KUR Atasi Keterbatasan Modal UKM – FAJAR sulsel
News

KUR Atasi Keterbatasan Modal UKM

MAKASSAR,UPEKS.co.id — Langkah pemerintah pusat menaikkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor produksi langsung mendapatkan respon positif dari kalangan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pasalnya, KUR produksi membantu pelaku UKM dalam menjalankan usahanya. Permodalan UKM dapat teratasi.

Ketua UKM Mutiara Timur, Waqas Mahmoed saat dihubungi Upeks kemarin mengatakan, tahun ini pelaku UKM semestinya bersyukur. Selain mendapatkan regulasi khusus, pemerintah juga menaikkan jumlah KUR utamanya sektor produksi. “Kami sangat menyambut baik dengan penambahan KUR sektor produksi,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution seperti dikutip dalam lamannya mengatakan, total plafon penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di tahun 2017 adalah sebesar Rp110 triliun. Angka ini berlaku 2017 sehingga tidak merugikan penyalur yang telah menyalurkan KUR di tahun 2017 sebelum plafon penyaluran KUR ini ditetapkan.

Selain itu, porsi penyaluran KUR berdasarkan skema adalah 81% untuk KUR Mikro, 18% untuk KUR Ritel, dan 1% untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Subsidi bunga KUR Mikro berubah menjadi 9,55%. Porsi penyaluran KUR di sektor produksi (pertanian, perikanan, dan industri) ditargetkan naik hampir dua kali lipat menjadi 40% di tahun 2017 dari realisasi tahun lalu sebesar 22%.

Mantan Gubernur BI ini berharap penyaluran KUR untuk sektor produksi pertanian lebih merata pada komoditas-komoditas selain padi.

“Saya sebetulnya berharap kredit untuk sektor produksi pertanian itu tidak hanya untuk padi, tapi juga bisa tebu, bawang merah, dll,” ujar Darmin Nasution saat memimpin Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Pembiayaan Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Adapun realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) per 31 Desember 2016 sebesar Rp94,4 Triliun atau 94,4% dari target penyaluran Rp100 T. Non Performing Loan (NPL) sebesar 0.37% dan tersalurkan pada 4.362.599 debitur. Kendati angka ini sedikit di bawah target, namun patut diapresiasi di tengah kondisi melemahnya perekonomian global.

KUR Mikro memiliki porsi penyaluran terbesar yaitu sebesar Rp 65,6 Triliun (69,5%), diikuti dengan KUR Ritel sebesar Rp 28,6 Triliun (30,3%), dan KUR Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebesar Rp 177 Miliar (0,2%).

Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi penyalur KUR dengan penyaluran tertinggi sebesar Rp 69,4 Triliun, diikuti dengan Bank Mandiri sebesar Rp 13,3 Triliun, dan BNI sebesar Rp 10,3 Triliun. Sisanya disumbangkan oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan penyalur lainnya.

Sepakat dengan Menko Darmin, Ketua OJK juga menjelaskan tantangan utama saat ini adalah bagaimana menggeser alokasi KUR ke sektor-sektor produksi.

“Itu PR besar bagi kita. Sektor produksi tentunya memiliki karakteristik yang berbeda dengan sektor perdagangan. Kita perlu segera mendiskusikan lending model yang sesuai dengan karakteristik sektor produksi tersebut,” tegasnya. (mg01/rif)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top