Selamatkan Generasi Muda! Fenomena Isap Lem di Bone Memprihatinkan – FAJAR sulsel
News

Selamatkan Generasi Muda! Fenomena Isap Lem di Bone Memprihatinkan

PENULIS : ASKAR SYAM – HERMAN – ADRY

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Tindakan penyalahgunaan lem atau isap lem (ngelem) menjadi trend di kalangan remaja di daerah ini. Angka pengguna lem terus bertambah, namun sejauh ini belum ada solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.

Fenomena isap lem merambah anak di Bumi Arung Palakka sejak awal 2010 silam.
Berdasarkan pengakuan dari para pelaku isap lem yang tertangkap beberapa waktu lalu, isap lem pertama kali diperkenalkan oleh sekelompok pemuda yang mengatas namakan dirinya anak punk yang berasal dari luar Bone.Kumpulan pemuda ini transit di daerah ini saat hendak menyeberang ke Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Karena sering singgah dan menginap di Kabupaten Bone, akhirnya kelompok ini kenal dengan dan berinteraksi dengan pemuda setempat. Bahkan, kumpulan pemuda ini sempat menetap dan menjadi pengamen di Bone.

“Awalnya kami memang tidak ada teman di Bone. Karena sering lambat dapat kapal di Pelabuhan Bajoe akhirnya tinggal sementara di Bone,” Radit (19) pengguna isap lem asal Konawe, Kolaka saat diamankan di Mapolsek Tanete Riattang, beberapa waktu lalu.

Radit mengaku, awal mula dia mengisap lem di Kota Makassar waktu mengamen bersama rekannya sesama anak punk.

“Dulu di Makassar waktu pertama ikut-ikutan sampai sekarang sudah susah berhenti,” tambahnya.
Pelaku isap lem lainnya yang merupakan warga Bone, IS (16) mengakui dirinya pertama kali mengisap lem semasa satu kost dengan pemuda yang menamakan diri anak punk.

“Saya dulunya sekolah di SMP, setelah sering sama-sama teman ini (anak punk). Saya berhenti sekolah dan sudah jarang memang tinggal di rumah,” cerita IS kepada RADAR BONE.

Warga Kelurahan Panyula ini mengaku, ingin hidup bebas. Ia tak betah di rumah karena tekanan orangtua.
“Kalau di rumah banyak peraturan di larang keluar malam. Selama tinggal sama teman-teman sudah bebas, kadang saya pulang kalau dipanggil orangtua ke empang,” tambahnya.

Pengalaman serupa diungkapkan MR (16), pecandu isap lem lainnya. MR mengakui sejak sejak tamat SD, ia memilih berhenti sekolah kemudian ikut bersama kerabatnya menjadi butuh bangunan.

“Saya kerja buruh kalau siang, setiap malam baru kumpul sama teman. Kalau isap lem sering, hanya saja saya tidak mau jadi pengamen makanya cukup kerja di bangunan saja,” paparnya.
MR mengaku orangtuanya tidak mengetahui aktivitasnya selama berada di luar rumah, termasuk bergaul dengan kelompok pecandu isap lem. “Jangankan isap lem, Merokok saja tidak, kalau di rumah,” tambahnya.
MR mengakui sesungguhnya ia ingin berhenti menjadi pecandu isap lem. Namun sudah terlanjur ketagihan dan sulit untuk keluar dari lingkungan pergaulan komunitas pecandu isap lem..

“Mau berhenti tapi tidak bisa tinggalkan teman. Selama masih sama-sama pasti isap lem. Rasanya lem itu langsung serasa menusuk ke kepala dan bikin pusing kalau diisap,” bebernya.

Aktivitas mengisap lem biayanya lebih murah, dan barang gampang diperoleh.
Mereka mengaku mendapatkan lem dari sejumlah toko bahan bangunan. Bahkan, tak jarang pemilik toko memberikan plastik sebagai wadah isap lem.

“Kadang kalau sudah langganan pemilik toko, setiap beli lem kita dikasi plastik,” jelasnya.
Praktisi Sosial, Rahman Arif mengatakan fenomena ini harus disikapi secara serius oleh pemerintah dan elemen masyarakat lainnya.

Keprihatinan ini disampaikan Arif setelah melihat kian merajalelanya pecandu isap lem.
“Cukup prihatin dengan fenomena maraknya penyalahgunaan lem di kalangan anak-anak usia sekolah. Hal ini harus disikapi semua elemen, karena mengancam jiwa dan masa depan mereka. Marilah, pada moment Kebangkitan Nasional ini kita bergerak bersama. Selamatkan generasi kita dari fenomena isap lem,” ungkapnya.
Tindakan ngelem tersebut lanjut dia, tidak bisa dianggap sepele. Apalagi efek penyalahgunaan lem ini dapat merusak mental dan kesehatan anak tersebut. “Kondisi ini dapat menjadi awal perbuatan menyimpang dan gangguan sosial lainnya,” ujarnya.

Apalagi, sambung Rahman, para pecandu isap lem tersebut adalah generasi muda, penerus bangsa yang akan menentukan masa depan bangsa ini kelak. Akademi, Yusdar turut prihatin maraknya anak usia sekolah yang menjadi pecandu lem.

Ibarat virus, penyalahgunaan pemakaian lem ini sangat cepat perkembangannya terutama remaja. Tidak hanya di kota, tetapi hingga ke desa-desa. Sangat mengkhawatirkan. Jika ada remaja sedang memasukkan salah satu tangannya ke dalam baju, serta mendekatkannya ke hidung, berarti anak tersebut sedang mengisap lem.
“Ini harus menjadi perhatian kita semua. Terutama pihak terkait, agar melakukan pemantauan terhadap peredaran lem dan obat-obat daftar G di warung-warung. Pemilik toko bahan bangunan atau warung-warung, harus diwarning untuk tidak asal menjual lem kepada anak di bawah umur,” tegasnya.

Penelusuran yang dilakukan RADAR BONE, tak sulit untuk mendapatkan jenis lem yang dikonsumsi pecandu isap lem tersebut. Lem dimaksud bermerek Fox. Lem ini sesungguhnya kegunaannya untuk merekatkan bahan-bahan kulit, kayu, karet (busa), HPL, Vinyl, packing mesin dan lain-lain, namun disalahgunakan dengan cara dihirup atau diisap untuk mendapatkan sensasi mabuk. Jenis lem yang banyak dikonsumsi pecandu isap lem dikemas dalam bentuk kaleng berukuran 70 gram. Lem ini dibanderol Rp10 ribu per kaleng. Tak jarang pemilik toko sudah menyiapkan dengan wadahnya berupa plastik bening. Beberapa toko yang diduga kuat menyediakan lem lengkap dengan wadah plastiknya, yakni terletak di Jl Masjid, Jl Gunung Jaya Wijaya, Jl Agussalim dan Kawasan Eks Pasar Sentral Watampone.

LANJUT RADAR BONE

loading...
Click to comment
To Top