HMI Minta Polres Bertanggunjawab Atas Kematian Warga Tibona – FAJAR sulsel
News

HMI Minta Polres Bertanggunjawab Atas Kematian Warga Tibona

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Adanya keganjalan, atas kematian, Alm Syamsuddin, Warga Tibona, Kecamatan Bulukumba. Membuat sejumlah pihak tergerak untuk mencari fakta atas dugaan kematian yang tidak wajar. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bulukumba, mendesak agar Polres Bulukumba, bertanggunjawab atas kematian Alm Syamsuddin.

Ketua HMI Bulukumba, Rakhmat Fajar, kepada Radar Selatan, mengatakan kalau kasus kematian warga Tibona, tersebut harus diungkap. Pasalnya, berdasarkan hasil pertemuan dan keterangan sejumlah keluarga almarhum, termasuk melihat langsung kondisi mayat, terdapat banyak keganjalan ditubuh Alm Syamsuddin, bahkan riwayat penyakit yang disebutkan polisi, harus di uji kebenarannya, karena selama ini Alm Syamsuddin dalam kondisi sehat.

“Saya sudah ketemu sama keluarga Alm Syamsuddin dan keluarga dekatnya. Yang bersangkutan ini tidak ada riwayat sakitnya, seperti stress. Cuma memang, Alm Syamsuddin mengalami ganguan komunikasi pasca kecelakaan beberapa tahun lalu, jadi kadang kalau bicara tidak jelas,”ujarnya.

Selain itu, Fajar menjelaskan, kalau pihaknya tidak ingin berdebat apakah Alm Syamsuddin, berstatus pelaku ataupun saksi. Bahkan sekalipun Alm Syamsuddin, merupakan pelaku seperti yang dituduhkan kepadanya, maka tidak ada hak bagi siapapun termasuk polisi untuk melakukan intimidasi apalagi sampai melakukan kekerasan terhadap korban hingga berujung maut. Sehingga hal yang harus dilakukan Polres Bulukumba, mengungkap siapa dalang dari dugaan penganiayaan terhadap Alm Syamsuddin.

“Kasian kalau tahanan diperlakukan begitu. Hewan saja kita miris lihatnya, apalagi manusia. Kondisi Pak Syamsuddin ini, dari keterangan keluarganya sehat sebelum diamankan polisi. Yah memang kematian itu sudah takdir, tapi kita harus tau juga, apa penyebabnya, jadi saya minta melalui Pak Kapolres, tolong buka dengan terang ini kasus, jangan ada yang dilindungi,”tegasnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga meyayangkan keterangan pihak kepolisan yang menyebutkan kalau Alm Syamsuddin meninggal lantaran stres dan akhirnya bunuh diri dengan cara membenturkan kepala ke tembok, termasuk adanya pengakuan Alm Syamsuddin, yang mengakui dirinya adalah pelaku dari pemerkosaan anaknya sendiri, dinilai pihaknya butuh pertanggunjawaban kepolisan.

“Ini banyak keganjalan juga, kalau dikatakan bunuh diri, dimana polisi saat itu?. Kalau membenturkan kepala, bagaimana dengan luka disejumlah tubuhnya. Kemudian kalau almarhum sendiri mengakui dia yang melakukan ke anaknya sendiri, inipun masih dipertanyakan lagi, karena almarhum ini mengalami ganguan komunikasi, dia tidak normal kalau bicara, “ujarnya.

Fajar menambahkan, dari kasus yang dialami Almarhum Syamsuddin, pihaknya menilai kalau masih ada polisi yang tidak paham aturan sebagai penegak hukum termasuk tak menjamin Hak asasi dan hak kontitusional setiap warga. Padahal, dalam mengimlementasikan hak konstitusional, polisi harusnya menggunakan hak praduga tidak bersalah, sehingga polisi bertugas menjamin hak perlindungan, hak rasa aman, dan hak bebas dari penyiksaan.

“Polisi harus baca aturan juga hak setiap orang itu dijamin dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Kedudukan setiap individu yang tersangkut hukum juga dilindungi haknya dalam UU No 4 tahun 2004. Bahkan dari kasus ini, kami menduga oknum polisi di Polres Bulukumba, sudah melanggar UU Nomor 31 tahun 2014 atas perubahan UU No 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban. Intinya secara tegas kami meminta Polres bertanggunjawab atas kematian Alm Syamsuddin,”pungkasnya.

Sementara itu, Humas Polda Sulselbar, Kombes Pol Dicky Sondani, mentakan kalau pelaku kemungkinan stres atas kasus yang dialami. “Sehingga menyiksa diri dengan membenturkan kepala ke dinding. Intinya tidak ada penganiayaan yang dilakukan polisi,”tegasnya.

LANJUT RADAR SELATAN

loading...
Click to comment
To Top