Pendapatan Masyarakat Naik Rp44 Juta – FAJAR sulsel
News

Pendapatan Masyarakat Naik Rp44 Juta

Ekonomi Stabil

MAKASSAR,UPEKS.co.id — Kinerja perekonomian di Sulsel masih relatif stabil yakni 7,14%. Angka tersebut seiring meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat menjadi Rp44,06 juta atau mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya Rp39,94 juta. Sektor yang paling memberi kontribusi yakni pertanian sekitar 23,29%.

Demikian diungkapkan Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Persatuan Alumni (Perluni) Universitas Negeri Makassar (UNM) Periode 2016-2021 di Grand Clarion, Selasa (7/2) kemarin.

Menurutnya, meski kondisi perekonomian secara global mengalami perlambatan, namun kondisi di Sulsel tetap stabil. Sektor pertanian memberi andil yang cukup besar terhadap roda perekonomian terumata di daerah. “Fundamental ekonomi kita jauh lebih stabil,” ujarnya, kemarin.

Secara terpisah, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel) mengungkapkan perkiraan peningkatan kegiatan usaha pada triwulan I 2017 terutama didorong oleh peningkatan pada lapangan usaha pertanian mencapai 30,56%.

Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, peningkatan pada lapangan usaha pertanian disebabkan masuknya masa panen untuk komoditas utama.

“Seperti beras, yang kemudian berimbas pada naiknya aktivitas lapangan usaha perdagangan,” ucapnya, belum lama ini. Tidak hanya sektor pertanian tapi lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran 9,77% juga diprediksi mendorong kegiatan usaha.
Menurutnya, konsumen tetap optimis terhadap kondisi ekonomi saat ini meskipun dengan level yang menurun.

Hal ini tercermin dari hasil Survei Konsumen KPw BI Sulsel yang menunjukkan rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di atas 100, meskipun pada triwulan IV 2016 turun 7,74% (qtq) menjadi 112,56 dibanding triwulan III 2016 sebesar 122,0.

Penurunan IKK tersebut disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap ekspektasi kondisi ekonomi saat ini maupun untuk 6 bulan mendatang, tercermin dari penurunan rata-rata Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks

Ekspektasi Konsumen (IEK) masing-masing 11,2 poin dan 7,6 poin menjadi 104,4 dan 120,7.
Sesuai dengan polanya, kata Wiwiek, kegiatan dunia usaha di Sulsel pada triwulan I 2017 diperkirakan kembali melanjutkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Wiwiek menjelaskan, kegiatan dunia usaha di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada triwulan IV 2016 diindikasikan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Hal ini tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (KPw BI Sulsel) yang menghasilkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 46,50%,lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 29,09%.

Peningkatan kegiatan usaha terutama didorong oleh peningkatan pada lapangan usaha pertanian (SBT 27,29%), disebabkan oleh masih adanya panen di sentra pertanian seperti Gowa, Soppeng, dan Sidrap.

Sejalan dengan meningkatnya pengeluaran Pemerintah daerah menjelang akhir tahun dan terkait dengan libur natal/tahun baru.
Sejalan dengan hasil SKDU, lapangan usaha perdagangan di triwulan IV 2016 juga diindikasikan mengalami peningkatan. Hal itu ditunjukkan oleh Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan oleh KPw BI Sulsel dengan hasil rata-rata Indeks Penjualan Rill (IPR) pada triwulan IV 2016 naik 1,29 poin (1,03% qtq) menjadi 126,5.

Peningkatan penjualan eceran terutama terjadi pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang tumbuh 0,15% (qtq), setelah pada triwulan sebelumnyakontraksi -3,50% (qtq), serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 1,47% (qtq), setelah pada triwulan sebelumnya kontraksi -0,45% (qtq).

Dia menambahkan, Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) merupakan survei triwulanan yang dilaksanakan sejak triwulan III 2010 terhadap perusahaan yang tersebar di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan dipilih secara purpossive
sampling.

Sejak triwulan I 2015 jumlah responden meningkat menjadi 125 perusahaan dari sebelumnya
110 perusahaan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan atau pengisian kuesioner langsung oleh responden.
Metode perhitungan dilakukan dengan metode Saldo Bersih (SB-net balance), yakni dengan menghitung selisih antara persentase jumlah responden yang memberikan jawaban “meningkat” dengan persentase jumlah responden yang memberikan jawaban “menurun” dan mengabaikan jawaban“sama”.

Khusus penghitungan saldo bersih kegiatan usaha, harga jual dan penggunaan tenaga kerja dilakukan dengan metode Saldo Bersih Tertimbang (SBT-weighted net balance) yang diperoleh dari hasil perkalian saldo bersih lapangan usaha atau sublapangan usaha dengan bobot lapangan usaha ekonomi yang bersangkutan sebagai penimbangnya.(mg05-nda/rif)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top