Pengusaha Katering Calon Tersangka – FAJAR sulsel
News

Pengusaha Katering Calon Tersangka

* LBH: Masuk Kategori Kelalaian, Polres Lutim Menunggu Hasil Lab

PALOPO — Kasus dugaan keracunan yang menimpa 28 orang jemaat GKST bisa masuk kategori kelalaian. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Luwu Timur mendukung langkah kepolisian mengusut kasus tersebut.

Polres sendiri masih menunggu hasil lab dari Makassar. Sepertinya pengusaha katering berpeluang tersangka.

Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kabupaten Luwu Timur, Agus Melaz, SH, MH, menilai, sumber persoalan keracunan makanan berasal dari roti pawa dan donat. Kue ini diolah di usaha katering milik Suhaini alias Mama Naila, 31 tahun.

Dari sudut pandang Agus pembuat kue donat dan pawa bisa dijerat pasal kelalaian. Karena kelalaiannya menyebabkan orang lain menderita penyakit.

Ini diatur di Pasal 360. ”Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebahkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah”. Ada tiga pasal yang mengatur kelalaian. Pasal 359, 360, dan 361. Namun, LBH melihat kelihatannya lebih pas kalau dijerat dengan pasal 360.

Karena, kata dia, korban di Angkona diduga keracunan setelah mengkonsumsi roti pawa dan donat. 28 orang jemaat GKST terserang penyakit sakit perut, mual, dan kepala pusing.

”Pemilik usaha katering nantinya berpeluang ditersangkakan,” ucap sekretaris LBH Luwu Timur, kepada Palopo Pos.

Dijelaskannya, bahan kue yang digunakan pemilik usaha katering tidak diteliti dengan cermat. Padahal, kuat dugaan, kalau bahan yang digunakan sudah kadaluarsa. ”Itu sudah masuk dalam kategori lalai,” katanya.

Lanjut Agus Melaz, lalai itu ketika dia lupa mengecek semua campuran makanannya. ”Sekali lagi, kasus itu murni kelalaian,” tandasnya.

Kata dia, penyelidik pasti menelusuri dan mempertanyakan siapa yang buat kue tersebut. Ketika itu dijual tentu dipertanyakan pula siapa yang menjualkan, apa ada keuntungan dari situ.

Disinggung pembuat kue tersebut turut pula menjadi korban, Agus mengatakan, ada dua kategori yang kena. Bisa korban dan pelaku. ”Jadi kalau saya menilai itu murni kelalaian,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, awalnya ibadah 56 orang jemaat Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) berjalan lancar dan khidmat.

Usai beribadah, tuan rumah kemudian menjamu jemaat dengan makanan roti pawa dan donat.

Sayang, 28 orang jemaat GKST Moria di Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur, mendadak diserang mual, sakit perut, dan pusing, Sabtu 20 Mei 2017, sore, lalu.

Kegiatan ibadah berlangsung di tiga lokasi yang berbeda. Dua tempat bersamaan ibadahnya, yakni pukul 17:30 Wita.

Ada juga berlangsung pukul 18:00 Wita. Kue donat dan pawa yang dibawa ke tiga lokasi tersebut sumbernya sama. Dari pengusaha katering bernama Suhaini alias Mama Naila, 31.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Luwu Timur, Iptu Akbar Andi Malloroang, yang dihubungi Palopo Pos, Selasa 23 Mei 2017, kemarin, menjelaskan, untuk membuktikan tersangka kasus keracunan massal tersebut, ia masih menunggu hasil laboratorium yang sudah diberikan kepada ahlinya.

Akan tetapi, hal ini masih dalam tahap penyelidikan. ”Kita tunggu saja kelanjutannya,” ungkapnya.

BAGAIMANA KONDISI KORBAN

Sejumlah korban yang mengalami sakit perut, mual, dan pusing, sudah membaik. Bahkan, tak ada lagi yang menjalani perawatan medis di Puskesmas Angkona.

Menurut Jumardi, kepala PKM Angkona, semua korban keracunan makanan sudah sehat dan tidak lagi menjalai perawatan medis.

Waktu kejadian Sabtu 20 Mei 2017, lalu, hanya empat orang menjalani rawat inap.

Namun, tak berlangsung lama. Karena, esok harinya, para korban sudah pulih dan langsung balik ke rumahnya masing-masing.(mg10/ary)

LANJUT PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top