Prof Dr Taruna Ikrar Temukan Obat Anti Penyakit Jiwa Menahun – FAJAR sulsel
News

Prof Dr Taruna Ikrar Temukan Obat Anti Penyakit Jiwa Menahun

MAKASSAR, UPEKS.co.id — Ilmuwan Indonesia Prof Dr Taruna Ikrar menemukan bahwa pelatihan kognitif (cognition) yaitu proses kesadaran, mental dan termasuk aspek memori atau ingatan, kemampuan mengerti, dan pengambilan keputusan selama fase perkembangan otak, menjadi acuan dasar pengobatan atau menurunkan resiko para masyarakat yang memiliki resiko menderita gangguan jiwa berat.

Dari penemuan Prof. Dr. Taruna Ikrar, Ilmuwan Indonesia di Universitas California, baru- baru ini yang dipublikasikan hasil penelitian terbaru yang diterbitkan di (jurnal Neuron Edisi Oktober 2016, halaman 160-173, dengan judul: Neuregulin-1/ErbB4 signaling regulates visual cortical plasticity) dengan berasumsi pada kemampuan plastisitas jaringan saraf, perkembangan otak, dan fungsional kompensasi.

Dewasa ini, dalam hal pengobatan gangguan jiwa berat, dengan jalan perawatan di Rumah Sakit Jiwa, hal ini demi keamanan pasien dan masyarakat sekitarnya. Selanjutnya diberikan obat anti psikotik, baik berupa obat kimia, maupun pengobatan supportive dan ECT (Electro Convulsive Therapy).

Pada umumnya, obat antipsikotik mengubah keseimbangan kimia dan eletrolit, serta neurotransmitter di otak sehingga dapat membantu mengendalikan gejala, namun memberikan efek samping terhadap penderita.

Pengobatan penunjang juga bermanfaat bagi banyak penyembuhan gangguan jiwa berat. Terapi supportif itu, misalnya; pelatihan keterampilan sosial, dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi sosial dan pekerjaan. Peran Keluarga harus diikutsertakan, untuk mendukung penyembuhan penderita. Karena penyakit gangguan jiwa berat merupakan penyakit menahun, maka kesembuhan pasien sangat tergantung pada kedisiplinan penderita meminum obat.

Untuk membuktikan keyakinan para ilmuwan tadi memberikan jawaban yang luar biasa, Prof. Dr. Taruna Ikrar, dan timnya melaporkan, bahwa pada fase neonatal hewan coba yang terdapat kerusakan pada pusat saraf di otak (visual cortex) sebagai model hewan penderita penyakit gangguan jiwa berat, yang diberi label (NRG1 atau Neuregulin-1 ). Dan dengan menggunakan standar dan parameter khusus pada pelatihan kognitif (proses kesadaran dan mental, ingatan, pengertian, dan kemampuan pengambilan keputusan) sewaktu masih muda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: hewan coba yang mengalami pelatihan sejak fase neonatal atau fase muda: meningkatkan sikronisasi di otak, meningkatkan kemampuan bertindak dan kemampuan mengingat, kestabilan kondisi mental yang tidak berbeda atau
memberikan hasil yang sama dengan control/normal.

Dengan aplikasi obat yang disebut NRG1 (Neurogulin-1). Menunjukkan hasil bahwa sikronisasi dan synapsis dan harmoni di otak, menjadi normal, setelah pemberian NRG1.

“Berdasarkan hasil penemuan NRG1 kami akan melanjutkan dalam penelitian pada pasien-pasien penderita penyakit Schizophrenia di Rumah sakit. Sehingga diharapkan proyek penelitian ini rampung,” ujar Prof. Dr. Ikrar.

Jika hasil uji klinis pada manusia memperlihatkan hasil yang sama, berarti NRG1 akan menjadi obat molecular yang sangat ampuh untuk mengobati penyakit jiwa menahun dewasa ini.

Berdasarkan hal tersebut di atas, berarti penderita ataupun keturunan, anak dan bayi-bayi yang terlahir dari keluarga penderita gangguan jiwa berat, ataupun mengalami gangguan akibat kerusakan di diotak sejak kecil yang memiliki kecendrungan menderita gangguan jiwa berat setelah dewasa. Pada prinsipnya bisa dilakukan tindakan pencegahan (Profilaksis), dengan melakukan pelatihan kognitif sejak masa muda/remaja ditambah pemberian formula NRG1.

Sehinga pada saat berkembang menjadi dewasa tidak lagi menderita Gangguan jiwa berat. Hal ini akan membantu mengurangi biaya pengobatan, mengurangi kerugian akibat penderitaannya. (Mimi)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top