Melaut, Nelayan Ponjalae Hilang – FAJAR sulsel
News

Melaut, Nelayan Ponjalae Hilang

* Pencarian ke Tengah Teluk Bone Hingga Tadi Malam

PALOPO — Duka menyelimuti keluarga di Sulawesi Tenggara. Seorang anggota keluarganya mengalami naas di perairan teluk Bone. Saat melaut, nelayan yang tinggal Ponjalae dilaporkan hilang, Rabu 15 Februari 2017, kemarin.

Tidak ada firasat buruk. Seperti biasanya. Akbar, 20 tahun, nama korbannya. Ia yang diketahui masih lajang pergi melaut pukul 05:00 Wita, dini hari. Ia bersama 9 orang temannya. Mereka naik perahu. Perahu diarahkan ke tengah laut. Harapannya supaya pulang bawa ikan sebanyak-banyaknya. Jarum jam menunjuk pukul 13:00 Wita, mereka masih di tengah laut.

Akbar yang ikut sama sepupunya mengalami nasib apes. Saat buang air besar di tengah laut, Akbar jatuh ke laut dan hingga kini belum ditemukan.

Teman-temannya yang bersamanya panik karena Akbar tak kunjung muncul di permukaan laut. Untuk itu, temannya langsung memutuskan untuk memutar haluan kapalnya untuk memberikan informasi kepada keluarganya di darat. Saat itu, juga para nelayan ikut mencari namun tak kunjung menemukannya. Apalagi ombak saat itu cukup besar.

”Kami baru dapat kabar sekitar jam stengah dua siang. Kabar duka itu datang dari teman-temannya,” ucap Syukur, salah seorang kerabat korban, kepada Palopo Pos, malam tadi.

Kata dia, Akbar baru lima hari kerja sebagai nelayan. Di Palopo, kata dia, korban tinggal di rumah bosnya. Namanya, Mukhsin alias bapak Lea, warga Jalan Andi Tadda.

Keluarga korban sudah tahu kabar buruk yang menimpa Akbar. Mereka sedang dalam perjalanan dari Tenggara ke Palopo. ”Sabar saja. Ini sudah takdir Tuhan,” tambah Syukur.

Malam tadi, rumah Mukhsin tampak ramai. Tetangga dan teman-teman korban berdatangan ke kediaman juragan ikan tersebut. Maklum, korban selama ini, tinggal di rumah bosnya tersebut.

Nasir, warga Jalan Andi Tadda, salah seorang kerabat dekatnya, mengungkapkan, ia baru menerima kabar sekitar pukul 11:30 Wita. Korban hilang sekitar pukul 9 pagi. ”Ia katanya mau buang air bersar. Namun, tidak muncul setelah beberapa lama,” tuturnya.

“Saya duga saat korban buang air, ada yang menariknya dari bawa laut. Mungkin penunggunya yang sudah haus darah dan lapar daging. Karena memang sudah 2 tahun belakangan tidak dilakukan ritual maccera tasi,” ujarnya.

Lanjut dia, temannya yang sementara mencari ikan baru sadar ketika semua kru dipanggil dan hanya korban yang tidak ada. Di situ baru disadari bahwa ia hilang dan tidak muncul-muncul lagi.

Maka, semua kru berusaha mencari tapi tidak ada hasil. Hingga mereka memutuskan untuk kembali ke darat untuk mengabari para nelayan lainnya untuk meminta bantuan.

Setalah kembali ke darat dan memberitahu para nelayan lainnya, sekitar 10 kapal gae atau sekitar 100 orang yang melakukan pencarian hingga menjelang magrib. Tetap tidak menemukan korban dan akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian.

“Rencananya besok (hari ini, red) baru akan kembali dilakukan pencarian ulang. Kemungkinan pagi-pagi sekali para nelayan lainnya akan berangkat melakukan pencarian,” paparnya.

