Ratusan Hektar Sawah di Bone Terancam Gagal Panen – FAJAR sulsel
News

Ratusan Hektar Sawah di Bone Terancam Gagal Panen

20170110_113128

Petani Kesulitan Air

PENULIS : ROSDIANA SULJA

WATAMPONE, RB—Sungguh ironis, belum reda gema suara teriakan petani yang kesulitan mendapatkan pupuk pada musim tanam rendengan hingga awal musim tanam gaduh tahun ini, masalah yang lebih besar kembali menghadang para pekerja ulet ini.

Minimnya curah hujan sejak dua bulan terakhir membuat lahan sawah pada retak. Tanaman padi yang baru tumbuh pun layu bahkan sudah banyak menguning sebelum berbuah. Seperti lahan persawahan milik Kelompok Tani (Poktan) Malluse Salo dan Poktan Sappewalie, di Kelurahan Tibojong Kecamatan Tanete Riattang Timur.

“Kami tidak tahu harus berbuat apalagi. Karena sebenarnya ada mesin pompa air bantuan pemerintah, namun sumber airnya yang tidak ada,” tutur Alimuddin, Ketua Poktan Malluse Salo yang ditemui RADAR BONE sedang melihat lahan sawah yang retak di Jl Abu Dg Pasolong, Selasa 10 Januari kemarin.

Menurut petani yang akrab disapa Aco ini, sebenarnya ada rencana pengeboran. “Hanya saja kami pesimis bisa berhasil karena sudah ada beberapa warga sebelumnya melakukan pengeboran, tetapi gagal tidak mendapatkan air,” katanya.

Petani yang lain, Syarifuddin juga mengungkapkan hal senada. “Untung ada beberapa petak sawah yang selamat dan berhasil berbuah karena dipompakan air dari irigasi. Tapi hama tikus lagi yang menyerang dan hanya menyisakan tanaman pinggir-pinggirnya saja,” ucapnya.

Nasib sama dialami petani asal Desa Jaling Kecamatan Awangpone, Rise. “Syair lagu bugis, ‘Cella Pance’ sudah jadi kenyataan. Tanaman padi saya menguning sebelum berbuah karena tidak ada air,” katanya dengan nada prihatin.
Petani ini berharap ada upaya Pemerintah Kabupaten Bone (Pemkab) Bone segera agar masih ada tanaman padi mereka bisa terselamatkan.

“Kalau ada pengairan, maka tanaman padi kami yang sementara berbuah dari sisa tikus masih bisa dipanen. Kalau dalam sebulan ini tidak ada air, maka terpaksa hanya bisa pasrah urut dada,” kata Syamsuddin, Petani asal Tellu Siattinge.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Bone, Ir H Sunardi Nurdin MSi yang dikonfirmasi RADAR BONE melalui sambu-ngan telepon membeberkan luas areal persawahan di Kabupaten Bone mencapai 110.760 hektar.

“Sekira 60.000 hektar merupakan sawah tadah hujan dan selebihnya menggunakan irigasi,” katanya. Ditanyai mengenai keprihatinan petani karena lahan sawahnya dilanda kekeringan, Kadistan malah menyalahkan petani.
“Dari awal kami memang imbau petani agar menanam palawija pada musim tanam gaduh ini karena memang diperkirakan curah hujan minim,” katanya.

Hanya saja, dikarenakan pada awal musim tanam curah hujan tinggi, maka petani yang awalnya bertekad untuk menanam palawija, malah ramai-ramai menanam padi. Dia pun memperkirakan luas areal tanam yang dilanda kekeringan mencapai 20 ribu hektar.
“Kami belum tahu angka pas-tinya karena ada petugas khusus yang sekarang ini melakukan pendataan. Tapi tentu saja dampak terparah kekeringan terutama sawah tadah hujan,” ungkapnya.

*

RADAR BONE

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top