Sulsel Prioritaskan 10 Komoditi Unggulan – FAJAR sulsel
News

Sulsel Prioritaskan 10 Komoditi Unggulan

MAKASSAR,UPEKS.co.id — Dinas Perkebunan Sulsel terus berupaya meningkatkan produksi sepuluh komoditi unggulan. Kesepuluh komoditi itu yakni kakao, kelapa, kopi, cengkeh, sawit, lada, pala, jambu mete, tebu (gula), dan tembakau.

Kepala Dinas Perkebunan Sulsel, Firdaus Hasan, menjelaskan, sepanjang 2017 ini pihaknya menargetkan produksi kakao sebanyak 276.000 ton, kelapa 82.342 ton, kopi 40.560 ton, cengkeh 17.650 ton, dan sawit 44.265 ton. Sedangkan, produksi lada ditargetkan 6.425 ton, pala 530 ton, jambu mete 22.150 ton, tebu (gula) 36.120 ton, dan tembakau 2.555 ton.

“Luas areal tanaman perkebunan kita sekarang sekitar 690.283 hektare, 95% diantaranya atau sekitar 656.067 hektare merupakan perkebunan rakyat. Sisanya adalah perkebunan besar swasta dan negara,” jelasnya, di Kantor Gubernur, Senin (13/2/17).

Firdaus menjelaskan, ada beberapa persoalan yang dihadapi dalam peningkatan produksi komoditi perkebunan. Antara lain, produksi, produktifitas dan mutu hasil yang rendah, belum semua bahan tanaman yang ditanam petani direkomendasikan oleh pemerintah atau tidak disertifikasi, adanya serangan hama dan penyakit, tanaman sudah tua dan rusak, anomali iklim, hingga penerapan GAP, GMP, dan HACCP yang kurang diperhatikan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dinas Perkebunan telah menyiapkan beberapa strategi, mulai dari hulu hingga ke hilir. Di sektor off farm hulu misalnya, ada pembangunan kebun sumber benih dan entrys yang bersertifikat dan pembangunan teknologi perbenihan.

Selanjutnya, dilakukan peningkatan produksi dan produktifitas melalui intensifikasi, ekstensifikasi, peremajaan, rehabilitasi, optimalisasi, dan diversifikasi. Dilakukan pula pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan penerapan Good Agriculture Practies (GAP).

“Kami juga berupaya meningkatkan mutu hasil, promosi dan pemasaran, serta penerapan Good Manufacturing Practies (GMP), dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Sedangkan untuk penunjang, kami lakukan pengawalan pengembangan kelembagaan usaha, SDM, dan permodalan, hingga peningkatan kualitas dan kuantitas sarana prasarana,” katanya.

Selain pengembangan sepuluh komoditi unggulan tersebut, tambah Firdaus, ada pula integrasi jagung di lahan perkebunan. Targetnya, 75.100 hektare dengan sasaran luas panen 71.345 hektare dan sasaran produksi 3.210.525 ton.

Khusus upaya mewujudkan swasembada gula, Kepala Bidang Tanaman Semusim Dinas Perkebunan, Basrul G, menjelaskan, tahun 2017 hingga 2020, pemerintah memang berusaha mewujudkan swasembada gula. Strategi yang dilakukan, adalah bagaimana mengoptimalkan lahan perkebunan pabrik gula yang ada, karena itu juga belum dioptimalkan. Kemudian juga lahan perkebunan tebu rakyat.

“Kalau perlu, kita melakukan perluasan di kabupaten lain yang dekat dengan pabrik gula. Seperti Sinjai, Gowa dan Jeneponto. Ada rencana juga ekspansi ke kabupaten lain,” jelasnya.

Selain itu, dilakukan budi daya tebu sesuai dengan teknisnya. Terutama dalam hal waktu tanam. “Kalau dulu ditanam di awal musim hujan, sekarang tanam di musim kemarau. Sehingga pada saat tanam nanti, 11 hingga 12 bulan kemudian kembali kena musim kemarau sehingga rendemennya bisa optimal,” jelasnya.

Untuk itu, menurut dia, dukungan pusat sangat dibutuhkan dari sisi penyediaan sarana pengolahan hasil seperti traktor, dozer, alat panen dan lainnya. Sharing petani kita menyiapkan dana untuk perawatan, tebang angkut, pengolahan tanah melalui dana perbankan dan dana KUR.

“Saat ini, produksi tebu rata-rata per Ha sekitar 5-6 ton. Itu jauh dari ideal. Di Jawa dengan rendemen yang lebih tinggi dengan rendemen sampai 10 bisa sampai 10 ton per Ha,” ujarnya.

Untuk mencapai target swasembada, akan diupayakan penambahan luas areal tanam hingga mencapai 6.000 hingga 7.000 Ha tebu rakyat. Saat ini, ada sekitar 3.800 Ha.

“Rendemen yang kita capai saat ini, khususnya di Pabrik Gula Camming sampai 7,8% mendekati delapan, sementara Pabrik Gula Takalar kisaran 6 persen saja rendemennya. Tahun 2020 diharapkan produksi gula Sulsel mencapai 100-120 ribu ton. Untuk pemenuhan konsumsi gula di Sulsel, Insya Allah, itu bisa terpenuhi jika kita capai luasan lahan penanaman tebu,” pungkasnya.(eky/rif)

UPEKS

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top