Mendulang Rupiah dengan Melestarikan Kearifan Lokal – FAJAR sulsel
News

Mendulang Rupiah dengan Melestarikan Kearifan Lokal

T-Shirt Siput Laboratory

Geliat dunia fashion kini memang semakin menyeruak ke permukaan. Salah satunya adalah kaos distro. Fashion yang identik dengan kaum muda ini menjadi sebuah fenomena tersendiri yang layak diperhitungkan. Fenomena inipun menghadirkan peluang besar bagi siapa saja yang ingin bergerak di dunia bisnis kaos distro.

Laporan: Hasmiati Mus
—————————–
Makassar

Berawal dari keinginan menuangkan imajinasi dalam wujud karya yang bernilai ekonomis, empat pemuda alumni Universitas Negeri Makassar (UNM) berkolaborasi mengelola usaha T-shirt berkualitas sejak 2011 lalu. Bisnis T-shirt mereka namakan Siput Laboratory.

Empat pemuda tersebut, yakni Firman (Vayer Hanafi), Faisal Abdullah (Coco Logy), Ilham Basri (Ilham) Wahyuni Usman (Uny).
Salah seorang pengelola Siput Laboratory, Firman menuturkan, jika usaha T-Shirt yang dikelola bersama keempat rekannya tersebut merupakan wujud keinginan menuangkan kreativitas menjadi produk berkualitas yang nyaman dikenakan.

Lebih lanjut dijelaskan pria yang akrab disapa Vayer Hanafi ini, T-shirt yang dipasarkan pun tidak hanya bersoal pada kualitas baju. Namun juga dilengkapi dengan pesan-pesan moral. “Tidak hanya menawarkan kenyamanan bagi pembeli, tapi pesan-pesan yang tertulis di baju dapat mengedukasi si pemakai bahkan siapa saja yang membacanya,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, kata dia, jika produk T-Shirt Siput Laboratory juga sebagai wujud pelestarian kearifan lokal provinsi Sulsel.
“50% produk kami mengimplementasikan tentang budaya lokal seperti Paraga dan masih banyak lainnya. Karena kami merasa, melestarikan budaya lokal dalam wujud ekonomi akan lebih mudah tersalurkan dan juga akan lebih mudah dikenal oleh masyarakat luar,” akunya.

Selain itu, tambah Vayer, produk lainnya pun disesuaikan dengan observasi yang dikaji dalam bentuk imajinasi. Dalam hal ini, pihaknya memproduksi baju sesuai kebutuhan masyarakat dan hasil pemikiran mereka berempat.

“Harganya mulai Rp90.000 hingga Rp120.000. Dan lebih menariknya, kami tidak produksi dua kali. Sehingga T-shirt kami jarang ditemui ada yang kembar. Bahkan, biasa masih ada yang mengorder tapi kami konsisten tidak memproduksinya lagi demi kenyamanan pelanggan tentunya,” jelasnya.

Alhasil, dalam sekali produksi yakni kisaran 150 lembar, nyaris terjual dari luar target. “Alhamdulillah, minat pembeli kian meningkat, bahkan dalam sekali produksi, jualannya ludes terjual,” ujarnya.

Kendati demikian, Vayer mengaku, jika ingin merintis dan mengelola suatu usaha, yang paling penting adalah menjaga kualitas produk dan memiliki nilai edukasi.

“Semua pelaku usaha tentunya menginginkan omzet yang maksimal, tetapi yang lebih penting adalah kualitas dan nilai edukasi jualan yang ditawarkan. Jika perihal ini dapat diterapkan maka pencapaian omzet yang maksimal mutlak tercapai,” ujarnya.(*)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top