Re-Solusi 2017 – FAJAR sulsel
News

Re-Solusi 2017

Oleh : Mursalim Nohong

Hiruk pikuk sisa pesta tahun baru masih membekas di sebagian masyarakat. Suara gaduh petasan dan kembang api tanpa makna tetap terngiang di telinga. Bisa dibayangkan hanya gegara peristiwa pergantian tahun (2016 ke 2017), beberapa orang rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar untuk sebuah euphoria sesaat.

Ekonom bisa saja menyatakan bahwa ada pergerakan ekonomi yang dirasakan oleh pelaku bisnis kembang api dan terompet. Dalam skala besar, occupancy hotel meningkat dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya. Pelaku bisnis warung dan restoran harus menambah stocknya untuk mencover permintaan konsumen paling tidak selama pesta penyambutan tahun baru berlangsung.

Tentu pandangan seperti ini hanya dari satu sisi sehingga perlu juga menganalisis secara cermat sisi lainnya misalnya tumpukan sampah yang ditinggalkan, penangkapan beberapa orang yang akan mengedarkan obat-obat terlarang di malam tahun baru, alat-alat kontrasepsi yang ditemukan ditempat-tempat hiburan dan lain sebagainya.

Kesederhanaan yang dipertontonkan oleh Presiden Jokowi dengan hanya menggunakan sarung di halaman Istana seolah ingin memberikan pembelajaran bahwa menyambut tahun baru itu tidak mesti dengan bermewah– bermewahan, dengan aksi bakar-bakaran dan bunyi-bunyian, ataupun dengan aksi lain yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi diri sendiri paling tidak terhadap kesehatan.

Pemandangan lain sebagaimana dilakonkan oleh Walikota Surabaya bersama masyarakatnya yang melewatkan tahun 2016 dengan menggelar doa bersama. Tahun Baru, Walikota Surabaya: “Tidak Ada Merecon dan Konser Musik, Hanya Ada Do’a Bersama” demikian judul salah satu media nasional. Pak Jokowi dan Bu Risma merupakan sosok orang yang memiliki sejumlah prestasi nasional dan internasional.

Sosok yang patut diteladani termasuk dalam hal menyambut tahun baru 2017 dan tahun baru tahun baru yang akan datang. Doa dan kesederhanaan dari dua orang tokoh nasional tersebut seharusnya mengilhami pemerintah daerah lainnya untuk tidak larut dalam euforia pesta tahun baru apalagi kalau sampai penyelenggaraaannya menggunakan uang rakyat.

Fenomena lain yang trend di awal tahun adalah momentum pergantian tahun dimaknai oleh sebagian masyarakat sebagai momen untuk membangun resolusi. Resolusi 2017 yang dibangun akan menjadi guidance terhadap diri pribadi serta terhadap lingkungannya.

Meskipun istilah resolusi biasanya lebih familiar dengan dunia teknologi, tetapi secara konseptual, re·so·lu·si adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.

Resolusi bisa juga diartikan sebagai tujuan yang hendak dicapai untuk tahun-tahun ke depan. Resolusi adalah Kepercayaan diri dan tekad dalam mencapai tujuan, harapan, cita-cita atau planning yang akan dicapai setahun ke depan. Resolusi tidak saja sebuah tuntutan tetapi juga merupakan semangat untuk bertindak sesuatu yang mendasar dalam kehidupan yang pengaruhnya sangat besar dalam kehidupan sepanjang tahun yang akan di jalaninya.

Jika resolusi itu berhasil dilaksanakan, maka satu langkah besar dalam kehidupan seseorang untuk sampai kepada cita-cita dan tujuan hidupnya. Simpulannya, Resolusi merupakan upaya-upaya strategik yang dibangun dan diimplementasikan dari sebuah proses yang melibatkan individu dan sosial untuk pencapaian lebih di masa yang akan datang. Resolusi optimal akan menjadi motivasi sehingga memudahkan seseorang atau organisasi mewujudkan rencana-rencana strategiknya karena dibangun dari olah pikir rasional terhadap faktor pendukung keberhasilan dan kegagalan sebelumnya.
Untuk membangun sebuah resolusi yang optimal, paling tidak harus memerhatikan beberapa hal diantaranya; 1). Resolusi harus dikembangkan dari solusi yang pernah diimplementasikan sebelumnya tapi dianggap belum optimal dalam implementasinya, 2). Resolusi dibangun secara sengaja diatas kepercayaan diri bukan ikut-ikutan apalagi copy and paste, 3). Melibatkan keunggulan individual dan sosial (stakeholders), 4). Mempertimbangkan perubahan lingkungan, 5).

Dilakukan secara cepat dan tepat (Problem based), 6). Memiliki dimensi waktu. Namun hal yang terpenting sesungguhnya adalah dokumentasi resolusi yang disertai dengan aksi-aksi strategic yang akan menopang setiap aktivitas yang dijalankan. Dokumentasi resolusi harus benar-benar diikuti meskipun dalam perjalanannya bisa saja ada sejumlah perbaikan dari hasil monitoring dan evaluasi terstruktur.

Resolusi yang optimal tidak akan lagi melahirkan kasus kebakaran kapal yang menelan korban, tidak akan ada lagi seorang pilot yang siap bertugas meskipun dalam keadaan mabuk, tidak perlu lagi ada Bupati yang korupsi, tidak perlu lagi ada kegiatan yang hanya menghamburkan uang rakyat. Resolusi optimal akan memudahkan bangsa Indonesia mewujudkan kemandirian dan kedaulatan yang dicita-citakan.

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top