Alat Vital Korban Dilukai Pakai Pisau Dapur Istri – FAJAR sulsel
News

Alat Vital Korban Dilukai Pakai Pisau Dapur Istri

ANI hilang bak ditelan bumi. Memang, hanya perempuan asal Rantepai ini yang melukai hatinya. Entah kemana harus mencarinya. Sasaran sakit hatinya pun diluapkan kepada perempuan tak berdosa. Aksinya, dimulai 27 Juli 2014. Hanya bermodalkan motor, pisau, dan senter. Satu per satu korban berjatuhan. Sasarannya, alat vital.

LAPORAN: HASTIARA HASAN

KETUA Pengadilan Negeri (PN) Malili, Khairul SH MH, mengatakan, dalam persidangan, Iqbal alias Balla dengan tenang dan lancar menceritakan cara dia melukai korbannya. Bahkan, saat disuruh mempraktekkannya, Iqbal tak keberatan.

INILAH benda tajam yang digunakan Iqbal saat melukai para korbannya. Tampak juga saat Iqbal memeragakan cara dia memasuki rumah korbannya. –ist-palopopos–

Dia menirukan cara membuka pintu dan melukai korbannya. Yang digunakan hanya pisau dapur dan senter. Semua dilakukan sesuai perintah bisikan.

Di persidangan, ada tiga pisau jadi barang bukti. Pisau pertama ukuran panjang 17 cm, lebar 3 cm, dan tebal 3 mm. Lalu, pisau ukuran panjang 16 cm, lebar 3 cm dan tebal 3 mm. Dua pisau ini gagangnya terbuat dari bambu. Lalu, pisau ukuran panjang 14 cm, lebar 3 cm dan tebal 1 mm, gagangnya terbuat dari plastik.

“Semua korban dilukai di bagian alat vital. Ada yang masuk. Namun, ada juga yang hanya di bagian pinggir saja. Rata-rata korban baru menyadari setelah merasakan nyeri dan melihat darah segar di bagian vital tersebut. Darah yang keluar menurut para saksi seperti wanita yang keguguran,” kata Khairul.

Korban berjatuhan. Luka di bagian alat vital cukup parah ada juga yang ringan. “Ada satu korban yang meninggal setelah ditusuk. Ada juga yang rahimnya harus diangkat karena mengalami pendarahan hebat,” tambahnya.

Wanita inisial AN, meninggal setelah dilukai. Wanita ini meninggal tanggal 30 Oktober 2015. Sehari sebelumnya, tepatnya Kamis 29 Oktober 2015, pukul 20:30 Wita, di Dusun Mangkulande, Desa Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana.

Wanita ini tidur bersama suaminya. Tiba-tiba, Iqbal datang dan langsung menusukkan pisau ke bagian vital korban. Sehari dirawat di rumah sakit, korban menghembuskan napas terakhir.

Fakta persidangan, petaka bagi kaum hawa ini terjadi 27 Juli 2014 di Dusun Campae, Desa Bawalipu, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur (Lutim). Saat itu, usai magrib, ada bisikan ghaib.

Iqbal merasakan pandangan gelap dan melihat orang lewat seperti roh. Ia pun bergegas. Dia mengambil pisau dan senter. Kunci motor juga diraih. Dia keluar rumah memakai baju kebun, celana pendek dan tidak menggunakan sandal. Dia menuju rumah korbannya mengendarai sepeda motor Suzuki Smash warna hitam.

Di persidangan, ada tiga pisau jadi barang bukti. Pisau itulah yang disebut-sebut digunakan Iqbal saat beraksi. Salah satu pisau adalah milik istrinya. Pisau itu biasa dipakai istrinya di dapur mengolah bahan makanan. Iqbal berhenti di salah satu rumah sesuai petunjuk bisikan.

Masih diarahkan bisikan, Iqbal duduk memata-matai rumah yang menjadi sasarannya. Dia baru bergerak setelah ada bisikan susulan. Rata-rata rumah yang dimasuki Iqbal adalah rumah yang pintunya hanya dikunci pakai palang kayu. Maksudnya, kunci pintu rumah yang terbuat dari kayu yang dipaku.

Masih dipengaruhi bisikan, ia membuka palang kayu pintu rumah korban. Caranya sederhana. Cukup memasukkan pisau ke selah-selah pintu lalu mendorong kunci kayu itu ke atas atau ke bawah.

