Karakteristik Olahraga Komersial – FAJAR sulsel
News

Karakteristik Olahraga Komersial

Oleh : Dr. Wahyudin, M.Pd/Dosen Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNM

Sejak dahulu olahraga telah digunakan sebagai bentuk hiburan masyarakat, namun keberadaannya tidak pernah dikomersialisasikan seperti dewasa ini.

Dahulu faktor-faktor ekonomi tidak banyak mendominasi keputusan-keputusan mengenai olahraga, selain itu perusahaan-perusahaan besar dan lembaga-lembaga ekonomi tidak pernah tertarik untuk menguasai dan mengontrol organisasi, visi dan misi dari olahraga.

Investasi terhadap altlet dan sponsor pun tidak pernah lebih tinggi daripada dewasa ini. Hal ini telah mengubah tujuan dan pandangan dari pihak-pihak yang terkait dengan olahraga.

Seperti dinyatakan oleh seorang editor majalah Financial World, bahwa bisnis olahraga lebih besar dari bisnis besar lainnya, dan olahraga merupakan salah satu industri yang pertumbuhannya paling cepat di Amerika Serikat serta memiliki keterkaitan dengan aspek perekonomian. Ditambahkan pula, bahwa dimana pun olahraga memiliki magnet bisnis yang sangat kuat dan menawarkan pundi-pundi uang yang terus mengalir (Ozanian, 1995, hal.30).

Dewasa ini, olahraga dinilai berdasarkan penjualan tiket masuk bagi penonton, penjualan hak siar, dana pemberian lisensi, penjualan pernak-pernik olahraga (merchandise), hak media, dan website.

Pertandingan dan acara-acara olahraga dinilai berdasarkan nilai jual terhadap pasar, rating penyiaran, dan potensi pemasangan iklan, sementara para atlet dinilai berdasarkan kepopulerannya di media dan masyarakat, dimana kepopuleran tersebut seringkali tergantung pada kontrak mereka dalam menjual logo atau pun nama dari beberapa perusahaan.

Stadion, tim, dan acara olahraga diberi nama menurut perusahaan-perusahaan besar yang terikat daripada nama tokoh-tokoh maupun tempat-tempat bersejarah yang mempuyai arti kedaerahan.

Kepentingan perusahaan mempengaruhi warna tim, rancangan seragamnya, penjadwalan acara-acara, bagaimana media meliput acara tersebut, dan bahkan apa yang dikatakan penyiar olahraga selama liputan tersebut. Kenyataannya, media atau perusahaan-perusahaan hiburan memiliki semakin banyak tim olahraga, selain mensponsori mereka bahkan memiliki acara-acara olahraga tersebut.

Sekarang ini olahraga bersama dengan perusahaan, terikat secara integral dengan persoalan pemasaran dan proses-proses pengembangan modal secara global. Merger perusahaan-perusahaan besar yang dimulai pada tahun 1990-an dan berlangsung sampai abad ke-21 telah menyatukan satu sama lain antara tim-tim olahraga, acara-acara olahraga, media, industri hiburan, dan internet. Nama-nama perusahaan asing telah sangat dekat hubungannya dengan para atlet, acara-acara olahraga, dan olahraga itu sendiri yang memberikan kesenangan dan hiburan bagi kehidupan masyarakat.

Olahraga komersial diatur dan dimainkan semata-mata untuk menghasilkan uang sebagai acara yang menghibur. Keuntungan olahraga komersial tergantung pada gabungan hasil dari keuntungan penjualan tiket masuk, penjualan hak milik, sponsor, dan penjualan hak siar kepada media. Oleh karena itu, olahraga komersial tumbuh dengan baik dan menguntungkan apabila berada di bawah kondisi-kondisi ekonomi dan sosial tertentu. Sehingga ada beberapa hal yang mesti dipahami sebagai berikut, Pertama, olahraga komersial sangat popular di dunia ekonomi dimana penghargaan berupa materi sangat tinggi nilainya bagi mereka yang terkait dalam olahraga tersebut, seperti para atlet, pemilik tim, sponsor acara, dan penonton.

