan di Lamuru.

“Waktu saya telepon pertama dia bilang posisinya di Passippo. Tapi sesampai di rumah, saya telpon ulang, yang angkat teleponnya orang lain, katanya Ahmad meninggal karena kecelakaan,” tutur Muliadi.
Kematian Ahmad pada kecelakaan beruntun tersebut menyisakan teka-teki. Betapa tidak hasil visum di RSUD Tenriawaru menunjukkan ada sejumlah luka di tubuh korban. Selain luka terbuka juga terdapat luka lebam. Kemudian ada luka robek pada dahi diperkirakan 1 cm, gigi bawah goyang, lebam dan bengkak pada kelopak mata, darah keluar dari hidung dan mulut, luka lecet pada jempol kaki. Di bagian dahi juga ditemukan luka, tapi bekas luka lama.

“Hasil visum itu hanya luka bagian luar saja,” kata perawat jaga bagian kamar mayat, Rijal saat ditemui RADAR BONE, Senin 26 Desember lalu. Tak hanya luka-luka tersebut, keluarga korban juga menemukan beberapa luka tak wajar di tubuh Ahmad saat dimandikan. Selain sejumlah luka yang sudah tercatat dalam hasil visum dokter RSUD Tenriawaru, beberapa luka lain ditemukan di beberapa bagian tubuh korban, seperti luka lebam di punggung dan di betis. Tak hanya itu, saat mandikan juga keluar cairan berwarna putih dari bagian kepala yang diduga isi otak korban. “Kematian Ahmad tidak masuk akal jika dia meninggal tanpa ada tindak kekerasan. Karena di badannya ada yang luka. Bahkan pada saat dimandikan selain luka di kepala dan muka juga ada warna hitam seperti bekas pukulan di bagian punggung serta bagian betisnya,” tutur Muliadi didampingi istrinya Sarniati, sepupu korban saat ditemui RADAR BONE, Selasa 27 Desember lalu.

Ditambahkan Sarniati, dirinya juga melihat hal yang janggal dalam kejadian itu, yakni posisi korban ditemukan tergeletak di belakang truknya dengan sejumlah luka di tubuhnya. Karenanya, mustahil, kata Muliadi jika korban tewas akibat terbentur.
Apalagi tidak ditemukan bekas luka atau kerusakan di mobil. Karenanya, dia mendesak pihak kepolisian untuk menyelidiki dugaan penganiayaan dalam kasus kecalakaan truk 10 roda versus avanza tersebut.

“Kami meminta kepada pihak kepolisian untuk menyelidiki kejadian itu. Supaya dapat diketahui apakah korban mati dibunuh atau tidak. Karena pada saat saya datang menjemput itu mayat dia berada di belakang truk, kemudian banyak lukanya. Kami tidak menuduh, tapi itu perlu diselidiki untuk dipastikan kematiannya, karena saya sendiri orang biasa, tapi jika melihat kejadian itu tidak masuk akal jika meninggal kalau terbentur di mobilnya saat menabrak. Karena tidak ada juga bekasnya di mobil, sedangkan mayatnya bukan ditemukan di tempat duduknya,” tegas Sarniati.

Agar kasus ini segera menemui titik terang, Muliadi mengatakan pihaknya segera melaporkan dugaan tindak kekerasan dalam kematian Ahmad ke polisi. “Saya akan laporkan ke polisi untuk ditindak lanjuti, karena tentu polisi lebih mengetahui hal seperti itu,” jelasnya.
Dengan komunikasi Muliadi dengan korban beberapa saat sebelum kejadian menunjukkan, bahwa korban tidak mengeluh sakit hingga ditemukan tergeletak tak bernyawa di dekat truknya.

RADAR BONE

loading...
Click to comment
To Top