Polisi Usut Dugaan Pemalsuan Dokumen Nasabah – FAJAR sulsel
News

Polisi Usut Dugaan Pemalsuan Dokumen Nasabah

Mengungkap Praktik ‘Kotor’ di Lembaga Pembiayaan

Praktik ‘kotor’ yang dilakukan oknum marketing pembiayaan PT Adira Finance di bawah naungan Bank Danamon berbuntut panjang. Korban pemalsuan dokumen berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Suwarni Dulman dan Herman Muhidin akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel.

Laporan: Masjaya
———————–
Makassar

Korban pemalsuan bukti kependudukan pasangan suami istri ini mengaku menempuh jalur hukum. Lantaran, tidak terima telah dimanfaatkan oleh oknum marketing pembiayaan PT Adira Finance.

Saat ini pihak penyelidikan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimmum), tengah melakukan penyelidikan. Kanit 1 Siskal Moneter Ditreskrimmum Polda Sulsel, Kompol Dahril dikonfirmasi membenarkan, dugaan pemalsuan dokumen berupa KTP milik Suwarni Dulman dan Herman Muhidin, saat ini tengah dilakukan penyelidikan.

Menurut Dahril, dugaan pemalsuan dokumen itu terkait pengambilan satu unit motor di PT Adira Finance. Namun, KTP yang digunakan untuk proses kredit motor, menurut pengakuan Suwarni Dulman dan Herman Muhidin itu bukan miliknya. Herman Muhidin kata Dahril, itu dipalsukan.

“Pemalsudan dokumen itu soal pengambilan motor di Adira Finance. Namun KTP dan KK betul di Adira yang merupakan anak perusahaan Bank Danamon, menurut pengakuan korban itu bukan miliknya. Katanya itu dipalsukan,” ucap Dahril, Rabu (1/2/17).
Dahril menjelaskan, data yang ada menurut Adira Finance dan Bank Danamon itu milik korban. Hanya saja, korban mengaku kalau itu bukan miliknya. Karena, korban mengaku sama sekali tidak pernah mengajukan kredit untuk pembelian motor.

“Sudah ada kita periksa dari pihak Adira. Kami dari penyidik bahkan sudah mempertemukan kedua belah pihak. Bank Danamon siap memutihkan nama Herman Muhidin. Tapi, pihak Herman Muhidin tidak mau menerimanya dan pihaknya akan meminta ganti rugi, “jelasnya.

Lebih jauh Dahril menuturkan, saat ini proses penyelidikan kasus itu agak terkendala. Pasalnya, marketing yang melakukan survei lokasi saat pengajuan kredit pengambilan motor sudah tidak ada. “Sekarang yang kita cari siapa yang gunakan itu motor,” turutnya.

Dahril melanjutkan, berdasarkan data di pembiayaan, motor itu sudah berjalan angsurannya selama 7 bulan. Kemudian berhenti hingga sata ini. Kendala penyelidikan kasus itu, menurut Dahril karena marketing yang survei lokasi sudah tidak ada.

Sementara itu, Herman Muhidin mengatakan, indikasi pemalsuan dokumen berupa KTP itu terkuak karena adanya perbedaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang dimilikinya dengan laporan pihak Bank Danamon.

“Data NIK yang ada di Bank Danamon itu bernomor 2150084808670002. Padahal sebenarnya NIK kami bernomor 737107490867002. Berarti Bank Danamon atau PT Adira Finance telah memalsukan administrasi kependudukan,” tuturnya.

Diketahui, kedok oknum marketing itu terungkap setelah seorang korban, Suwarni Dulman hendak mengajukan kredit usaha kecil pada Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Gorontalo. Namun pada saat korban mengajukan kredit, ditolak oleh BRI.

Alasannya, korban masih mempunyai kewajiban kredit di Bank Danamon. Padahal, korban merasa sama sekali tidak pernah mengajukan kredit pembelian motor.(jay/rif)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top