Hizbut Tahrir Tolak Sertifikasi Khatib – FAJAR sulsel
News

Hizbut Tahrir Tolak Sertifikasi Khatib

* Aksi Damai di Palopo

PALOPO — Aksi long march yang dilancarkan Hizbut Tahrir Indonesia berlangsung aman dan lancar di Kota Palopo. Penyampaian aspirasi yang bertepatan dengan aksi 112 melibatkan 70 orang. Aksi mereka ini lebih fokus ke wacana sertifikasi khatib dan pendataan ulama. Mereka menolak kegiatan yang dianggap memasung dan menciderai umat Islam.

Aksi mereka dimulai pukul 16:30 Wita. Aksi long march ini dimulai dari halaman Masjid Agung. Pria dan wanita dipisah. Mereka berjalan berbaris dua. Aksi ini dikoordinatori oleh Musafir Al Mubarok, mahasiswa dari IAIN Palopo. Tampak juga dua orang anggota Satlantas Polres Palopo melakukan pengawalan.

Sambil jalan kaki, orasi secara bergantian dilakukan di atas mobil open cup. Ada juga spanduk bertuliskan ‘Tolak Sertifikasi Ulama dan Khatib, Upaya Memasung Islam’.

Pengunjuk rasa menegaskan bahwa sertifikasi khatib dan pendataan ulama secara syar’i hukumnya haram. Makanya itu, mereka menolak keras wacana sertifikasi ulama yang jelas-jelas melecehkan, mengkerdilkan dan memasung Islam. Khususnya para ulama.
“Ini menciderai perasaan umat Islam. Kami menolak kriminalisasi terhadap ulama,” ucapnya.

Usai aksi, Ketua Dewan Perwakilan Dakwah (DPD) Kota Palopo, Ridho Widodo yang dimintai keterangannya oleh Palopo Pos, mengatakan, aksi ini tidak ada kaitannya dengan aksi 112. Ini fokus masalah wacana sertifikasi ulama dan khatib.

Aksi ini dilakukan menyusul wacana dari Menteri Agama yang akan melakukan sertifikasi khatib dan ulama. “Yang kami lihat, upaya sertifikasi ini nantinya akan dijadikan oleh penguasa sebagai stempel pembenaran yang dilakukan oleh penguasa. Ulama yang disertifikasi dijadikan alat,” kata Ridho.

Padahal, kata dia, tugas khatib adalah menyampaikan kabar gembira apabila penguasa melakukan hal yang benar. Dan menyampaikan peringatan kepada penguasa yang melakukan kezhaliman. “Ulama ini sebagai penyampai nasehat dan peringatan kepada penguasa,” sebutnya.

Sebab, menurut dia, yang namanya penguasa tidak selalu benar. Makanya, tugas dari ulama adalah meluruskan dengan memberikan nasehat. “Sertifikasi ini tidak sesuai dengan keinginan kita. Karena tugas khatib dalam Islam kewajibannya untuk menasehati penguasa,” ujarnya.

Tujuan dari aksi tersebut, menurut Ridho adalah untuk menyadarkan umat Islam. “Wacana ini harus ditolak karena menciderai peran ulama sebagai penasehat. Kedua, posisi ulama harus tetap dihargai. Ulama bertugas memberikan nasehat kepada penguasa,” tandasnya.(ara/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top