Pasokan Cabai dari Daerah Menipis – FAJAR sulsel
News

Pasokan Cabai dari Daerah Menipis

16-07-f-memet-harga_cabai_kian_pedas_1

MAKASSAR,UPEKS.co.id — Awal tahun 2017, harga cabai rawit mengalami kenaikan yang cukup signifikan di Pasar Pabaeng-baeng Makassar. Tingkat kenaikannya mencapai 50 persen. Kondisi demikian disebabkan karena pasokan cabai dari daerah semakin menipis.

Seorang Pedagang Pasar Pa’baeng-baeng, Suharni (30) mengatakan, jenis cabai yang mengalami kenaikan yakni cabai rawit merah dan hijau. Harga cabai rawit merah melonjak dari semula Rp70.000 per kilogram (kg) menjadi Rp100.000 per kg dalam beberapa pekan terakhir.

Sedangkan untuk harga cabai rawit hijau Rp40.000 per kg menjadi Rp70.000 per kg. “Kenaikan harga cabai berkisar antara Rp20.000-Rp30.000. Jenis cabai yang harganya melonjak paling tinggi adalah cabai rawit merah,” ungkapnya.

Meski demikian, kata Suharni, cabai merah besar dan hijau harganya masih stabil. Harga cabai merah besar dan hijau antara Rp40.000-Rp45.000 tergantung kondisi cabai masih bagus atau sudah mulai rusak.

Menurut ibu rumah tangga ini, kenaikan harga disebabkan menipisnya pasokan dari sejumlah daerah sentra penghasil cabai, seperti Takalar, Malino dan Jeneponto akibat curah hujan yang tinggi membuat banyak petani cabai mengalami gagal panen.

“Pasokan dari petani berkurang, karena mereka banyak yang gagal panen akibat hujan yang turun terus menerus,” ucapnnya.

Suharni mengaku biasanya mendapat pasokan cabai hingga satu kuintal per hari. Namun kini jumlah pasokan berkurang hingga separuhnya. “Harapanya pasokan akan meningkat kembali sehingga harganya akan berangsur turun,” pungkasnya.

Kenaikan harga beberapa bahan komoditi di Makassar terjadi sejak awal tahun 2017. Salah satu yang paling melonjak yakni harga cabai yang sempat menyentuh Rp100 ribu per kilogram.

Mendapat laporan terkait kenaikan harga komoditi itu, Menteri Pertanian (Mentan) RI Amran Sulaiman, Sabtu (7/12/17), langsung meninjau harga komoditi itu di Pasar Terong, Makassar.

Hasilnya, ia bersama rombongan menemukan bahwa harga cabai di lapangan sudah mulai terkendali.”Tadi (Sabtu) pagi-pagi, saya dan staf sudah mengecek harga cabai di pasar dan ternyata harganya sudah turun. Malah harganya sudah Rp50 ribu per kilogram,” ungkap Menteri Amran.

Menurut Amran, cabai sebenarnya hanya salah satu komoditas dari belasan komoditas yang harus diamankan di seluruh daerah di Indonesia.

“Jadi kita jangan hanya karena persoalan cabai satu ini saja, lalu yang lainnya terlewatkan. Anda harus lihat, sekarang kita tidak impor beras lagi, tidak impor bawang lagi. Dan cabai, meski sempat naik harganya, kini sudah turun lagi,” katanya.

Sekadar diketahui, lima hari pasca pergantian tahun, harga kebutuhan pokok khusunya cabai di Sulsel belum juga stabil. Data Dinas Perdagangan Sulsel, mencatat setiap hari terjadi perubahan harga. Ada yang naik, ada pula yang turun.

“Harga fluktuatif itu biasa. Apalagi pada kondisi seperti ini. Nanti juga akan stabil. Biasanya pertengahan bulan,” ujar Kadis Perdagangan Sulsel, Hadi Basalamah, belum lama ini.

Di Makassar, harga cabai rawit merah diawal tahun bahkan sempat menginjak Rp100 ribu per kg, kemudian jadi Rp80 ribu per kg, dan kini menjadi Rp50 ribu per kg.

Selain memantau harga cabai di pasar tradisional di Makassar, Menteri Amran juga melakukan peninjauan sekaligus meresmikan Bendungan Tampala Parangloe, Kelurahan Tompobulu, Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros.

Di hadapan Bupati Maros Hatta Rahman, Amran mengimbau agar dana desa yang ada di daerahnya sebaiknya digunakan utuk membangun embung dan sumur buatan untuk menadah air.

“Aliran air di sini, sama dengan di Jawa, aliran Sungai Bengawan Solo, jadi memang butuh juga pompanisasi, sehingga besok akan kami kirimkan. Sehingga nanti saat kemarau datang, semua lahan tidur, kita bangunkan,” ujar Amran.

Menurut Amran, dengan adanya bendungan tersebut, maka dalam setahun bisa diberlakukan tiga musim tanam. Musim tanam pertama dan ketiga itu jenis padi dan ditengahnya jenis palawija.

“Jadi saat musim hujan selesai, masuk musim kemarau, embung dan pompanisasi bisa dimanfaatkan untuk menanam seperti cabai dan bawang. Hasilnya ini semua nanti bisa di suplai ke kota terdekat seperti Makassar. Karena Maros ini kan punya lahan, Makassar itu tidak,” katanya.(mg5-eky/rif)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top