Gadis Kalah Saing dengan Popularitas Janda Muda – FAJAR sulsel
News

Gadis Kalah Saing dengan Popularitas Janda Muda

PALOPO — Ada banyak macam sebutan janda. Ada janda muda (Jamu), janda di bawah umur (Jamur). Janda muda dan janda di bawah umur sudah populer di Kota Palopo. Pengadilan Agama (PA) Palopo memasukkan golongan janda muda di usia 20 sampai 35 tahun. Sedangkan janda di bawah umur usianya 16 tahun. Ada juga janda di usia 40 tahun ke atas.

Penyebab biduk rumah tangganya retak, juga banyak macam. Kalau yang sering terdengar alasan ‘tembakan’. Ini juga dikemukakan mantan ketua PA Palopo. ”Mengeluh karena tembakan suaminya kurang alias loyo.

Ini biasanya paling sering terjadi pada suami-istri usia muda atau pengantin baru,” ujar Baharuddin, Selasa 31 Januari 2017. Ada juga masalah ekonomi dan ahlak. ”Itu juga penyebab utama perceraian di Kota Palopo dan Luwu,” katanya.

Kini, pembicaraan soal janda muda paling sering terdengar saat ada suatu acara pertemuan formal, santai, maupun semi formal. Pernah di suatu acara, janda muda disebut-sebut saat peserta rapat mulai suntuk. Dengar kata gadis, peserta laki-laki senyum tipis. Demikian juga saat suasana santai.

Para laki-laki biasanya tertawa lebar membahas masalah janda muda. Entah kekuatan apa di balik dua kata itu.

Terlepas buah bibir soal janda muda di kalangan pria, ternyata status janda muda di kalangan kaum perempuan cukup riskan. Sebagian wanita muda yang sudah berstatus janda terkadang menutup diri dari lingkungan karena takut mendapat gosip dari kalangannya sendiri. Tetapi, ada juga wanita berstatus janda tetap eksis menjalani hidup. Dia cuek dengan keadaan.

Memang, soal penampilan, terkadang wanita yang sudah berstatus janda, penampilannya cukup sedap dipandang mata. Tak kalah dengan penampilan para gadis. Lepas dari suami, sebagian janda muda ini lebih fokus merawat diri sehingga terlihat makin cantik dan menawan.

Pengadilan Agama (PA) adalah salah satu instansi pencetak janda terbanyak. Tiap bulan ada saja janda yang ‘diproduksi’. Menurut informasi dari mantan Ketua PA Palopo, Baharuddin, tahun 2016 kemarin, PA Palopo mencetak kurang lebih 700 janda. Dari 700 janda itu, 50 persen diantaranya berstatus janda muda.

Rinciannya, untuk cerai talak (suami yang ajukan talak) yang putus ada 148 kasus. Sedangkan yang cerai gugat (istri yang ajukan cerai) yang putus sebanyak 552.
Menurut Baharuddin, wanita yang usianya masih di kisaran 20 sampai 35 biasa disebut janda muda. Ada juga janda di bawah umur, yakni 16 hingga 35 tahun.

Saat diwawancara oleh wartawan, Selasa 31 Januari 2017, lalu, Baharuddin membeberkan beberapa faktor penyebab perceraian yang terjadi di PA Palopo. ”Kalau masalah ekonomi tentu sudah jelas. Namun, terkait ahlak, itu banyak macamnya,” kata dia.

Masalah akhlak, sebut dia, mulai dari pasangan yang ringan tangan, selingkuh, minum-minuman, dan tak puas dalam urusan ranjang. “Sebenarnya, KDRT itu, tidak hanya dilakukan oleh laki-laki. Karena hasil pemeriksaan kami dalam persidangan, ternyata banyak juga istri yang memukul suaminya saat bersitegang,” ucap Baharuddin yang kini dimutasi sebagai hakim di PA Kelas II Pinrang.

Karakter kasar dalam berumah tangga, sepertinya sudah seimbang. Banyak laki-laki yang sedikit-sedikit main tangan kepada istri dan anak-anaknya. Namun, tidak sedikit perempuan yang malah menghajar suaminya. Lalu, masalah perselingkuhan dan minum-minuman keras. Kasusnya hampir sama saja dengan KDRT.

Menurut Baharuddin, pasangan suami istri memilih bercerai di PA, lantaran sakit hati. Ada suami yang kepergok selingkuh dengan wanita lain. Namun, ada juga suami yang mendapati istrinya dicumbu oleh laki-laki lain. “Ada istri yang ingin cerai. Dia tak tahan suaminya suka minum-minuman keras. Apalagi kalau ringan tangan.

Ditambah lagi ekonomi yang tidak mendukung. Itu hal biasa kita temui. Namun, di Palopo ini, ternyata ada juga istri yang suka minum-minuman keras. Di kafe lagi. Paling menyedihkan kalau minumnya bersama laki-laki lain,” bebernya.

Terakhir adalah urusan ranjang. Ini yang paling urgent. Faktor ini juga sering diributi dalam perdebatan di PA Palopo. Salah satu pasangan mengeluhkan kemampuan pasangannya. Keluhan ‘tembakan’ suami dianggap kurang jreng.

Lanjut dia, sebaliknya, ada juga istri yang mengaku kewalahan melayani suaminya yang minta jatah terus.

Makanya itu, Baharuddin berpesan, agar sebelum menikah, baiknya menyiapkan diri secara spiritual dan mental. Kalau perlu, mintalah bimbingan dari orangtua atau yang dituakan. Bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga yang harmonis, sakinah, mawaddah, wa rahmah.(rp1-ara/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top