Kusnali: Kami Tujuh Kali Gagalkan Sabu ke Lapas – FAJAR sulsel
News

Kusnali: Kami Tujuh Kali Gagalkan Sabu ke Lapas

* Lapas Terindikasi Terlibat Jaringan Narkoba

PALOPO — Komjen Budi Waseso (Buwas) mengungkap lembaga pemasyarakatan (Lapas) terindikasi terlibat jaringan narkoba internasional. Tak ada nama Lapas yang dibeber.

Hal inilah yang bikin kepala lapas Palopo agak penasaran. Sebab, sudah tujuh kali anggotanya gagalkan sabu ke lembaga pemasyarakatan Palopo.

Tapi, mungkin namanya masih dikantongi Buwas. ”Saya tidak bisa membenarkan juga tidak bisa menyangkal. Karena informasi adanya 32 lapas yang diduga terindikasi terlibat jaringan narkoba masih di Buwas. Menteri Hukum dan Ham saja belum menerima,” tandas Kusnali, kepala Lapas Palopo, kepada Palopo Pos, Kamis 9 Februari 2017.

Informasi yang diterimanya, Menteri Hukum dan Ham akan meminta data tersebut kepada BNN. Mana lapas yang menjadi sarang narkoba. Sehingga menteri dapat mengambil langkah.

“Soal apa langkah yang akan diambil, kami di daerah kurang paham,” sebutnya.
Kusnali juga mengatakan, soal imbauan waspada peredaran narkoba di dalam lapas sudah lama diwarning.

“Kami di daerah sudah berusaha semaksimal mungkin. Untuk Lapas Klas IIA Palopo, kami sudah delapan kali berhasil menggagalkan penyelundupan sabu ke dalam lapas,” sebutnya.

Bahkan, untuk mensterilkan lapas dari peredaran narkoba, siapapun yang masuk ke dalam lokasi blok tahanan dan napi, tidak boleh membawa handphone. “Kita memperketat pengamanan di ruang portir. Termasuk melaksanakan razia dadakan yang jadwalnya tiba-tiba,” ujar Kusnali.

Makanya itu, dia juga berharap agar BNN menyerahkan data 32 lapas yang terindikasi. Agar, kurang lebih 600 lapas diseluruh Indonesia tidak rusak nama baiknya.

“Saat ini, menteri belum tahu data-datanya. Mana saja dari 32 lapas yang disebutkan terindikasi. Kan kalau sudah ada datanya, Menteri bisa mengambil langkah dan tidak meraba-raba,” tandasnya.

Ia kembali mengulkas motif sabu ke lapas. Katanya, disembunyikan di bungkus mie instan dua kali, di dalam bungkus nasi goreng, digulungan rambu, di pembungkus rokok, dan di dalam handphone berbentuk jam tangan.

Sementara itu, Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly mengakui upaya pemberantasan peredaran narkotika di lembaga pemasyarakatan (lapas) tidak mudah karena melibatkan nilai transaksi dan jaringan yang besar.

“Sebenarnya memang sudah ada beberapa penurunan dari beberapa operasi-oprasi, tapi tidak mudah nampaknya karena ini menyangkut uang yang sangat besar, jaringan yang besar,” ujar Yasonna, menyikapi temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang menyebut adanya pengendalian bisnis narkoba di dalam lapas.

Kepala BNN Komjen Budi Waseso sebelumnya memang mengungkap temuan 72 jaringan narkoba internasional yang bergerak di Indonesia dan memanfaatkan para narapidana di 22 lembaga pemasyarakatan. Data BNN menunjukkan jumlah lapas terindikasi terlibat jaringan narkoba bertambah menjadi 35.

Yasonna mengaku malu atas temuan BNN tersebut dan ia pun menegur langsung pejabat eselon II yang tupoksinya terkait dengan masalah narkoba di lapas. Bahkan mantan anggota DPR Fraksi PDIP ini mengaku sudah banyak memecat kepala lapas yang ikut berandil dalam peredaran narkotika.

“Saya sanksi. Saya sudah memecat terlalu banyak orang juga. Satu lagi turunin pangkat. Saya tadi pengarahan kepada seluruh eselon II, saya bilang ini memalukan, enggak boleh lagi. Saya sudah katakan kalau ada kejadian seperti ini, ambil tindakannya berjenjang dua ke atas. Jadi kalau kalapasnya (terkena kasus), ya dua ke atas kakanwil kena,” tegasnya.

Untuk mencegah semakin merajalelanya narkoba di lapas, Yasonna meminta dilakukan pengetatan terhadap tamu yang akan membesuk. Kemenkumham pun kerap meminta agar BNN ikut kerjasama memantau peredaran narkoba di lapas.

“Mulai bulan dua kita sudah rapat kerja khusus soal ini. Itu sebabnya saya berharap BNN atau polisi yang punya jaringan langsung beri tahu sama kita,” tandas Yasonna.(ara/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top