Cerita di Balik Petualangan Sadis ‘Kolor Ijo’ Penusuk Alat Kelamin (1) – FAJAR sulsel
News

Cerita di Balik Petualangan Sadis ‘Kolor Ijo’ Penusuk Alat Kelamin (1)

Semua Berawal dari Perempuan Selingkuhan Asal Rantepao

TIDAK banyak orang yang tahu cerita petualangan Iqbal alias Bala, 34 tahun. Bagaiamana ketika terjadi perubahan drastis pada ‘kolor ijo’. Berikut pengakuan terpidana mati yang dikemukakan Khaerul, SH, MH, ketua PN Malili kepada Hastiara Hasan, wartawan Palopo Pos.

IQBAL alias Balla, terpidana mati penusuk alat vital telah ditembak mati, Kamis 18 Mei 2017, lalu. Ia telah dikebumikan di kampung asalnya, Desa Sindu Agung, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sabtu 20 Mei 2017. Pukul 13:00 Wita, jenazah Iqbal dikebumikan di pekuburan Islam.

Kembali ke cerita awalnya. Ani, nama itu sering disebut-sebut Iqbal alias kolor ijo saat menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Malili, beberapa waktu lalu. Kata Iqbal, semua perbuatan sadisnya, berawal dari penghianatan wanita simpanannya.

Sabtu 20 Mei 2017, kemarin, seorang pria muda ditemui Palopo Pos. Usianya baru 37 tahun, penampilannya cukup santai. Sekilas, seperti dosen muda atau pegawai bank. Namun, siapa sangka, pria bernama lengkap Khairul, SH MH, merupakan ketua PN Malili. Putra daerah asal Barru inilah yang menjatuhkan hukuman mati terhadap Iqbal alias kolor ijo.

Pertemuan singkat kemarin, Palopo Pos, mengorek informasi dari alumni terbaik Fakultas Hukum UNHAS Tahun 2001 ini. Tentu yang dibahas proses persidangan Iqbal Alias Bala Alias Kolor Ijo, 34 tahun, warga Dusun Kampung Baru, Desa Sidu Agung, Kecamatan Kalena, Kabupaten Luwu Timur.

“Dia (Iqbal, red) adalah sosok lelaki yang polos. Tidak macam-macam juga pendiam. Sikapnya tenang selama persidangan dan mengakui perbuatannya. Hanya memang, ada kesan aneh pada dirinya. Saya melihat dendam dari sorot matanya,” kata pria kelahiran Monokwari November 1979 ini mengawali keterangannya.

Menurut suami dari Raden Nurhayati SH MH ini, hari itu, tanggal 12 April 2016. Di ruang sidang Laga Ligo PN Malili, masuklah pria dengan tinggi 160 cm. Pria tersebut dikawal polisi.

Di ruang sidang, sudah ada majelis hakim diketuai Khairul SH MH, didampingi Andi Muhammad Ishak dan Mahyudin SH. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Lutim, A Thirta Massaguni sudah menunggu.

Dengan tenang, pria yang dijuluki kolor ijo ini duduk di kursi terdakwa. Dalam persidangan, Iqbal didampingi pengacara bernama Agus Melaz SH.
Hari itu, Iqbal pertama kali menjalani persidangan.

Dia duduk menghadap majelis hakim. Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan itu, hanya disaksikan oleh beberapa orang saja.

Hanya saja, ada yang ganjil di awal-awal sidang ini. Entah apa yang ada di benak Iqbal. Dalam posisi duduk, kedua tangannya dikepal.

Posisi jempol tangan dimasukkan kedalam kepalan. Mulutnya mulai komat-kamit. “Berhenti komat-kamit dan lepas genggamanmu,” tegur Khairul saat memimpin persidangan.

Teguran itu membuat Iqbal kaget. Perlahan, dia berhenti komat-kamit. Demikian juga kepalan tangannya, perlahan dia buka. Karena bertingkah ganjil, di awal-awal sidang sempat panas. Namun, akhirnya kembali adem.

