Pengusaha Catering Teledor – FAJAR sulsel
News

Pengusaha Catering Teledor

* Polisi Masih Dalami Kasus Keracunan yang Menimpa 28 Jemaat GKST

MALILI — Polres Lutim masih mendalami kasus keracunan massal di Angkona. Berbagai bukti dikumpul. Termasuk bahan kue donat dan pawa dibawa ke lab.

Diduga beberapa jenis bahannya sudah kadaluarsa. Nyatanya, tetap digunakan. Di sini, pengusaha catering yang bisa saja teledor sebagai manusia biasa.

Barang bukti yang diamankan dari tiga lokasi telah dibawa ke lab di Makassar. Barang bukti yang dimaksud berupa kue donat dan pawa, adonan dan bubuk powder dari rumah pengusaha catering tersebut. Polisi juga mengambil sampel muntah para korban dari Puskesmas Angkona.

”Masih tahap penyelidikan. Kami masih menunggu hasil lab dari Makassar,” ujar Kapolres Lutim, AKBP Parojahan Simanjuntak, melalui Kasat Reskrimnya, Iptu Akbar Andi Malloroang, kepada Palopo Pos, Senin 22 Mei 2017, kemarin.

Seperti diberitakan edisi Senin 22 Mei 2017, kemarin, awalnya ibadah 56 orang jemaat Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) berjalan lancar dan khidmat. Usai beribadah, tuan rumah kemudian menjamu jemaat dengan makanan roti pawa dan donat.

Sayangnya, 28 orang jemaat GKST Moria di Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur, mendadak diserang mual, sakit perut, dan pusing, Sabtu 20 Mei 2017, sore, lalu.

Kegiatan ibadah berlangsung di tiga lokasi yang berbeda. Dua tempat bersamaan ibadahnya, yakni pukul 17:30 Wita. Ada juga berlangsung pukul 18:00 Wita. Kue donat dan pawa yang dibawa ke tiga lokasi tersebut sumbernya sama. Dari pengusaha catering bernama Suhaini alias Mama Naila, 31.

Kue pertama didrop ke rumah Yohanis Bomba, 52 tahun. Jumlahnya 30 buah. 20 orang jemaat yang tergabung di kelompok 1 melaksanakan ibadah. Kemudian rumah Salmon Pangala, 35 tahun. Jumlah kue yang didrop ke sini 100 buah.

Terdiri dari 40 kue pawa dan 60 donat. 20 orang jemaat yang tergabung dalam kelompok II. Kemudian kelompok III di kediaman Alisman, 35 tahun. Jumlah kue 70 buah. 16 orang jemaat melaksanakan ibadahnya secara khusyuk.

Sampai saat ini, kata kasat, belum ada korban keracunan yang melaporkan kejadian yang menimpanya ke kantor polisi. ”Tapi, kami tetap akan dalami kasus ini,” paparnya.

Kata dia, resep banking powder pada donat diduga sudah kadaluarsa. Sebab, kata dia, berdasarkan informasi dari pemilik catering bahannya sudah tinggal kurang lebih satu tahun. Makanya, pengusaha catering dinilai polisi sedikit teledor.

Kata kasat, selain 28 orang jemaat GKST, pemilik usaha catering kue, yakni Suhaini, 31 tahun, yang merupakan sumber musibah tersebut, turut pula menjadi korban keracunan makanan.

Olehnya itu, ia tetap akan melakukan penyelidikan terkait kasus ini. ”Nanti dilihat apakah diduga kelalaian atau bagaimana nantinya,” lanjut Akbar.

Sementara itu, Norma, ibu kandung Suhaini mengakui bahwa bubuk powder yang digunakan anaknya (Suhaini, red) untuk mencampur kue pesanan jemaat diperkirakan dibeli setahun yang lalu dan disimpan di dalam toples. Ia juga melayangkan permohonan maaf atas kondisi tersebut.

”Karena terus terang anak saya juga ikut merasakan apa yang warga rasakan. Ia juga ikut keracunan,” ujar Norma.(mg10/ary)

LANJUT PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top