Kedua, olahraga komersial biasanya ada dan berkembang di masyarakat menengah atas, yaitu di kota-kota yang berpenduduk padat. Hal ini dikarenakan olahraga jenis ini membutuhkan cakupan penonton yang cukup potensial dalam segala aspek untuk dijadikan fans. Meskipun beberapa olahraga komersial dapat dikembangkan di daerah pinggiran atau pedesaan, hal ini tidak akan efektif karena pendapatan yang dihasilkan tidak cukup untuk membayar atlet-atlet profesional maupun para promotor olahraga.

Ketiga, olahraga komersial diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu meluangkan waktu, uang, mobilitas untuk menghadiri acara-acara maupun pertandingan olahraga, dan akses pada media pemberitaan untuk mengikuti ataupun menggunakan media tersebut sebagai alat agar tetap terhubung pada acara-acara maupun perkembangan olahraga.

Olahraga komersial adalah suatu barang mewah dan hanya dapat berhasil di masyarakat yang memiliki taraf hidup yang tinggi dimana masyarakat tersebut mampu memanfaatkan dan menggunakan kemampuannya untuk bermain dan menonton acara-acara olahraga yang sebenarnya hanya memberikan kepuasan saja bukan sebuah barang nyata. Olahraga komersial memerlukan sistem transportasi dan komunikasi yang canggih sehingga para sponsor dapat menghasilkan keuntungan.

Oleh karena itu, olahraga komersial pada umumnya dapat ditemukan di lingkungan masyarakat yang berada, metropolitan, industri maupun pusat industri, dan hampir tidak akan ditemukan dikalangan masyarakat pekerja dan tidak berada, dimana mereka memusatkan tenaga, perhatian, dan sumber daya mereka hanya untuk tetap bertahan hidup daripada semata-mata membayar atlet demi mendapatkan hiburan.

Keempat, olahraga komersial membutuhkan jumlah modal yang sangat besar untuk membangun dan memelihara banyak stadion dan arena dimana acara-acara olahraga dapat digelar dan ditonton. Dana permodalan dapat diakumulasikan atau dihimpun dari sektor swasta maupun dalam negeri, namun dalam kedua kasus tersebut, kemauan untuk berinvestasi dalam olahraga tergantung pada hasil-hasil yang diperkirakan dalam bentuk publisitas, laba, dan kekuasaan. Investasi swasta dalam olahraga terjadi ketika para investor mengharapkan laba keuangan, sedangkan investasi pemerintah (publik) terjadi ketika orang-orang yang memegang jabatan berpengaruh di pemerintahan meyakini bahwa olahraga komersial akan melayani kepentingan mereka sendiri, kepentingan ‘masyarakat’, atau kombinasi keduanya.

Kelima, olahraga komersial paling mungkin untuk tumbuh subur dalam budaya gaya hidup yang melibatkan tingkat konsumsi tinggi dan menekankan simbol-simbol status materi. Hal ini memungkinkan segala sesuatu yang berhubungan dengan olahraga, yaitu atlet (termasuk nama besar mereka, tanda tangannya, dan foto mereka), pernak-pernik olahraga, bahkan nama dan logo tim untuk diperjual-belikan.

Ketika masyarakat mengekspresikan identitas mereka melalui sebuah kepemilikan akan barang-barang tertentu seperti pakaian atau peralatan tertentu, dan hal-hal yang menunjukkan bahwa mereka sebagai perwakilan dari suatu komunitas, mereka akan cenderung untuk membeli tiket olahraga dan barang-barang lainnya yang menghubungkan mereka dengan olahraga itu sendiri, tim, dan para atlet. Gairah dan sikap pandang terhadap suatu olahraga dijual kepada para penonton ataupun pendukung, dan kemudian penonton dan pendukung dijual kepada sponsor dan media (Burstyn, 1999). (*)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top