Menurut Nasir, korban itu orangnya sabar dan jika ada masalah pasti akan dibicarakan. “Saat tahu korban hilang perasaan saya sedih karena sudah menganggap dia keluarga saya sendiri,” ucapnya.
Korban memang sudah lama di Palopo.

Sekitar 1 tahun sudah kerja sebagai nelayan. Namun, baru kerja dengan bosnya yang sekarang karena dulunya ia kerja di kapal lainnya. Kemudian ia juga tinggal di rumah bosnya selama ia bekerja.

“Setelah saya tahu kabar korban hilang langsung saya kabari keluarganya di Tenggara. Mereka kaget mendengar kabar itu. Dan rencananya mereka sudah akan berangkat ke sini,” katanya.

Korban dari Desa Tolala, Sulawesi Tenggara. Saat melaut, ia bersama dengan 11 kru kapal lainnya, termasuk satu bosnya

Sementara itu, Camat Wara Timur, Baso Aznur, saat dihubungi Palopo Pos, mengatakan, laporan yang masuk kepadanya pukul 13:00 Wita. Saat itu juga dirinya langsung menuju ke Pelabuhan Tanjung Ringgit. Di sana sudah banyak nelayan serta keluarganya.

Juga ada tim dari kepolisian, TNI serta bhabinkantibmas. Setelah melakukan pencarian, hingga menjelang magrib tim menghentikan dan memutuskan untuk melanjutkan besok (hari ini, red).

”Karena cuaca tidak mendukung maka pencarian dilanjutkan besok (hari ini, red). Apalagi hujan,” jelas Baso.
Namun, para nelayan sampai tadi malam, masih melakukan pencarian ke tengah laut teluk Bone. Namun, saat melihat cuaca buruk, mereka balik lagi.

”Teman-teman Bakri yang juga para nelayan tetap memutuskan untuk melakukan pencarian, meski cuaca sangat tidak mendukung. Mereka berharap Bakri cepat diketemukan,” sebutnya.

Hingga saat ini, pihaknya masih tetap berkoordinasi dengan pihak kelurahan serta keluarga korban.

BMKG Ingatkan Waspada Melaut

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Luwu Raya, beberapa waktu lalu, sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini. BMKG menyebutkan, berdasarkan pantauan beberapa hari belakangan ini, kecepatan angin di wilayah Luwu Raya sangat tinggi.

Dimana dua hari belakangan ini kecepatan angin melebihi 2 hingga 18 knot. Selain kecepatan angin juga tinggi gelombang mencapai 0,75 meter hingga 2 meter.

Prakirawan, Ahmad menyebutkan, tinggi gelombang di teluk Bone bagian utara mencapai 0,75 meter hingga 1 meter. Sedangkan tinggi gelombang di Teluk Bone bagian selatan mencapai 1,5 meter hingga 2 meter.

”Tinggi gelombang di perairan Teluk Bone memang cukup tinggi belakangan ini. Yang paling tinggi itu di wilayah bagian selatan. Dan tinggi gelombang bisa diperkirakan lebih tinggi lagi. Apalagi curah hujan belakangan ini cukup tinggi,” sebut Ahmad.

Saat ini, sebut Ahmad, BMKG mengeluarkan peringatan dini kepada seluruh nelayan di Luwu Raya agar berhati-hati jika ingin melaut.

Dan jika melihat cuaca akan buruk, maka tak usah melaut dulu, karena bisa jadi gelombang air laut akan semakin tinggi dan kemungkinan besar akan menggulung perahu nelayan yang berada di tengah laut.

”Lebih baik jangan melaut dulu jika melihat cuaca buruk. Karena sebelum gelombang air laut naik, akan disertai dengan awan hitam yang lebat, lalu disertai angin kencang dan saat itu gelombang air laut akan semakin tinggi. Tentu saja ini membahayakan jiwa para nelayan yang sedang berada di laut,” jelas Ahmad.(rp1-rhm/ary)

PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top