Jangan Biarkan Atlet Menjerit – FAJAR sulsel
News

Jangan Biarkan Atlet Menjerit

Oleh : Dr. Wahyudin, M.Pd/Dosen Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNM

Kalau kita mencoba membuka lembaran sejarah tentang keolahragaan, bahwa sejak tahun 1950-an, pemerintah pada hampir semua negara di jagad raya ini menaruh perhatian besar terhadap olahraga dengan aneka motif kebijakan, mulai dari nasionalisme hingga pada kesiapan bela negara.

Terkhuhus kita di Indonesia tercinta ini, pernah memanfaatkan olahraga sebagai bagian dari platform politik, “nation and character building” hingga peralihan kekuasaan dari bung Karno ke pemerintahan Soeharto olahraga mengalami perubahan, yang sebelumnya olahraga sebagai alat revolusi diganti menjadi bagian dari pembangunan nasional terutama untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Namun sayang seribu sayang, walaupun olahraga dianggap penting dalam pembangunan kala itu tetap tidak memperoleh prioritas.

Hanya saja perlu kita pahami bahwa kemudian atletlah yang menjadi modal besar suatu negara dalam membangun tatanan keolahragaannya sebagai bagian penting dalam Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki negara tersebut.hingga menjadi disegani dunia dengan harkat dan martabat bangsa yang melejit naik derajatnya ketika mampu menorehkan prrestasi yang prestisius.

Maka dari itu, atlet sudah barang tentu harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah sehingga para atlet yang senantiasa berlatih-bermandikan keringat dan tak kenal lelah, senantiasa punya harapan besar terhadap bangsa dan negaranya dalam hal jaminan hidup yang layak dan bukan sebaliknya yakni menjadi terlantar-terpinggirkan bahkan terabaikan dari sisi kehidupan yang layak alias berada dalam kehidupan masa depan yang menjerit dan serba kesusahan.

Jika dikatakan sebagai negara tanpa atlet hebat, tentunya adalah salah karena Indonesia pernah memiliki olahragawan hebat atau bahkan sampai sekarang masih mencetak orang-orang yang berkecimpung dalam dunia olahraga yang berprestasi di dalam atau luar negeri. Dari tahun ke tahun, ada beberapa atlet dari dalam negeri yang pernah menorehkan kemenangan dan mengharumkan nama Indonesia dalam bidang olahraga di kancah internasional.

Sayangnya, tidak semua olahragawan Tanah Air itu memiliki nasib baik ketika dirinya sudah tak lagi menekuni dunia olahraga dan memiliki hidup yang cukup memprihatinkan di hari tua mereka.

Ditambah lagi, jarang dari mereka yang terekspos media dan mendapatkan perhatian dari negara walaupun olahragawan-olahragawan ini pernah mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Sebut saja beberapa atlet hebat dan berprestasi Tanah Air yang justru memiliki kisah pilu di hari tua mereka.

Misalnya saja, Rachman Kili-kili, bagi para pecinta tinju tentunya masih ingat akan nama seorang petinju hebat dari Indonesia bernama Rachman Kili-kili. Pria yang pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional ini akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri karena tidak memiliki pekerjaan.

Bahkan di era kejayaannya, Rachman Kili-kili adalah seorang petinju profesional yang memiliki banyak sekali penghargaan baik di tingkat lokal maupun luar negeri. Dia pernah menjadi juara dunia Kelas Bulu Federasi Tinju Internasional (IBF).Sayangnya, selepas gantung sarung tinju dan menapaki hari tuanya, dia justru tidak dapat menikmati hasil jerih payahnya itu dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang mengakibatkannya dihimpit masalah ekonomi sehari-hari.

Selanjutnya ada Suharto, seorang mantan atlet balap sepeda yang berhasil menyabet medali emas di nomor Team Tome Trial (TTT) Sea Games 1979 di Kuala Lumpur, medali perak di Tour de ISSI 1977, medali perunggu di ROC International Cycling Invitation di Cina pada tahun 1977 sampai dengan medali emas di kejuaraan Walikota Jakarta Utara Cup ini harus menjadi seorang tukang becak di masa tuanya.

Kemudian ada seorang Wongso Suseno, yakni petinju dari Tanah Air yang berhasil membuat sejarah dengan menjadi juara dunia OPBF pertama untuk Indonesia kelas Welter (63 kg). Selain sabetan prestasi yang cukup prestisius tersebut, pria asal Kota Malang ini banyak penghargaan lain yang berhasil didapatkannya. Bahkan antara tahun 1975-1982 dapat dikatakan sebagai era kejayaannya.

Sayangnya, ketika menapaki hari tua, Wongso harus berjuang untuk dapat hidup dan menghidupi keluarganya. Dia hidup susah dengan bekerja serabutan untuk tetap dapat membayar kontrakan sampai makan sehari-hari. Di rumah kontrakannya yang dapat dibilang sangat kecil, hanya ada 2 benda paling berharga miliknya, yaitu medali emas pemberian mantan Menpora Abdul Gofur dan Penghargaan Satya Lencana dari mantan Menpora Akbar Tandjung.

Bahkan legenda sepak bola Indonesia asal Sulawesi selatan, Makassar, yakni Ramang tak kalah menyedihkannya, mantan pemain Timnas Sepakbola Indonesia dan mantan pemain PSM Makassar yang waktu itu masih bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) bernama Ramang harus hidup serba memprihatinkan. Mulai dari pekerjaan sebagai kenek truk sampai dengan tukang becak, pernah dia lakoni selepas pensiun dari sepakbola. Bahkan di hari tuanya, Ramang tidak memiliki rumah sendiri dan harus menumpang di sebuah rumah temannya yang sangat kecil dan sempit.

Di era jayanya, Ramang sangat terkenal dan menjadi pemain favorit baik di MVB ataupun ketika dia membela Timnas Sepakbola Indonesia. Dari kakinya, tercetak 19 gol dari 25 gol yang dikemas oleh PSSI ketika melawat ke beberapa negara di Asia (Filipina, Hong Kong, Thailand dan Malaysia). Tidak hanya itu saja, salah satu gol yang cukup spektakuler dari kaki pria tua pernah tercipta saat PSSI menekuk RCC dengan skor 2-0 di pertandingan yang dihelat menjelang Kejuaraan Dunia di Swedia, 1958.

Pemain legendaris PSM Makassar dan juga Timnas Sepakbola Indonesia ini tutup usia di usia 59 tahun pada tahun 1987 karena penyakit paru-paru basah. Sampai meninggal pun, penghargaan yang disematkan untuknya hanya sebuah patung dari bahan ala kadarnya di pintu utara Lapangan Karebosi (itu dulu sebelum Karebosi disulap menjadi pusat perbelanjaan) dan kini patung tersebut hilang begitu saja dan saat ini mau dicanangkan lagi pembangunannya oleh pemerintah kota.

Belajar dari kasus di atas, kini semua stakeholder keolahragaan terutama pemerintah harus mempersiapkan segala solusi agar tidak terulang kembali hal yang menyedihkan tersebut karena mereka (atlet) kita itu adalah “pahlawan” bangsa ini. Semoga !

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top