Melanggar UU Migas dan Konsumen – FAJAR sulsel
News

Melanggar UU Migas dan Konsumen

Mengungkap Aktivitas Ruko Blok H No. 40

Selama ini kepentingan konsumen migas seakan terlupakan. Pihak produsen hanya mementingkan faktor keuntungan semata.Mengoplos gas pun dilakukankannya. Sementara belum ada aturan yang tegas mengenai kewajiban mereka terhadap konsumen.

Seperti aktivitas salah satu Rumah Toko (Ruko) terletak di Jl Toddopuli Raya, Kompleks Pasar Toddopuli Blok H No 40. Dimana, ruko terindikasi kuat tempat penjualan gas elpiji oplosan.

Karena ruko tersebut menjual gas tanpa izin pertamina. Salah satu Pakar Hukum di Makassar, Andi Sabir SH dimintai tanggapannya mengatakan, mengoplos gas sudah jelas melanggar undang-undang Minyak dan Gas (Migas) dan Undang-undang perlindungan konsumen.

Dimana kata Sabir, konsumen migas tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal dari produsen seperti tekanan gas kurang, BBM dioplos, takaran tidak sesuai serta kelangkaan BBM (tiadanya jaminan pasokan).

Padahal di sisi lain, produsen menuntut konsumen membayar produk dengan harga wajar sesuai ketentuan. Padahal, diketahui perlindungan konsumen migas merupakan salah satu agenda utama pemerintah.

“Dalam penyusunan aturan mengenai hal itu, pemerintah mengacu pada UU No 22 tahun 2001 tentang Migas dan UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, ” ucap Andi Sabir, Kamis (2/2/17).

Lanjut Sabir menuturkan, jika betul di ruko tersebut melakukan aktivitas seperti itu, Pertamina harus melihat persoalan tersebut. Jangan sampai ada main mata dengan pihak tertentu dari Pertamina. Karena menurutnya, setiap agen harus ada izin dari Pertamina.
“Pertamina harus meningkatkan pengawasan. Tujuannya agar pengoplosan gas yang dilakukan oknum tertentu tidak menjamur. Persoalannya kan sangat berdampak pada konsumsen, ” akunya.

Secara terpisah, Pertamina Marketing Operation Region VII, Hermansyah dikonfirmasi Upeks mengaku, ruko terletak di Jl Toddopuli Raya, Kompleks Pasar Toddopuli bukan agen atau pengkalan resmi pertamina.

“Menurut data yang kami terima bahwa ruko tersebut bukan agen atau pangkalan resmi LPG Pertamina. Biar pun menjual gas, tapi bukan agen atau pangkalan resmi Pertamina, ” kata Hermansyah kepada Upeks.

Menurut Hermansyah, jalur resmi penjualan LPG Pertamina adalah agen dan pangkalan. Sehingga kalau ada penjualan sebagai agen dan pangkalan tidak ada logo Pertamina berarti itu mengoplos.

“Jadi kalau ada agen atau pangkalan resmi LPG, harus ada logo Pertamina, ada papan mana dan identitasnya. Di luar bisa jadi pengecer,” terangnya, kemarin.

Sebelumnya, informasi yang dihimpun, ruko berlantai dua mengoplos gas dengan cara diam-diam. Bahkan, jarang masyarakat sekitar yang mengetahui aktivitas pengoplosan gas tersebut. Bahkan pihak Pertamina tidak mengetahui pengeplosan gas tersebut.

Saat ditelusuri di lapangan, Ruko itu jarang dibuka. Warga di sekitar ruko itupun jarang melihat pengoplos gas itu buka. Informasinya, ruko itu jika buka hanya setengah saja. Pintu ruko itu tidak dibuka lebar sebagaimana roko lainnya. (jay)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top