”Guru Besar Kita Kalah Profesor Negara Tetangga” – FAJAR sulsel
News

”Guru Besar Kita Kalah Profesor Negara Tetangga”

* Dua Rektor di Palopo Dukung Impor Profesor

PALOPO — Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemendikti) rencana impor sekitar 500 guru besar asing ke Indonesia. Ini akan dilakukan tahun 2017 ini. Kebijakan ini ditanggapi parlemen.

Mereka menyoroti kebijakan tersebut. Jangan sampai profesor yang bukan berasal dari Indonesia, tak memahami Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, Rektor IAIN Palopo, Dr Abdul Pirol, MA dan Rektot UNCP mendukung kebijakan tersebut. Karena ini jadi cambuk bagi guru besar di Indonesia.

Rektor IAIN Palopo, Dr Abdul Pirol, melihat dari sudut positifnya saja. ”Kalau memang tujuannya untuk meningkatkan kelas PT di Indonesia dan mensejajajarkan kampus ternama di dunia, tidak ada masalah,” ujarnya, Minggu 29 Januari 2017, kemarin.

Ia tentu saja welcome terhadap profesor yang datang. Apakah itu dari Amerika, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. ”Sepanjang tujuannya bagus, tidak menjadi masalah,” sebut Pirol.

Kata dia, rencana menteri itu pastinya diawali dengan pertimbangan-pertimbangan dari berbagai pakar. Tidak terjadi begitu saja. Nantinya, dengan berdatangannya para profesor ini menjadi malah akan menambah budaya tradisi akademik di kalangan akademisi.

“Saya kira nantinya ada semacam sharing pengalaman dan pengetahuan. Meski demikian, kita tetap harus mandiri dalam melakukan pengembangan diri sejajar dengan akademisi dari negara-negara maju,” sebutnya.

Dengan kehadiran mereka, lanjut dia, tentunya tidak ingin menjadi bangsa yang nomor dua apalagi menjadi nomor tiga, menjadi kelas bawah.
Tapi yang perlu dipahami kemandirian, kemajuan sebuah perguruan tinggi tentunya tidak lepas pula dari dukungan berbagai pihak.

Salah satunya pemerintah pusat dan daerah, meskipun banyak ide dan gagasan, jika tak ada sinergitas maka keberhasilan PT sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal. “Jangan sampai PT dibiarkan jalan sendiri, jadi intinya berhasilnya PT ini adalah hasil kerja berbagai pihak,” ungkap Pirol.

Sementara Itu, Rektor UNCP, Dr Suaedi, M.Pd, mengungkapkan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa selama ini Guru Besar Indonesia produktivitas dalam hal karya ilmiah masih sangat rendah, lemah dalam menghasilkan tulisan di Jurnal Internasional.

“Jadi kalah dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Malaysia saja guru besarnya menghasilkan tulisan di Jurnal Internasional sekitar 32 ribu, sementara Indonesia cuma 12 ribu, jadi kalah jauh,” sebut Suaedi.

Ketika ada rencana Menristekdikti mendatangkan 500 guru besar dari negara-negara maju, ia menilai adalah hal yang wajar. ”Tentu ini menjadi cambuk dan tantangan bagi guru besar kita di Indonesia,” ujarnya.

Hal ini, lanjut dia, jadi tantangan bagi para guru besar untuk lebih meningkatkan kualitas. ”Jangan sampai sangat jauh kualitasnya dengan guru besar yang dari luar nantinya,” katanya.

Di lain sisi, kata rektor, ini juga menjadi peluang tersendiri bagi para dosen muda untuk menimba pengalaman, utamanya dalam menghasilkan karya ilmiah, dipublikasikan di Jurnal Internasional.

“Apalagi ada aturan dari Menristekdikti agar para guru besar ini harus menghasilkan karya ilmiah di Jurnal Internasional, jika tidak maka tunjangan guru besarnya di stop, nah ini juga menjadi tantangan bagi para guru besar,” tandas Ketua Dewan Pendidikan ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR Sutan Adil mempertanyakan rencana Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang berencana mengimpor atau mendatangkan profesor ke tana air.

Ia khawatir, para profesor yang bukan berasal dari Indonesia, tak memahami Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kita juga khawatir, kalau profesor yang datang dari luar negeri, sejauh mana nanti pemahamannya terhadap NKRI. Kita kuatir, mereka minim pemahaman terhadap NKRI,” tegas Sutan, saat rapat kerja dengan Menristekdikti Mohamad Nasir, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta baru-baru ini.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada Menristekdikti, agar melakukan pertimbangan dan memberikan alasan yang konkrit, terutama kepada Komisi X, terkait rencana itu. Padahal seharusnya Pemerintah lebih mengutamakan orang-orang yang dari bangsa sendiri.

“Keluhan yang kita dapat dari teman-teman yang sudah menjadi profesor dan sudah berjuang habis-habisan untuk memperoleh profesor dan melampaui persyaratan-persyaratan, begitu sudah mendapat gelar profesor, malah tidak bisa didayagunakan,” analisa Sutan.

Politisi F-Gerindra itu berharap, Kemenristekdikti lebih mengutamakan profesor atau guru besar dalam negeri, untuk didayagunakan di berbagai sektor pendidikan.
“Kemenristekdikti menjadi sesuatu kewajiban, untuk memperdayagunakan dan mengakomodir profesor-profesor dalam negeri, karena mereka juga punya angka kredit,” imbuh Sutan.

Di satu sisi, ia meminta Kemenristekdikti juga terbuka, kenapa tidak mendayagunakan profesor dalam negeri secara maksimal. “Kenapa Menristekdikti harus impor. Padahal kita bunya banyak profesor,” tanya politisi asal dapil Jambi itu.
Sebagaimana diketahui, Menristekdikti Mohamad Nasir mewacanakan masuknya 500 profesor dari luar negeri sebagai pemicu suasana akademik di segala aspek pada perguruan tinggi dalam negeri.

Sejumlah PTN menyambut positif dan negatif rencana tersebut. Nantinya para guru besar asing tersebut bertugas melakukan riset dan pembimbingan kepada mahasiswa Indonesia untuk Program Doktor Indonesia. Program tersebut untuk mendorong agar Indonesia memiliki mahasiswa-mahasiswa berkelas dunia.

“Guru besar asing sedang kita lakukan pendataan diundang ke Indonesia untuk bisa bersama-sama perguruan tinggi Indonesia,” kata Menteri Nasir di Universitas Islam Malang, kepada JPPN.Com (Grup Palopo Pos)belum lama ini.(ich-idr/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top