Lari dari Kematian Malah Menjemput Kematian – FAJAR sulsel
News

Lari dari Kematian Malah Menjemput Kematian

* Cerita di Balik Petualangan Sadis ‘Kolor Ijo’ saat Sidang(habis)

SIDANGNYA berlangsung selama empat bulan lebih. Iqbal alias Balla populer dengan sebutan ‘kolor ijo’. Di awal-awal sidang, Iqbal terlihat tenang-tenang saja.

Tetapi, ketika para korbannya memberikan keterangan, dia tertunduk juga. Detik-detik jatuh vonis, Iqbal sempat berbisik di telinga hakim. Kata dia, ‘saya rela dihukum apa saja asal jangan mati’.

JAKSA Penuntut Umum (JPU) Kejari Luwu Timur menuntut ‘kolor ijo’ dengan hukuman mati. Bagai disambar petir, tuntutan itu membuatnya lunglai. Ada perasaan takut yang begitu hebat.

Dalam ketakutannya itu, hakim Khairul SH MH memanggilnya mendekat ke maja majelis hakim. “Dia ngak banyak ngomong. Akhirnya saya suruh dia berbisik,” ucap Ketua Pengadilan Negeri (PN) Malili, Khairul SH MH.

Mata Iqbal dan hakim Khairul beradu.
Perlahan Iqbal mendekatkan wajahnya. Dia pun berbisik, ”…saya rela dihukum apa saja asal jangan mati…”. Khairul mengatakan, selama persidangan, di akhir-akhir sidanglah, ia baru melihat mata Iqbal berkaca-kaca.

Rabu 24 Agustus 2016, majelis hakim diketuai Khairul SH MH didampingi Andi Muhammad Ishak dan Mahyudin SH membacakan putusan perkara Nomor:37/PID.B/2016/PN.Mll sebanyak 122 halaman. Iqbal dinyatakan terbukti melanggar pasal berlapis. Diantaranya, Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Karena ada satu korban meninggal dunia.

Pasal lainnya adalah Pasal 80 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 80 Ayat (2) Jo Pasal 76C Undang-Undang RI No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas undang-udangan Nomor 23 Tahun 2012 tentang perlindungan Anak Jo pasal 65 Ayat (1) KUHP. Pasal ini juga dianggap terbukti karena ada korban yang masih di bawah umur.

Pasal 354 Ayat (1) KUHP tentang penganiayaan juga terbukti. Selanjutnya, Pasal 363 Ayat (1) ke-3 dan 4 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan juga terbukti. 1 unit handphone merek Nokia jadi bukti, serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan.

“Menusuk menggunakan pisau ke alat kelamin perempuan yang menyebabkan kematian dan luka berat bagi korbannya, itu merupakan tindakan sadis. Ini juga menimbulkan trauma bagi korban,” kata Khairul.

Fakta persidangan, korbannya 23 orang. Tetapi Iqbal mengaku antara 30 sampai 40 orang. Menurut hakim, ini kejahatan luar biasa serius terhadap nilai kemanusiaan. Apalagi tak ada maaf dari korban dan keluarga korban.

“Bismillahirrahmanirrahim dan innalillahi wainnailaihi rojiun menjatuhkan pidana mati kepada Iqbal,” ucap Khairul menirukan kata-katanya saat persidangan lalu.

Iqbal sempat banding di Pengadilan Tinggi (PT). Hasilnya, Iqbal dijatuhi hukuman seumur hidup. Namun, jaksa kembali kasasi. Hasilnya, Mahkamah Agung (MA) menguatkan putusan PN Malili, yaitu vonis mati untuk Iqbal.

Beberapa bulan mendekam di Lapas Masamba, Iqbal kemudian dikirim ke Lapas Klas I Makassar. Di sana, ia ditempatkan di Blok A.1 Kamar 10.

Saat-saat menunggu eksekusi dari Kejaksaan Agung, Iqbal memilih kabur dari benteng Lapas Makassar. Dia kabur bersama dua napi terpidana seumur hidup.
Sebelumnya, mereka merusak ventilasi kamar yang terbuat dari besi dengan cara digergaji.

Lalu melompat turun melalui selokan. Di luar dinding lapas, mereka menumpangi truk yang menuju Palopo. Mereka kabur Minggu 7 Mei 2017 sekira pukul 02:00 Wita.

Polda langsung membentuk tim khusus pencarian. Dipililah Kanit Jatanras Polrestabes Makassar, AKP Edy Sabhara Manggabarani memimpin perburuan itu. Perintah tembak ditempat pun menggaung. Itu apabila napi tersebut melawan dan membahayakan petugas.

Salah seorang napi, teman sekamar Iqbal di lapas bercerita kepada petugas, bahwa Iqbal dendam dengan empat orang.

Orang yang dimaksud adalah polisi yang sering memukulinya, hakim dan jaksa yang menjatuhkan hukuman mati, juga pengacaranya. Empat orang inilah yang katanya dicari.

Seminggu kemudian, Rizal Sangaji, teman pelarian Iqbal ditangkap oleh Anggota Brimob Satgas II Ops Tinombala, di Jl Tranz Sulawesi di Desa Gayatri, Poso Pesisir Utara pada Minggu 14 Mei 2017. Dari pria inilah, petugas mengorek informasi. Katanya, Iqbal berada di dalam hutan.

Di Mangkutana, petugas mencurigai seorang warga bernama Pili. Ternyata, Pili tahu keberadaan Iqbal. Bahkan membantunya menyiapkan peralatan tenda dan alat dapur.

Selasa 17 Mei 2017, Pili mengantar petugas ke tempat persembunyian Iqbal di dalam hutan. Lokasinya berada di kawasan hutan Mangkutana.

Sayangnya, Iqbal berhasil kabur. Padahal, dia diberondong peluru. Hari itu, dia tak ditemukan petugas. Esoknya, Rabu 18 Mei 2017 sekitar pukul 14:30 Wita, petugas melanjutkan pencarian.

Lokasinya sudah melewati perbatasan. Hutan tersebut masuk Desa Pendolo, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulteng. Sudah dekat dari danau Poso. Kemudian 12 kilometer dari perbatasan Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur.

Informasi dari petugas, Iqbal melakukan perlawanan. Satu bilah parang jadi bukti. Karena melawan petugas, Iqbal dibidik di bagian dada. Kisah si kolor ijo pun berakhir mengenaskan. Ada 12 timah panas bersarang ditubuhnya. Dua dibagian dada, dan 10 bekas tembakan di bagian punggung hingga bokong.

“Dia sangat takut dengan kematian, makanya lari. Bukannya menjauh dari kematian, pelariannya itu malah mendekatkannya dengan kematian. Dia menjemput kematiannya sendiri,” tandas Khairul. (*/ary)

LANJUT PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top