Di SMAN 1 Belopa, Orangtua Siswa Merasa Dipersulit – FAJAR sulsel
News

Di SMAN 1 Belopa, Orangtua Siswa Merasa Dipersulit

BELOPA — Sejumlah daerah di Sulsel mulai mengeluhkan sistem penerimaan siswa baru. Sejumlah orang tua siswa mengeluh. Putra putrinya yang didaftar di sekolah favorit langsung ditolak karena tidak masuk kriteria.

Seperti pemandangan yang terjadi di SMAN 1 Belopa. Kemarin, para orang tua merasa dipersulit dengan aturan yang terkesan tidak masuk akal.

Irawan, lulusan SMPN 1 Belopa kecewa berat. Pasalnya, hanya karena alasan jarak tempuh dan tidak memiliki KIS (Kartu Indonesia Sehat), dirinya ditolak alias tidak diakomodir untuk mendaftar PSB di sekolah tersebut.

“Untuk mendaftar saya dimintai kartu KIS, na saya tidak punya kodong pak. Saya heran, masa hanya karena tidak punya KIS saya harus ditolak,” ungkap Irawan.

Keluhan ribetnya PSB di SMAN 1 Belopa juga dikeluhkan orang tua siswa atas nama Esse, 40 tahun. Ia mengaku sangat kecewa dengan penolakan pihak sekolah sehingga anaknya tak diakomodir.

“Saya tonji miskin saya tonji ditolak anakku. Hanya karena jarak tempuh dan tak ada kartu KIS, heranka, jadi bagaimana mi nasib anakku kodong pak,” ratap Esse.

Bukan hanya Esse yang bingung dengan sistem PSB di SMAN 1 Belopa, tetapi masih ada puluhan orang tua siswa yang mengalami hal serupa, dan mereka mengatakan pihak manajemen SMAN 1 Belopa berlindung di balik juknis yang dikeluarkan dinas provinsi Sulsel.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Belopa, Drs Nurdin Muin M.Pd, yang dikonfirmasi mengakui, ribetnya aturan PSB di lingkungan sekolahnya, dimana aturan itu merupakan regulasi dari provinsi dan pusat.

“Aturan sudah berubah, saat penerimaan siswa baru seperti ini para siswa yang mendaftar harus diperhadapkan pada empat pilihan jalur pendaftaran. Ada berdasarkan letak domisili jarak sekolah dengan rumah, ada jalur prestasi non akademik, ada jalur akademik, dan jalur kemitraan,” tutur Nurdin Muin.

Namun, penjelasan Nurdin Muin ini malah membingungkan orang tua siswa baru dan mereka tidak menerimanya. Pasalnya aturan-aturan tersebut kurang diterima secara akal sehat dan bahkan justru membuat bingung dan terkesan mempersulit masyarakat agar putra putrinya dapat diakomodir di sekolah tersebut.

“Banyak pak orang tua siswa yang masuk kategori kurang mampu, tetapi mereka tidak menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS). Nah kalau sudah miskin lantas dipersulit untuk bersekolah, mau jadi apa generasi muda ini,” kata salah seorang orang tua siswa yang ikut emosi.(and/ary)

LANJUT PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top