Kinerja Perbankan Syariah Hanya 5,6% – FAJAR sulsel
News

Kinerja Perbankan Syariah Hanya 5,6%

MAKASSAR,UPEKS.co.id — Pertumbuhan bisnis perbankan syariah diproyeksikan tetap akan mengalami pelambatan ditahun 2017 ini. Pelambatan bisnis perbankan syariah tersebut dipengaruhi oleh krisis ekonomi global yang masih terjadi hingga saat ini.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi Maluku Papua (Sulampua), Bambang Kiswono mengatakan, meski bisnis perbankan syariah melambat, namun bisnis ini tetap bisa bertahan. “Meski pertumbuhannya tidak secepat tahun lalu, namun bisnis ini bisa bertahan,” katanya saat ditemui di kantornya, Selasa (31/1/17).

Khusus di Sulsel, Bambang mengaku, bisnis perbankan syariah bisa tumbuh hingga 5,3% dibandingkan total perbankan secara keseluruhan.

“Angka itu di atas pertumbuhan bank syariah secara nasional yang hanya 5%. Artinya, di Sulsel pertumbuhannya masih lebih bagus. Walaupun tidak secepat pertumbuhan sebelumnya, karena pengaruh ekonomi global yang melambat,” ungkapnya,

Namun jika dibanding dengan pertumbuhan bank konvensional, Bambang menilai presentase pertumbuhan bank syariah memang melambat. “Tapi tetap bisa dikatakan tumbuh,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, secara detail, pertumbuhan aset perbankan syariah di Sulsel berdasarkan data per November 2016 mencapai 1.70% (yoy). Dimana, pertumbuhan DPK mencapai 10,19% (yoy) dengan pertumbuhan giro mencapai -23,72% (yoy), tabungan 16,24% (yoy) dan deposito 14,67% (yoy).

Kemudian, pertumbuhan pembiayaan (jenis penggunaan) mencapai 0.37 % (yoy) dengan pertumbuhan modal kerja 3,48 % (yoy), investasi -11,01% (yoy) dan konsumsi 3,11% (yoy). Sedangkan pertumbuhan pembiayaan di sektor ekonomi mencapai 0,7% (yoy). Pertumbuhan sektor lapangan usaha mencapai -2,67% dan sektor bukan lapangan usaha mencapai 3,11% (yoy).

“Bank syariah relatif masih baru, maka untuk menunjang pertumbuhannya mesti diberikan keringanan regulasi dibanding bank konvensional. Contohnya, bank umum modalnya paling tidak harus Rp3 triliun. Kalau syariah itu cuma Rp1 triliun,” jelasnya.

Untuk level regional, lanjut dia, bank syariah dimungkinkan bisa menumpang di cabang bank konvensional. Karena pendirian kantor cabang biayanya mahal. Bambang Kiswono memberi contoh Bank Sulselbar yang punya cabang bank konvensional.

“Dia tak perlu mendirikan cabang jika belum mampu. Bank syariah bisa menempel jualan dicabang-cabang bank konvensional yang dimilikinya. Keuntungan dari mekanisme ini sangat memudahkan bank syariah agar jaringannya lebih gampang masuk di masyarakat dan akhirnya bisa dikenal luas di masyarakat,” ujarnya.

Kendati demikian, Bambang mengatakan, jika bank syariah sudah sanggup mendirikan cabang-cabang tersendiri akan lebih bagus lagi. Sebab, mekanisme menumpang seperti itu hanya untuk memudahkan perbankan syariah untuk memperbesar dirinya. “Intinya punya kantor sendiri lebih bagus. Tapi kalau belum mampu, bisa nebeng di bank konvensional dulu kantornya,” katanya.(mg3/rif)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top