Picu Kenaikan Harga Sembako – FAJAR sulsel
News

Picu Kenaikan Harga Sembako

picu

BBM Non Subsidi Naik

MAKASSAR,UPEKS.co.id — PT Pertamina (Persero) kembali mengerek harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax, Pertalite dan Dexlite sebesar Rp300 per liter.

Kebijakan tersebut dipastikan akan memicu melambungnya harga bahan pokok di pasaran. Pengamat Ekonomi Sulsel, Prof Dr H Muslimin Kara M Ag menuturkan, kenaikan BBM tersebut dipastikan akan mempengaruhi inflasi di awal tahun 2017. Akibatnya, memicu kenaikan harga-harga di pasar.

“Jika BBM naik, secara otomatis akan mempengaruhi kebutuhan pokok lainnya, bahkan perihal jasa kendaraan umum turut naik juga. Perlu juga diantisipasi kenaikan harga bahan pokok di pasaran,” katanya. Idealnya, kata dia, pemerintah seharusnya menaikkan secara bertahap. Selisih naiknya kisaran Rp300.

“Sepatutnya pemerintah, tidak langsung mematok harga yang tinggi harus menyesuaikan dulu dengan kondisi ekonomi rakyat khususnya masyarakat kecil karena dipastikan akan mempengaruhi inflasi,” ujarnya.

Ditanyai terkait harapan, dia menuturkan seiring kenaikan harga BBM sekiranya pemerintah memberikan kebijakan subsidi kepada masyarakat kurang mampu, seperti yang dilakukan sebelumnya. “Kasihan rakyat kecil, jika BBM naik, tanpa ada perhatian khusus dari pemerintah dalam hal ini subsidi tentunya,” ketusnya.

Sementara itu, Area Manager Communication dan Relation Pertamina Wilayah VII Sulawesi, Hermansyah Nasroen mengatakan, harga tersebut berlaku sejak 5 Januari 2017 pukul 00.00 dan akan kembali dievaluasi dua minggu ke depan. Harga BBM nonsubsidi dievaluasi dua kali setiap bulannya dan konsumen dapat melihatnya pada totem di SPBU.

Evaluasi harga bahan bakar non subsidi yang merupakan aksi korporasi Pertamina tersebut dilakukan merespons perkembangan harga indeks pasar gasoline untuk periode penetapan harga medio Desember 2016 serta kurs rupiah terhadap dollar pada periode yang sama yang sedikit melemah.

Perubahan harga juga diberlakukan di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk di wilayah Sulawesi. “Kami akan tetap mempertahankan tingkat daya saing produk-produk Pertamina baik terkait kualitas maupun harga,” ujar Hermansyah. Hingga akhir 2016, secara nasional market share Pertalite telah mencapai 32%, Pertamax 19%, dan Premium telah menyusut ke angka sekitar 45%, dan market share lainnya diraih oleh Pertamax Turbo yang terus melejit menggantikan posisi Pertamax Plus.

“Tentu saja kami sangat berterimakasih atas kepercayaan konsumen yang begitu tinggi terhadap produk-produk Pertamina,”tutupnya. Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Pusat, Wianda Pusponegoro seperti dikutip dalam situsnya mengatakan, penetapan harga BBM Umum jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite dan Pertalite merupakan kebijakan korporasi Pertamina setelah dilakukan kajian secara berkala.

Perubahan harga ini terhitung mulai pukul 00.00 WIB tanggal 5 Januari 2017. “Penyesuaian dilakukan sebesar Rp300 per liter untuk seluruh jenis BBM umum di semua daerah,” tutur Wianda melalui siaran pers dikutip Kamis (5/1). Lebih lanjut Wianda mengatakan, Pertamina akan terus mengupayakan untuk memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat yang telah menjadi konsumen loyal produk-produk perusahaan.

Dia menjelaskan, permintaan BBM umum terus meningkat dari hari ke hari. Ini menunjukkan bahwa konsumen telah semakin peduli terhadap kenyamanan berkendara dengan memilih BBM yang lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan spesifikasi kendaraannya. “Selama masa Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 ini, konsumsi Pertamax dan Pertalite telah merebut sekitar 57 persen pangsa pasar gasoline.

Ini menggambarkan tingkat penerimaan konsumen terhadap produk-produk BBM non subsidi Pertamina semakin baik,” pungkas Wianda. Lantas apakah kenaikan harga BBM non bersubsidi ikut mempengarhi harga sembako di Makassar?. Sementara itu, salah seorang pedagang di Pasar Terong, Muhammad Ali mengatakan, harga sembako semakin naik perlahan-lahan. Harga-harga seperti daging sapi lokal Rp90.000 kg naik menjadi Rp95 ribu.

Sedangkan cabai merah keriting juga ikut-ikutan naik dari Rp25.000 kg naik sedikit menjadi Rp30.000 kg. “Payah ini, harga lagi naik semua. Akibatnya, pembeli semakin sepi,” keluhnya seraya berharap agar pemerintah tetap menjaga kestabilan stok. Ditanya mengenai harga bawang merah, bapak tiga anak ini menyebutkan, harganya juga sudah naik dari Rp18.000 menjadi Rp23.000. Harga-harga bahan pokok di pasar tradisional mengalami perubahan. (mg1-mg4)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top