Diakui Iqbal saat persidangan, cukup mudah membuka pintu-pintu tersebut. Bahkan ada, pintu hanya didorong pelan, eh sudah terbuka. Meski menimbulkan suara, tetapi keberadaannya tetap saja tak diketahui. Setelah mematikan lampu. Dia kemudian masuk ke dalam kamar.

Perlahan, didekatinya seorang perempuan yang saat itu tidur disamping suaminya. Pisau yang dibawa sejak tadi langsung ditusukkan ke organ vital inisial TE.
Masih di malam yang sama, Iqbal lalu menuju rumah kebun.

Korbannya kali ini inisial SU, warga Dusun Lengkong, Desa Bawalipu, Kecamatan Wotu, Luwu Timur. Itu sekitar pukul 03:00 Wita. SU saat itu tidur bersama suami dan anaknya yang masih berusia 2 tahun. Dalam keadaan gelap, SU merasa ada yang meraba-raba perutnya. SU kemudian bertanya pada suaminya, tetapi tak ada jawaban. Suaminya tertidur pulas.

Penasaran, tiba-tiba SU memegang tangan yang meraba-raba perutnya. Tangan itu besar. Di saat itulah, Iqbal langsung menusukkan pisau ke arah organ vital korban. Tusukan itu mengenai pinggir organ vital korban tembus sampai ke pinggul. Darah segar mengalir. Akibat luka tersebut, korban harus dirawat selama empat hari di rumah sakit.

Kamis 11 Desember 2014, pukul 03:00 Wita, korban kali ini inisial HA, warga Dusun Temboe, Desa Burau, Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur. Korban mengalami pendarahan hebat di bagian organ vital. Lalu, terjadi lagi Sabtu 23 Mei 2015 sekira pukul 04:00 Wita di Dusun Lengkong, Desa Bawalipu, Kecamatan Wotu. Korban inisial HE.

HE tidur bersama balitanya. Iqbal masuk ke dalam kamar setelah memadamkan lampu. Ketika berdiri di samping tempat tidur. Korban melihat ada tangan masuk ke dalam kelambu dan langsung menusuk pahanya. Spontan korban memegang tangan Iqbal hanya saja terlepas.

Malam selanjutnya, Selasa 23 Juni 2015, pukul 22:00 Wita di Dusun Muktisari, Desa Tarengge, Kecamatan Wotu. Korbannya insial Yu. Esoknya, Rabu 24 Juni 2015, pukul 03:00 Wita di Dusun Roda, Desa Tarengge, Kecamatan Wotu, korban inisial MA juga mengalami luka di bagian organ vital.

Senin 20 Juli 2015, pukul 03:00 Wita, di Dusun Kawarasan I, Kelurahan Tomoni. Anak korban inisial ME mengangis. Ia pun bangun menyusui anaknya itu. Tiba-tiba ia merasakan organ vitalnya ditusuk. Spontan korban histeris dan langsung membangunkan suaminya.

Di bulan Agustus 2016, tepatnya di tanggal 18. Itu sekitar pukul 02:00 Wita. Kali ini, Iqbal menuju Dusun Jompi, Desa Lauwo, Kecamatan Burau. Dia berhasil melukai organ vital seorang wanita insial NA. Padahal, saat itu, NA tidur bersama suami dan anaknya.

Terjadi lagi pada Jumat 9 Oktober 2015 di Dusun Bone Pute, Kecamatan Burau. Korbannya ada dua, di rumah berbeda. Setelah melukai korban yang satu, Iqbal menuju rumah korban lainnya. Inisialnya SI.

SI tidur bersama anaknya. Sedangkan suaminya tidur di kamar berbeda. Sekitar pukul 02:00 Wita, SI merasa ada yang menyentuh paha kirinya. Karena gelap, pikiran SI saat itu, mungkin anaknya.

Dia kemudian merubah posisi dari menyamping menjadi terlentang. Melihat itu, Iqbal lalu merobek sarung yang dikenakan korban dengan pisau dan langsung menusukkan pisau itu ke arah organ vital korban.

Lalu, sekitar pukul 03:00 Wita, Iqbal berpindah ke rumah korban HU. Wanita ini juga tidur bersama anaknya. Namun tiba-tiba, ia merasakan ada yang aneh.

HU pun terbangun dan langsung menuju pintu belakang rumahnya untuk memeriksa organ vitalnya. Di situlah korban melihat darah segar mengalir.

