DPO Penikaman Dikejar Hingga ke Toraja – FAJAR sulsel
News

DPO Penikaman Dikejar Hingga ke Toraja

BUA — Dua penjahat kampung yang kerab berbuat onar di Kecamatan Bua akhirnya dikerangkeng. Keduanya tak berkutik di tangan aparat Polsek Bua.

Salah satu dari penjahat ini bahkan dikejar sampai di Kabupaten Toraja Utara. Mereka merupakan DPO paling dicari polisi.
Bahkan, berdasarkan laporan polisi, ada yang menjadi DPO sejak tahun 2009. Informasi yang diterima Palopo Pos, dua DPO yang sudah tertangkap masing-masing adalah Erik alias Momo, 27 tahun warga Dusun Kampung Baru, Desa Raja, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Pria pengangguran ini ditangkap di Kecamatan Tondon Nanggala, Kabupaten Toraja Utara pada Rabu 8 Februari 2017 kemarin.

Lalu, DPO kedua yang berhasil ditangkap adalah Masdar Andi Tati alias Taddu alias Sander, 37 tahun, warga Dusun Malutu Desa Posi, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Penjahat kampung yang satu ini ditangkap pada 28 Januari 2017, sekitar pukul 17.00 Wita di rumahnya.
Proses penangkapan dua DPO ini terbilang dramatis. Kapolsek Bua, AKP Rafli yang dimintai keterangannya, mengatakan, awalnya, Sabtu 4 Februari 2017 sekira pukul 22.30 Wita di Dusun Pantai Bahari, dirinya mendapat laporan dari Sekertaris Desa disana.

Katanya ada pemuda mabuk membuat gaduh. Bahkan sampai berselisih dengan petugas. Momo dilaporkan menghina petugas yang menegurnya. Ironisnya, yang dihina seorang babinsa. Setelah melakukan penghinaan, Momo langsung kabur.

Setelah tahu identitas pelaku, aparat Polsek Bua kemudian membongkar berkas yang ada di Polsek Bua. Ternyata, sejak tahun 2009, laporan polisi terhadap Momo sudah ada. Saat itu, Momo dilaporkan melakukan pengrusakan dengan cara melempar rumah Kepala Desa Raja. Lalu, tahun 2016, Momo juga terlibat kasus penikaman di Dusun Kampung Baru, Desa Raja, Kecamatan Bua.

“Saat itu, rekannya bernama Hendrik berhasil ditangkap. Sedangkan Momo kala itu kabur,” kata AKP Rafli.
Tak sampai disitu saja, laporan lainnya datang dari kerabatnya sendiri. Momo dilaporkan kasus pengacaman.
“Pokoknya, Momo ini sering membuat onar di Kecamatan Bua. Kalau sudah berulah dia langsung kabur. Laporannya banyak, beberapa diantaranya yang saya sebutkan tadi,” ungkap pria berpangkat tiga balok di pundak ini.

Setelah sederetan kasus terbongkar, aparat Polsek Bua melakukan koordinasi dengan Satuan Intelkam Kodim 1403 Sawerigading. Bersama Intelkam Kodim, polisi mengorek informasi dari Henrik rekan dari Momo yang sudah menjalani hukuman badan di Lapas Klas IIA Palopo.
Henrik mengatakan bahwa, Momo sering bersembunyi disalah satu rumah kerabatnya di Toraja Utara. Akhirnya, Selasa 7 Februari 2017 sekira pukul 14:00 Wita. Tim Gabungan Polsek Bua dan Intelkam Kodim mengarah ke Kabupaten Toraja Utara.

Hanya saja, nama yang disebut oleh Hendrik benar. Namun, alamat yang disampaikan salah. Karena sudah terlanjur di Toraja, polisi kemudian mengontak informan yang ada di Bua. Informan itulah yang menyebutkan detail alamat warga bernama Malle di Toraja.
Esok harinya, tepatnya Rabu 8 Februari 2017, sekitar pukul 06.30 Wita, pencarian dilanjutkan. Tujuan Tim Gabungan adalah Tondon Langi. Setibanya disana, anak dari Malle menunjukkan tempat Momo sembunyi. Jaraknya 7 kilo meter dari lokasi pertama.

Setelah melalui jalan terjal dan menembus dinginnya pagi di hutan pinus Tondon Langi, akhirnya Tim Gabungan berhasil menemukan Momo. Saat itu, Momo tengah memperbaiki kandang kerbau.

“Dia (Momo, red) sempat menyembunyikan wajahnya dengan tutup kepala jaket. Namun anggota dapat mengenali. Tersangka Momo langsung disergap. Dia menyerahkan diri tanpa perlawanan,” kata AKP Rafli lagi.
Berangkat dari Toraja sekira pukul 12.00 Wita, Tim Gabungan akhirnya tiba di Polsek Bua sekira pukul 13.00 Wita.

Lalu, DPO yang kedua, Masdar alias Sander. Penangkapan pria ini berawal ketika tersangka Sander membuat kericuhan di Kafe Bravo. Itu terjadi Jumat 27 Januari 2017 sekira pukul 01.00 Wita dini hari.
“Sander dalam keadaan mabuk bikin ulah, salah satu karyawan kafe yang ada disitu ditikam,” sebut pengganti AKP Marthen ini. Lanjutnya, Sander menikam lengan bagian kanan dari korban Bulla.

10 menit kemudian, personil Polsek Bua tiba di TKP. Hanya saja, Sander sudah keburu kabur. Akhirnya, pengejaran dilanjutkan ke rumahnya di Desa Malutu.

“Ada delapan personil mengepung rumahnya. Tersangka ditemukan dalam keadaan tertidur di kamar. Karena tak menyangka ada penggrebekan, Sander pasrah saja digiring ke Polsek,” ujar AKP Rafli.
Setelah tiba di Polsek, polisi kemudian membuka daftar laporan polisi. Ternyata, deretan kasus penganiayaan berat terungkap. Tersangka Sander di tahun 2013 pernah menikam salah seorang warga di Dusun Bangkudu, Desa Posi, Kecamatan Bua pada Rabu 31 Juli 2013 lalu. Itu sekira pukul 17.30 Wita.

“Kejadian itu bermula, saat tersangka Sander dalam keadaan mabok menghentikan motor korban. Karena tak mau mengantar tersangka, akhirnya korban ditikam dengan badik. Usai menikam, tersangka mengaku kabur ke Bombana, Sulawesi Tengah,” jelasnya.

Tak hanya itu, Sander juga pernah terlibat dalam aksus pembunuhan di Desa Lengkong. Dia dihukum selama 3 tahun atas perbuatannya.

“Dua DPO yang berhasil kami tangkap adalah penjahat kampung yang suka buat kericuhan di Kecamatan Bua ini,” tandas kapolsek.
Terpisah, Dandim 1403 Sawerigading, Letkol Kav Cecep Tendi Sutendi yang juga dimintai keterangannya, membenarkan keikutsertaan anggotanya menangkap salah satu DPO di Kabupaten Toraja Utara.

“Pelaku ini terlibat perselisihan dengan anggota saya. Dia juga melakukan penghinaan. Kami hanya membantu kepolisian melakukan penangkapan, namun untuk proses hukumnya kita serahkan sepenuhnya kepada pihak polisi,” tandas Letkol Cecep. Hal senadah juga disampaikan oleh Kapolres Luwu, AKBP Ahmad Yanuari Insan SIk.(ara/rhm)

PALOPO POS

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top