2017, Sektor Pertanian Pendorong Utama – FAJAR sulsel
News

2017, Sektor Pertanian Pendorong Utama

Peningkatan Kegiatan Usaha

MAKASSAR, UPEKS.co.id — Perkiraan peningkatan kegiatan usaha pada triwulan I 2017 terutama didorong oleh peningkatan pada lapangan usaha pertanian (SBT 30,56%).

Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Wiwiek Sisto Widayat,mengatakan, peningkatan pada lapangan usaha pertanian disebabkan oleh mulai masuknya masa panen untuk komoditas utama.

“Seperti beras, yang kemudian berimbas pada naiknya aktivitas lapangan usaha perdagangan,” ucapnya, saat pemaparan bulana kinerja ekonomi Sulsel, belum lama ini.

Tidak hanya sektor pertanian tapi lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran (SBT 9,77%) juga diprediksi mendorong kegiatan usaha.

Menurutnya, konsumen tetap optimis terhadap kondisi ekonomi saat ini meskipun dengan level yang menurun.

Hal ini tercermin dari hasil Survei Konsumen KPw BI Sulsel yang menunjukkan rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di atas 100, meskipun pada triwulan IV 2016 turun 7,74% (qtq) menjadi 112,56 dibanding triwulan III 2016 sebesar 122,0.

Penurunan IKK tersebut disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap ekspektasi kondisi ekonomi saat ini maupun untuk 6 bulan mendatang, tercermin dari penurunan rata-rata Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masing-asing 11,2 poin dan 7,6 poin menjadi 104,4 dan 120,7.

Sesuai dengan polanya, kata Wiwiek, kegiatan dunia usaha di Sulsel pada triwulan I 2017 diperkirakan
kembali melanjutkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Bisa kita lihat dari perkiraan SBT triwulan I 2017 tercatat 55,17%, lebih tinggi dibandingkan SBT triwulan IV 2016 sebesar 46,50%,” tuturnya.

Wiwiek menjelaskan, kegiatan dunia usaha di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada triwulan IV 2016 diindikasikan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Hal ini tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (KPw BI Sulsel) yang menghasilkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 46,50%,lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 29,09%.

Peningkatan kegiatan usaha terutama didorong oleh peningkatan pada lapangan usaha pertanian (SBT 27,29%), disebabkan oleh masih adanya panen di sentra pertanian seperti Gowa, Soppeng, dan Sidrap.

Lapangan usaha lain yang mengalami peningkatan adalah pengangkutan dan komunikasi (SBT 2,77%) disebabkan oleh peningkatan aktivitas masyarakat di akhir tahun (seperti liburan sekolah, serta perayaan natal dan tahun baru), dan lapangan usaha industri pengolahan (SBT 1,45%) yang didorong oleh peningkatan industri semen yang tumbuh 17,36% (qtq) dan tepung terigu yang tumbuh 8,25% (qtq).

Sejalan dengan meningkatnya pengeluaran Pemerintah daerah menjelang akhir tahun dan terkait dengan libur natal/tahun baru.
Sejalan dengan hasil SKDU, lapangan usaha perdagangan di triwulan IV 2016 juga diindikasikan mengalami peningkatan.

Hal itu ditunjukkan oleh Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan oleh KPw BI Sulsel dengan hasil rata-rata Indeks Penjualan Rill (IPR) pada triwulan IV 2016 naik 1,29 poin (1,03% qtq) menjadi 126,5.

Peningkatan penjualan eceran terutama terjadi pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang tumbuh 0,15% (qtq), setelah pada triwulan sebelumnyakontraksi -3,50% (qtq), serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 1,47% (qtq), setelah pada triwulan sebelumnya kontraksi -0,45% (qtq).

Dia menambahkan, Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) merupakan survei triwulanan yang dilaksanakan sejak triwulan III 2010 terhadap perusahaan yang tersebar di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan dipilih secara purpossive sampling.

Sejak triwulan I 2015 jumlah responden meningkat menjadi 125 perusahaan dari sebelumnya 110 perusahaan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan atau pengisian kuesioner langsung oleh responden.

Metode perhitungan dilakukan dengan metode Saldo Bersih (SB-net balance), yakni dengan menghitung selisih antara persentase jumlah responden yang memberikan jawaban “meningkat” dengan persentase jumlah responden yang memberikan jawaban “menurun” dan mengabaikan jawaban “sama”.

Khusus penghitungan saldo bersih kegiatan usaha, harga jual dan penggunaan tenaga kerja dilakukan dengan metode Saldo Bersih Tertimbang (SBT-weighted net balance) yang diperoleh dari hasil perkalian saldo bersih lapangan usaha atau sublapangan usaha dengan bobot lapangan usaha ekonomi yang bersangkutan sebagai penimbangnya. (nda/suk)

UPEKS

loading...
Click to comment
To Top