Karena tak kuasa menahan sakit di bagian perut, HU berguling-guling di atas rumput sambil memegang perutnya. Demikian teror kolor ijo yang dilakukan iqbal pada malam-malam berikutnya.

“Menurut pengakuan Iqbal korbannya antara 30 hingga 40 orang. Tetapi, yang melapor hanya 23 orang. Di antara korban tersebut, satu orang meninggal dunia setelah ditusuk organ vitalnya. Satu lagi harus diangkat rahimnya setelah menjalani operasi sebanyak tiga kali,” kata Khairul.

Dari hasil pemeriksaan di persidangan, modus yang dilakukan Iqbal sama. “Dia memasuki rumah yang pintunya hanya ditutup pakai palang kayu. Dan rata-rata pintu bagian belakang yang dikunci pakai kayu. Pernah dia gagal, karena rumah yang akan dia masuki dikunci pakai anak kunci,” sebutnya.

Modus kedua, lanjut Khairul, aksinya berjalan mulus ketika memasuki rumah yang pintu kamarnya hanya dibatasi kain horden. Dia juga pernah gagal, karena pintu kamar rumah korbannya terkunci. Tentunya, kuncinya bukan dari kayu.

Modus ketiga, sebelum masuk ke rumah korban, Iqbal mematikan saklar atau lampu. “Rata-rata korbannya mengaku baru sadar ketika dia merasakan nyeri. Dan setelah lampu dinyalakan, mereka baru melihat darah segar. Rata-rata korban saat dilukai tidur bersama suami dan anaknya,” ucapnya.

Di persidangan, Iqbal mengaku. Kata dia, sebenarnya dia sudah ada di dalam kamar. Dia melihat apa yang dilakukan oleh korban dan suaminya. Tetapi, orang yang ada di dalam kamar tidak melihat dirinya.

Setelah melakukan aksi sadisnya, Iqbal mengaku pergi meninggalkan rumah itu dengan santai. “Pernah juga dia mengaku berpapasan dengan orang di rumah itu, tetapi orang di rumah itu seperti tidak melihat dirinya,” ucapnya lagi.

Selesai menjalankan aksi sadisnya, Iqbal pun pulang. Dia mengendarai motor yang diparkirnya tidak jauh dari rumah korban.

Setiba di rumah, pisau yang ada sarungnya disimpan di atas lemari. Sedangkan pisau yang lain dikembalikan di dalam dapur untuk digunakan kembali oleh istrinya.

Kejadian demi kejadian, membuat masyarakat di Kabupaten Luwu Timur resah. Khususnya kaum hawa. Bahkan kabar gangguan kolor ijo menggaung hingga ke Kota Palopo. Apalagi, dalam satu malam, terkadang hingga tiga orang yang dilukai. Mereka menjadi was-was.

Kabarnya di kota Palopo juga terjadi. Tetapi Iqbal mengaku hanya melakukan perbuatan sadis itu di Burau, Wotu, dan Mangkutana. Pihak kepolisian pun dibuat pusing. Karena yang beredar adalah kabar kebrutalan kolor ijo yang dianggap hal ghaib.

Hingga suatu hari, Iqbal mengambil 1 unit handphone Nokia dari salah satu rumah korbannya. Handphone yang dicurinya itu lalu dijual kepada Ridwan yang tinggal di Dusun Lopi, Desa Panca Karsa, Kecamatan Mangkutana. Tepatnya Rabu 11 Nopember 2015.

Menurut Ridwan, Iqbal datang menemuinya dan menawarkan 1 unit handphone merek Nokia seharga Rp200 ribu. Ternyata, pemilik handphone masih menyimpan kardus handphone tersebut. Nomor ime yang ada di hanphone itu kemudian dicari.

Alhasil, ketemu. Ridwan diperiksa oleh pihak kepolisian. Kepada polisi, Ridwan mengaku membeli handphone itu dari Iqbal. Nah, disinilah petualangan sadis kolor ijo terbongkar.

Polisi kemudian mencari Iqbal dan menangkapnya. Di kantor polisi, Iqbal diinterogasi. Akhirnya, dia pun mengakui perbuatan sadisnya. Iqbal akhirnya diproses hukum hingga didudukkan di kursi pesakitan PN Malili.

“Dia tertangkap karena teknologi,” ucap Khairul. (bersambung/ary)

LANJUT PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top