Sidang berlangsung sesuai agenda sidang. Mulai dari pembacaan dakwaan, pemeriksaan saksi, pemeriksaan terdakwa, tuntutan, pembelaan, hingga putusan.
Di ruang sidang Laga Ligo PN Malili, kisah di balik petualangan sadisnya sebagai kolor ijo dibeber.

Di depan hakim, Iqbal bercerita. Dia dulunya seorang petani yang rajin. Hidup bersama istri dan dua anaknya. Satu anak kandung, dan satu lagi anak dari suami pertama istrinya. Dibanding istrinya, usia Iqbal memang jauh lebih muda.

Hari-harinya, diisi dengan bertani. Dia mengurusi tanaman yang ada di kebun. Kebunnya berada di dalam hutan Kalaena. Kurang lebih satu jam perjalanan dari rumah menuju kebun.

Suatu hari, sekitar awal tahun 2014 lalu, Iqbal iseng-iseng mengutak-atik nomor yang ada di handphonenya. Tiba-tiba, nomor acak yang dihubungi terhubung dengan nomor seorang wanita. Melalui seluler itu, Iqbal berkenalan dengan pemilik nomor acak.

Ani — nama itu diperkenalkan kepada Iqbal. Ani mengaku berasal dari Toraja. Kurang lebih tiga bulan saling chating lewat udara. Dua insan ini sepakat bertemu. Kota Rantepao dipilih menjadi tempat pertemuan pertama mereka.

Kali pertama bertemu, rupanya Iqbal benar-benar jatuh hati pada perempuan tersebut. Bahkan, dia tak segan-segan mengirim pulsa.

“Iqbal juga memberikan uang dan emas kepada wanita ini,” ujar Khairul mengisahkan pengakuan Iqbal saat sidang.

Terlanjur cinta, mereka berjanji akan menikah. Bahkan, Ani mengaku bersedia kawin lari dengan Iqbal jika tidak dapat restu dari orangtuanya.

Di saat-saat mesra seperti itu, Ani meminjam uang sebanyak Rp2 juta kepada Iqbal. Alasan wanita itu, untuk dipakai menebus emas yang digadaikan.

Sayangnya, setelah uang diberi. Tiba-tiba Ani menghilang entah kemana. Kabarnya sudah tak terdengar. Nomornya pun sudah tak aktif. Iqbal menjadi panik. Merasa tertipu dan dihianati, Iqbal akhirnya patah hati.

Setelah kepergian Ani, Iqbal sering berdiam diri dan melamun. Paling sering melamun ketika ia berada di dalam kebun.

Dia sering melamun di bawah pohon beringin besar yang terkenal angker. Lantaran sering melamun di bawah pohon besar, Iqbal sering mendengar bisikan-biskan ghaib.

Makin hari, bisikan itu makin jelas. Suara bisikan itu terdengar seperti suara kakek-kakek. Bisikan yang didengar Iqbal menyuruhnya pulang ke rumah. Iqbal pun nurut dan pulang ke rumahnya.

Tiba di rumah, pria yang hanya menempuh pendidikan hingga SD ini sedikit terhibur. Istrinya melayaninya dengan baik. Makanan dan minuman disiapkan.

Di rumah, Iqbal kebiasaan memberi makan ikan yang ada di kolam belakang rumahnya. Setelah itu, dia duduk-duduk hingga menjelang magrib. Tidak hanya kolam ikan, di belakang rumahnya juga tumbuh pohon kersen yang konon katanya angker.

Kendati berada di rumah, Iqbal masih saja mendengar bisikan-bisikan di telinganya. Bisikan yang didengarnya, menyuruhnya untuk balas dendam kepada perempuan. Caranya, menusuk kemaluan wanita itu dengan pisau. Di situlah awal petaka kolor ijo dimulai. (bersambung/ary)

LANJUT PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top