Ketua STIEM Peserta Konferensi Forum Rektor – FAJAR sulsel
News

Ketua STIEM Peserta Konferensi Forum Rektor

JAKARTA— Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Palopo, Dr Salju SE MM ikut ambil bagian pada Konferensi Forum Rektor Indonesia 2017 di Hotel Sultan Jakarta 1-3 Februari 2017. Kegiatan bertema “Mewujudkan Amanat Konstitusi Pendidikan Nasional” ini dirangkai dengan Konvensi Kampus ke-13 dan Temu Tahunan ke-19 Forum Rektor Indonesia.

Momentum itu diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dan memberi masukan bagi pembangunan bangsa yang akan disampaikan kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo.

”Sebagai organisasi yang punya tugas dan tanggung jawab bagi masa depan Indonesia, FRI bisa jadi think tank bagi bangsa dan negara. Ini kewajiban kami untuk berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa dan negara,” papar Ketua Pelaksana Konferensi FRI 2017 Suyatno yang didampingi Wakil Ketua Pelaksana Asep Saefuddin di Jakarta, sebelum kegiatan, baru-baru ini.

Dengan kata lain, kata Suyatno, FRI sebagai forum akademisi yang diperhitungkan bukan merupakan forum politik. FRI berkomitmen serius dalam berkontribusi bagi bangsa dan negara untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.

Konvensi dan temu tahunan rektor yang digelar di Jakarta ini digelar UHAMKA dan Universitas Trilogi lantaran Suyatno dan Asep Saefuddin baru saja menjabat Ketua dan Wakil Ketua terpilih FRI 2017-2018 pada Konvensi Kampus Ke-12 dan Temu Tahunan Rektor Ke-18 di Universitas Negeri Yogyakarta(UNY) pada 2016.

Suyatno menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (UHAMKA), sedangkan Asep Saefuddin merupakan Rektor Universitas Trilogi. “Kami merupakan Ketua dan Wakil Ketua terpilih FRI 2017-2018, mendapat amanah dan tanggung jawab menjadi panitia penyelenggara konvensi kampus dan temu
tahunan rektor ini,” cetusnya

Suyatno menjelaskan pada ajang ini, para peserta berasal dari perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) dan mengambil tema Mewujudkan amanat konstitusi pendidikan nasional. Mereka di antaranya akan mengkaji pentingnya peran pemerintah untuk mengembalikan 20% dana operasional pendidikan.

Pada kesempatan ini, FRI juga membentuk lima kelompok kerja (pokja) yang akan membahas hasil kerja selama setahun, yakni pokja tentang peranan haluan negara dalam perencanaan pembangunan nasional jangka panjang, pokja tentang penguatan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa, pokja revitalisasi pembangunan kemaritiman dan sumber daya laut, dan pokja revitalisasi sistem ekonomi dan demokrasi Pancasila.

Pameran pendidikan

Asep Saefuddin menambahkan, Konferensi FRI 2017 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Konferensi FRI 2017 diisi dengan pameran pendidikan internasional atau Education and Training Expo yang menghadirkan PTN dan PTS dalam negeri serta perguruan tinggi luar negeri.

“Ini baru pertama kali digelar yang membuat konferensi FRI 2017 jadi lebih semarak,” ujarnya. Belum lagi, FRI menggelar acara kunjungan ke kampus atau campus tour.
Ada enam kampus yang akan dikunjungi, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Bina Nusantara, Universitas Gunadarma, UHAMKA, dan Universitas Trilogi.

Menurut Asep, kedua acara tambahan itu penting untuk memperlihatkan kepada publik bahwa perguruan tinggi siap untuk meningkatkan kemampuan akademik, vokasi, dan kompetensi mereka.

Di sisi lain, kegiatan campus tour berguna menambah pengalaman agar perguruan tinggi berbagi best practice atau praktik terbaik yang dapat diadopsi kalangan perguruan tinggi. “Jadi, kita ini berkorporasi dan saling memberi. Yang juga ingin kami tekankan pada Konferensi FRI 2017 ialah kami melanjutkan rekomendasi hasil Konferensi FRI 2016, antara lain menghasilkan empat pokja yang salah satunya membahas revitalisasi sistem ekonomi dan demokrasi Pancasila,” ungkap Asep.

Menurut Asep, pokja revitalisasi sistem ekonomi dan demokrasi Pancasila layak dikaji karena itu merupakan kekayaan modal ekonomi yang sebenarnya sudah cukup lama dari grassroot menjadi mazhab.

“Jika sistem ekonomi Pancasila jadi mazhab ekonomi, akan jadi model tidak saja di Indonesia, tapi juga dunia. Intinya, ekonomi pemerataan agar ekonomi Indonesia jangan timpang yang menyebabkan mereka yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” tegas Asep.

Ia menjelaskan pokja yang terbentuk akan bekerja setiap bulan dan anggotanya terdiri dari para rektor, dosen, kalangan pemerintah, industri, dan masyarakat.
“Harapan kami pokja mampu menghasilkan pemikiran bernas dan berbasis pada riset yang tiap saat bila dibutuhkan negara, kami siap berkontribusi,” pungkasnya. (net)

PALOPO POS

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top